0%
2 min left

Yahoo! Messenger Jadi "Kantor Virtual" di Jakarta

Yahoo! Messenger Jadi "Kantor Virtual" di Jakarta
← Kembali ke Blog

Pagi ini saya log in YM jam 9, langsung 3 jendela chat terbuka: satu dengan klien di Surabaya soal revisi banner, satu dengan supervisor di Bandung soal deadline, satu lagi dengan teman kantor sebelah meja — yang sebenarnya bisa diteriakin, tapi entah kenapa lewat YM jadi terasa lebih sopan.

Selama 4 jam berikutnya, semua koordinasi proyek saya kerjakan tanpa angkat telepon sama sekali. Tanpa kirim email. Tanpa rapat. Semua di YM. Klien kirim file PSD lewat Yahoo Briefcase, link-nya saya buka langsung, revisi saya commit, link baru saya kirim balik. Selesai.

Beberapa tahun lalu, koordinasi kerja seperti ini butuh telepon kantor, fax, atau ngirim CD lewat kurir. Sekarang semuanya bisa lewat satu jendela kecil yang nempel di pojok bawah layar saya. YM jadi "kantor virtual" tanpa siapapun mengumumkan-nya.

Yang menarik adalah perubahan etika-nya. Dulu saat saya pertama pakai YM, itu murni buat ngobrol-ngobrol dengan teman. Status saya pasang "Online" dan siap chat kasual. Kalau klien atau bos masuk, agak kagok. Sekarang, di YM saya ada di mode "Busy" dengan custom status "Working on Project XYZ — pls leave msg". Sopan. Sekaligus mengisyaratkan: silakan kontak, tapi mungkin saya tidak langsung balas.

YM jadi tempat kerja, tapi tetap menyimpan vibe teman-temanan. Itu yang saya rasa membuat-nya kuat. Tidak terlalu formal seperti email. Tidak terlalu informal seperti SMS. Pas di tengah.

Tapi ada beberapa hal yang membuat saya pikir, ini belum benar-benar siap jadi tools kerja jangka panjang.

Pertama, history-nya gampang hilang. Kalau YM crash atau saya log in dari komputer lain, chat history kemarin gone. Saya pernah kehilangan percakapan penting karena ini — terpaksa minta klien re-confirm spesifikasi yang sudah kita bahas seminggu lalu. Untuk komunikasi kerja, history itu kritikal.

Kedua, tidak ada konsep "channel" atau "grup permanen". Conference (group chat) di YM masih klunky. Sekali keluar, harus diundang ulang. Saya susah mengikuti diskusi tim secara struktural.

Ketiga, search-nya jelek. Mau cari percakapan "soal banner Surabaya" dua minggu lalu? Susah.

Saya jadi membayangkan ada tools yang gabungan: enak buat ngobrol kasual seperti YM, tapi history-nya tersimpan rapi, ada konsep grup permanen, dan search-nya cepat. Belum ada saya rasa. Mungkin nanti akan ada.

Sementara itu, kembali ke YM. Klien Surabaya tadi sudah approve banner. Sekarang saya ganti status jadi "Lunch — back at 14:00". Etika kantor virtual yang baru.

Komentar

Memuat komentar…