Akhirnya Saya Beli iPhone 3G dari Telkomsel — Dua Hari Pakai, Ini Observasi Awal
Setahun lalu saya sempat pegang iPhone punya teman dari Singapore. Waktu itu saya tulis di blog ini bahwa Apple sengaja menunda masuk Indonesia, dan saya yakin pasti datang. Tidak menyangka, jawabannya lebih cepat dari prediksi saya. Desember kemarin Telkomsel resmi jual iPhone 3G. Paket bulanan, kontrak dua tahun. Bulan ini saya akhirnya ambil.
Dua hari pakai, ini observasi pertama saya.
Yang langsung terasa: kecepatan internet di iPhone 3G beda dengan yang saya bayangkan. Dengan HSDPA Telkomsel, browsing Detik.com via Safari terasa hampir seperti komputer. Tidak ada lagi WAP yang lambat, tidak ada lagi mobile site yang stripped down. Saya lihat web aslinya, dengan layout aslinya, di layar 3.5 inci. Itu pengalaman baru.
App Store juga jadi pelajaran. Saya download 5 app gratis dalam jam pertama: Twitter client, Facebook, Yahoo! Mail, peta, dan satu game sederhana. Tidak ada kartu kredit yang diminta (untungnya, karena saya belum punya yang work di App Store internasional). Tapi pengalamannya: install satu klik, jalan langsung. Tidak ada install file, tidak ada setup wizard, tidak ada baca manual. Beda banget dengan Symbian atau Windows Mobile.
Yang menarik soal harga. Paket Telkomsel total kira-kira 17 juta untuk iPhone-nya saja selama dua tahun kontrak. Mahal kalau dibandingkan Nokia E71 atau N95 yang harganya 5–6 juta sekali bayar. Tapi saya hitung lain: yang saya bayar bukan cuma handphone, tapi akses ke ekosistem. App. Komunitas. Update OS yang akan terus datang. Status sosial juga, kalau saya jujur sama diri sendiri.
Yang saya tidak suka: input bahasa Indonesia di iPhone agak menyebalkan. Auto-correct sering ganti kata yang saya tulis dengan kata bahasa Inggris yang mirip. "Kemana" jadi "Kenmore". Untuk orang yang ngeblog dalam bahasa Indonesia, ini PR.
Battery juga jadi cerita. Sehari habis kalau saya pakai 3G dan WiFi aktif. Charger harus ikut ke mana-mana. Saya rasa ini trade-off yang Apple terima — power untuk experience yang utuh.
Tapi yang paling menarik observasinya: di kantor, dua hari ini saya jadi pusat perhatian. Teman-teman datang melihat iPhone saya, coba-coba layar touch. Reaksi-nya seragam: "wah enak ya". Lalu mereka lihat handphone-nya sendiri, balik ke meja kerja. Saya yakin, dalam setahun, beberapa dari mereka akan pegang iPhone juga. Bukan karena fungsional lebih baik — fitur teknis Nokia atau BlackBerry punya banyak yang iPhone tidak ada. Tapi karena experience-nya.
Experience yang utuh, kasih satu tarikan napas yang sama mulai dari unboxing sampai download app pertama, itu yang Apple jual. Bukan teknologi-nya.
Saya rasa, dua tahun ke depan kontrak ini, saya akan banyak belajar. Bukan tentang iPhone-nya, tapi tentang bagaimana sebuah produk yang utuh berbeda dari sekumpulan fitur yang dikemas.

Komentar