Twitter Mulai Serius di Indonesia, dan Kenapa Ini Bukan Sekadar Tren
Bulan lalu saya bikin akun Twitter. Awalnya cuma penasaran — banyak teman yang nyebut soal Twitter di Facebook, jadi saya coba. Sebulan kemudian, saya sudah follow 80 orang, dan saya cek Twitter lebih sering daripada Facebook.
Yang membuat saya kaget bukan jumlah pengguna-nya. Di Indonesia, Twitter masih kecil dibanding Facebook. Tapi kualitas percakapannya beda. Di Facebook, status update isinya soal makan, jalan-jalan, foto bayi. Itu wajar — Facebook tempat keluarga dan teman dekat. Tapi di Twitter, satu jam lalu saya baca diskusi soal Pemilu yang akan datang. Lima menit lalu saya baca jurnalis Detik komentar soal kebijakan baru. Beberapa influencer politik yang biasanya cuma muncul di TV, ternyata aktif Twitter dan bisa di-reply langsung.
Saya rasa, Twitter di Indonesia sedang mengisi gap yang dulu tidak ada: ruang publik untuk diskusi cepat. Kompasiana ada, tapi formatnya artikel — lebih cocok buat opini panjang. Forum Kaskus ada, tapi anonim dan agak ngeri buat orang yang pakai nama asli. Facebook terlalu privat. Twitter ada di tengah: publik, cepat, ringkas, dan bisa diikuti tanpa harus jadi teman.
Pemilu Legislatif sebulan lagi (9 April). Saya curiga ini akan jadi "Twitter election" pertama di Indonesia. Bukan dalam arti Twitter yang menentukan hasilnya — tidak akan. Tapi cara liputan-nya, cara orang berbagi reaksi, cara meme politik beredar — semua akan beda dari Pemilu sebelumnya. Saya ingat Pemilu 2004 di mana semua orang nunggu hasil real count dari KPU lewat TV. Tahun ini, saya yakin banyak orang akan nunggu hasil quick count yang di-tweet oleh hitung-cepat-nya LSI atau yang lain.
Yang menarik buat saya sebagai pengamat web: format 140 karakter itu konstrain yang produktif. Orang yang nulis di Twitter belajar mengkompresi pikiran. Yang biasanya diomongin dalam paragraf panjang, dipaksa jadi satu kalimat. Ini latihan yang bagus untuk berpikir jernih.
Tapi konstrain ini juga punya sisi gelap. Nuansa hilang. Sarkasme susah ditangkap. Argumen kompleks terpenggal jadi tagline. Dan yang lebih bahaya: percakapan jadi gampang polarisasi karena tidak ada ruang untuk "ya, tapi..." atau "saya setuju sebagian".
Buat Indonesia yang lagi belajar berdemokrasi setelah Reformasi, Twitter bisa jadi tools yang baik atau senjata yang bahaya. Tergantung kita pakai bagaimana. Tergantung kita ajarin generasi setelah kita bagaimana baca tweet dengan kritis.
Saya rasa, saya akan terus di Twitter beberapa tahun ke depan. Bukan karena hype — tapi karena di sinilah orang Indonesia mulai belajar punya suara publik yang langsung, tanpa filter editor TV atau koran. Itu hal baru. Dan saya mau lihat ke mana ini akan pergi.

Komentar