0%
3 min left

Facebook-Cambridge Analytica — Apa yang Sosmed Lakukan dengan Data Kita

Facebook-Cambridge Analytica — Apa yang Sosmed Lakukan dengan Data Kita
← Kembali ke Blog

Minggu lalu skandal Facebook-Cambridge Analytica explode. Wall Street Journal dan The Guardian publish investigasi bersama: Cambridge Analytica, perusahaan analytics yang konsultasi untuk kampanye Trump 2016, dapat akses data 87 juta user Facebook tanpa consent eksplisit mereka.

Mekanisme-nya menarik: app quiz academic yang dipakai 270 ribu user collect data mereka — plus data semua "friends" mereka (per default Facebook policy waktu itu). 270 ribu × 100 friends = 87 juta. Itu data full profile, post history, likes, friend network. Itu di-feed ke algorithm Cambridge Analytica untuk build psychographic profile yang dipakai targeting iklan politik.

Setelah 2 tahun mengamati Trump pilpres dan polarisasi sosmed, ini puzzle piece yang terakhir. Saya akan jelaskan.

Pertama, ini bukan kasus isolated. Ini adalah business model.

Facebook membangun bisnis dengan janji "free service untuk user, monetisasi via iklan". Tapi untuk monetize iklan dengan efektif, mereka collect data sebanyak mungkin tentang setiap user — preferences, friends, location, browsing, perilaku. Data itu di-sell ke advertiser via targeting capabilities. Iklan jadi sangat efisien — dan iklan politik jadi senjata yang lebih powerful dari sebelumnya.

Cambridge Analytica hanya satu di antara ribuan vendor yang access data Facebook. Saya prediksi: dalam beberapa minggu ke depan, akan ada banyak revelations serupa. Banyak perusahaan analytics yang akses data dengan terms yang abu-abu, lalu pakai untuk targeting yang ekstrem.

Kedua, kita semua complicit. Saya menggunakan Facebook bertahun-tahun. Saya post foto, share artikel, like halaman politik. Setiap interaksi ada data trail. Saya tahu (atau seharusnya tahu) bahwa data itu di-monetize. Tapi saya tidak peduli karena layanan-nya "gratis".

Kenyataan: tidak ada yang gratis. Kita bayar dengan data. Yang baru sekarang kita tahu seberapa mahal harga itu — pengaruh terhadap pemilu, terhadap polarisasi politik, terhadap demokrasi.

Ketiga, dan ini paling penting buat Indonesia: kita harus belajar. Pemilu 2019 yang sudah dekat akan jadi battle social media yang lebih intense dari 2014. Aktor-aktor politik yang sudah lihat playbook Cambridge Analytica, akan replicate untuk Indonesia. Mereka akan target voter dengan psychographic profile yang precise. Mereka akan push narasi yang membuat polarisasi makin dalam.

Apa yang bisa kita lakukan?

Sebagai user: kurangi exposure di Facebook. Hapus app yang tidak perlu. Review permission yang Anda kasih. Sadar bahwa setiap interaksi ada cost.

Sebagai industri Indonesia: kita harus push regulasi data protection yang serius. UU Perlindungan Data Pribadi sudah draft 4 tahun di DPR. Kalau tidak di-pass tahun ini, kita akan mengalami pemilu 2019 tanpa proteksi minimal. Itu unacceptable.

Sebagai GM Partnerships di Telkom Group: saya akan re-evaluate semua data sharing partnership kami. Setiap deal yang involve data customer, harus punya proteksi yang lebih kuat. Setiap term yang ambigu, harus dipertanyakan. Itu yang saya commit untuk Q2.

Cambridge Analytica akan tutup dalam beberapa bulan (mereka sudah file bankruptcy). Tapi business model yang membuat mereka possible, akan tetap. Facebook tidak akan ubah core business mereka. Iklan politik akan tetap precise. Pemilu akan tetap dipengaruhi oleh sosmed.

Yang berubah: kita semua, hopefully, lebih sadar tentang harga yang kita bayar untuk "free service" sosmed. Mudah-mudahan kesadaran itu mempengaruhi pilihan kita ke depan.

Komentar

Memuat komentar…