0%
3 min left

jQuery Akhirnya Memenangkan Browser — Selamat Tinggal Prototype.js

jQuery Akhirnya Memenangkan Browser — Selamat Tinggal Prototype.js
← Kembali ke Blog

Sebagai orang yang nulis JavaScript hampir setiap hari dua tahun terakhir, saya punya nostalgia dengan Prototype.js. Itu library JavaScript pertama yang membuat saya ngerasa bisa "ngomong dengan browser" tanpa pusing kompatibilitas IE vs Firefox. Ada Effects.js dari Scriptaculous yang nambahin animasi cantik. Untuk waktunya, itu game-changer.

Tapi minggu lalu, di project baru di kantor, saya install jQuery 1.3. Untuk pertama kali, saya tidak masukin Prototype.js sama sekali. Dan saya sadar: saya tidak akan balik lagi.

jQuery bukan sekadar library lain. Yang bikin dia menang, menurut saya, ada tiga hal.

Pertama, syntax-nya brilian. $('.kelas').click(). Sederhana sampai bisa dibaca seperti kalimat. Prototype dengan $$('.kelas').each(function() { ... }) lebih verbose. Kalau saya ajarin teman yang baru belajar JS, jQuery lebih mudah dipahami. Untuk web yang sedang demokratisasi (siapa saja bisa belajar coding via tutorial online), syntax yang gampang itu kunci.

Kedua, plugin ecosystem-nya meledak. Setahun terakhir, saya lihat ratusan jQuery plugin gratis — untuk slider, accordion, lightbox, form validation, autocomplete. Semua ready-to-use. Prototype/Scriptaculous punya beberapa, tapi tidak sebanyak ini. Network effect: makin banyak orang pakai jQuery, makin banyak plugin yang dibuat untuk jQuery, makin banyak orang pilih jQuery untuk project barunya.

Ketiga, dan ini yang paling penting: jQuery bekerja sempurna di IE6.

Saya tahu, di komunitas web design, IE6 adalah musuh. Banyak yang bilang "matinya IE6 sebentar lagi". Saya juga ingin itu terjadi. Tapi kenyataan di Indonesia: warnet, kantor BUMN, sekolah — masih banyak yang pakai IE6 (atau IE7 yang sedikit lebih baik). Kalau saya bikin web yang tidak jalan di IE6, sebagian besar pengguna Indonesia tidak bisa pakai. jQuery handle browser quirk ini diam-diam, di belakang layar. Saya tidak perlu mikir tentang detection IE vs Mozilla. Saya tinggal tulis kode-nya, jQuery jalan.

Prototype juga sebenarnya cross-browser, tapi codebase-nya lebih besar dan team mereka tidak as responsive dalam fix bug. Setahun terakhir saya rasa team Prototype kehilangan momentum, sementara John Resig (jQuery creator) plus team-nya aktif banget.

Apa yang ini ajarkan saya tentang open source dan tools developer? Kemenangan bukan soal "yang lebih dulu" atau "yang lebih powerful secara teknis". Kemenangan soal yang lebih mudah diadopsi, lebih responsif ke komunitas, dan punya jaringan plugin/ecosystem yang berkembang sendiri.

Pelajaran ini berlaku tidak hanya untuk library JavaScript. Saya rasa cerita yang mirip akan terjadi di banyak tempat: kerangka kerja, platform, dan bahkan produk consumer. Yang menang akan jadi yang punya komunitas paling aktif, bukan yang teknologi-nya paling canggih.

Sementara itu, file size-nya jauh lebih kecil dari Prototype + Scriptaculous gabungan. Halaman saya load lebih cepat. Klien senang. Saya senang. Selamat tinggal Prototype.js. Terima kasih untuk dua tahun yang baik.

Komentar

Memuat komentar…