Tiga Tahun GM Partnerships — Mulai Pikirin Apa Selanjutnya
Setahun lalu saya tulis tentang dua tahun di GM Partnerships. Saya track family balance, saya tulis tentang struggle dan progress. Tahun ini, tiga tahun di posisi yang sama, saya tulis sesuatu yang berbeda: saya mulai pikirin apa selanjutnya.
Bukan karena GM Partnerships tidak menyenangkan lagi. Justru sebaliknya. Tahun ini adalah tahun terbaik saya di role ini. Beberapa milestone:
Saya close 2 partnership besar yang nilai-nya total > 50 miliar rupiah dalam 3 tahun. Tim saya tumbuh dari 3 ke 5 BD professional, semua high-performing. Saya direspect di level eksekutif Telkom Group. Family balance lebih baik dari tahun lalu (74 hari out jam 7, target 156 — masih belum hit, tapi konsisten).
Tapi ada feeling baru yang muncul di Q3-Q4: rasa stagnan.
Bukan stagnan dalam pekerjaan harian — masih banyak deal yang sedang berjalan. Tapi stagnan dalam learning curve. Saya sudah belajar 70-80% dari yang bisa dipelajari di posisi ini. Sisanya adalah iteration dan refinement, bukan breakthrough.
Itu sinyal bagi saya untuk pikirin step berikutnya.
Apa optionalitas-nya?
Opsi 1: Naik di Metranet jadi Direktur. Itu next natural step. Tapi posisi-nya tidak open dalam waktu dekat. Bisa nunggu 2-3 tahun, mungkin lebih lama.
Opsi 2: Pindah ke unit lain di Telkom Group. Telkomsel adalah opsi besar. Posisi senior di Telkom corporate juga possible. Itu broaden experience saya di telco infrastructure side.
Opsi 3: Pindah ke fintech atau startup. Mungkin di posisi C-level (COO, atau even CEO untuk startup yang ke right stage). Bayaran-nya bisa lebih besar dengan equity component. Resiko-nya lebih tinggi.
Opsi 4: Internal entrepreneurial — luncurkan venture di dalam Telkom Group dengan capital dan support korporasi. Itu ada precedent di Sigma, di Multimedia Nusantara.
Saya pikir 3 minggu. Diskusi banyak dengan mentor, dengan istri, dengan beberapa kenalan di industri. Konklusi sementara: saya akan eksplor Opsi 4 (internal entrepreneurial) lebih serius di 2020. Plus saya akan keep options 2 dan 3 open kalau ada peluang yang sangat compelling.
Kenapa pilih internal entrepreneurial?
Pertama, saya tahu Telkom Group dengan baik. Saya tahu siapa decision maker, bagaimana navigate proses, di mana opportunity ada. Itu unfair advantage yang akan saya kehilangan kalau pindah ke startup eksternal.
Kedua, ekosistem Indonesia mendukung. Telkom Group adalah BUMN dengan akses ke capital, customer base, dan infrastruktur. Building venture dari sini bisa lebih cepat scale dibanding building dari nol di startup yang harus raise dari investor.
Ketiga, dan ini paling pribadi: saya ingin tantangan tipe entrepreneurial — risk, ambiguity, build dari awal. Tapi saya juga ingin stability untuk keluarga (anak akan masuk SD 2021). Internal entrepreneurial balance kedua-nya.
Apa rencana 2020?
Pertama, identifikasi opportunity. Ada beberapa kategori yang menarik untuk saya — fintech (terutama wealth management dan lending), edtech (mass market Indonesia), atau B2B fintech yang serve UMKM. Saya akan spend Q1 untuk riset deeper.
Kedua, build internal coalition. Internal entrepreneurial butuh dukungan eksekutif Telkom Group. Saya butuh advokat di level board, capital allocation untuk fund opportunity.
Ketiga, dan ini paling penting: stay disciplined di kerja sekarang. Tidak adil untuk tim saya kalau saya distracted oleh future planning. Saya akan continue execute di GM Partnerships dengan kualitas yang sama atau lebih tinggi dari tahun lalu.
Mari kita lihat. Tahun depan saya akan tulis lagi. Mungkin lebih jelas. Mungkin saya sudah punya prototype venture untuk launch. Atau mungkin saya akan pivot ke opsi yang completely beda. Itu yang menarik dari fase ini — banyak optionalitas, semua bisa work.
Yang saya yakin: ini bukan akhir dari GM Partnerships, tapi start dari fase berikutnya — apapun itu.

Komentar