iPad — Komputer untuk Orang yang Tidak Suka Komputer
iPad keluar di Amerika minggu lalu (3 April). Saya belum pegang, masih perlu nunggu beberapa bulan sampai unit second/grey market masuk Indonesia. Tapi dari video review yang saya tonton di YouTube, dari live blog Engadget yang saya baca sepanjang launch, saya sudah punya hipotesis: iPad bukan untuk orang seperti saya. Justru karena itu, dia akan menang.
Saya bilang "bukan untuk orang seperti saya" — maksudnya, saya seorang web developer. Tools saya butuh keyboard, butuh multi-window, butuh file system yang bisa diakses langsung. iPad tidak punya itu. Tidak ada file explorer. Setiap app hidup dalam silo-nya sendiri. Tidak ada keyboard fisik. Untuk saya, iPad terasa seperti komputer yang dipangkas.
Tapi justru itu yang menarik. Apple tidak menjual iPad ke developer. Mereka menjual ke ibu saya yang tidak pernah suka komputer.
Saya pikirkan. Ibu saya umur 50-an. Dia bisa pakai SMS di HP, tapi laptop di rumah jarang dia sentuh. Alasannya? "Susah." Setiap kali dia mau lihat foto cucu yang dikirim om saya lewat email, ada 5 langkah: nyalain laptop, log in Windows, klik browser, log in Yahoo Mail, klik attachment. Setiap langkah ada potensi salah, potensi pop-up update Windows yang menginterupsi.
iPad menghilangkan 4 dari 5 langkah itu. Nyalain — langsung di home screen. Klik Mail — sudah login. Tap email dari om — foto langsung muncul. Selesai.
Dengan menghilangkan kompleksitas, Apple membuka pasar yang Windows/Mac selama 30 tahun tidak bisa tembus: orang yang takut komputer. Itu pasar yang besar — jauh lebih besar dari pasar developer.
Pelajaran buat saya, kembali ke tema lama: kemenangan produk bukan tentang fitur. Tentang menghilangkan friction. Tentang membuat orang yang sebelumnya tidak bisa, jadi bisa. iPad melakukan itu untuk computing.
Implikasi untuk web design dan development? Saya pikir, kita perlu mulai mikirin "experience" lebih dari "function". Banyak situs Indonesia yang saya bangun masih mengasumsikan user kompeten — bisa baca URL, bisa pakai breadcrumb, bisa handle pop-up. Generasi iPad akan punya ekspektasi lain: semua harus jelas, semua harus sekali tap, semua harus "just work" tanpa dipikirin.
Ada juga dimensi lain: iPad akan jadi platform konsumsi konten yang besar. Buku digital, majalah digital, video on-demand. Industri media Indonesia harus mulai mikir, bagaimana konten mereka tampil di layar 9.7 inci yang dipegang horizontal di sofa.
Saya rasa, dalam 3 tahun, semua restoran fast food di Jakarta akan punya iPad di meja kasir untuk menu. Semua dokter spesialis akan punya iPad untuk catatan pasien. Semua sales mobil akan punya iPad untuk brosur interaktif. Bukan karena iPad lebih murah dari laptop — tapi karena cukup sederhana untuk dipakai oleh siapapun tanpa training.
Saya akan nabung. Ketika iPad masuk Indonesia (perkiraan saya: pertengahan tahun), saya akan beli satu. Bukan untuk kerja. Untuk eksperimen — dan untuk hadiah ulang tahun ibu saya.

Komentar