Startup Indonesia 2024 — Dari Euphoria ke Realita

Saya masih ingat betul suasana 2021.
Semua orang excited. Funding mengalir deras. Unicorn lahir hampir setiap bulan — Indonesia punya 13 unicorn baru di tahun itu saja. Valuasi naik terus. Orang-orang terbaik resign dari perusahaan besar untuk join startup. Narasi yang beredar waktu itu hanya satu: ini adalah masa depan, dan siapapun yang tidak ikut akan ketinggalan.
Saya ikut merasakannya. Siapapun yang ada di ekosistem digital Indonesia waktu itu pasti merasakannya.
Tiga tahun kemudian, di 2024, gambarannya sangat berbeda.
Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Mari kita mulai dari data, karena datanya memang cukup menohok.
Di puncaknya — 2021 — startup Indonesia berhasil menarik funding sebesar $4,9 miliar. Itu angka yang luar biasa besar. Lima kali lipat dari tahun sebelumnya. Seperti yang dilaporkan Crunchbase: tidak ada ekosistem startup di Asia Tenggara yang tumbuh secepat Indonesia di periode itu.
Tiga tahun kemudian, di 2024, angkanya adalah $323 juta. Turun 75% dari 2023 yang sudah turun signifikan dari 2022. Kalau dihitung dari puncaknya di 2021, penurunannya lebih dari 90%.
Ini bukan koreksi kecil. Ini adalah cliff.
Dan bersamaan dengan turunnya funding, nama-nama yang kita kenal satu per satu mulai bermasalah. Collapses of prominent players such as eFishery, Investree, TaniHub and its lending arm TaniFund, and Zenius, shattering assumptions about governance and the durability of "unicorn" ambition. E-siber Tokopedia — yang dulu adalah kebanggaan Indonesia — is now majority-owned by ByteDance following the acquisition of 75.01% of its shares. Icttm GoTo masih berjuang membuktikan profitabilitas ke pasar.
Ini Bukan Hanya Soal Funding
Yang paling menarik dari semua ini — dan yang saya pikir paling penting untuk dipahami — adalah bahwa ini bukan sekadar masalah funding kering.
Funding kering adalah symptom. Bukan cause.
Indonesia's startup crisis is not a funding problem, but a fundamentals problem — one that cannot be solved by capital alone. E-siber
Dan kalau kita mau jujur, tanda-tandanya sudah ada sejak lama. Saya — dan banyak orang yang ada di dalam ekosistem ini — sudah merasakannya jauh sebelum 2024. Tapi di tengah euphoria funding yang mengalir, sangat mudah untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman.
Pertanyaan seperti: apakah bisnis ini betul-betul punya unit economics yang sehat, atau hanya hidup dari subsidi investor? Apakah user yang ada ini genuine users atau promo hunters yang akan pergi begitu kasbon cashback-nya habis? Apakah growth-nya organic atau growth yang dibeli dengan cara yang tidak sustainable?
Di 2021, pertanyaan-pertanyaan itu dianggap tidak relevan. Growth dulu, profitabilitas nanti. Itu mantra yang berlaku.
Di 2024, tagihan dari mantra itu mulai datang.
Skandal yang Mengguncang Kepercayaan
Yang paling menyakitkan dari semua ini bukan angkanya. Tapi skandalnya.
In 2024, one unicorn startup, eFishery, was found to have falsified its financial statements dating back to 2018. Another major case involved the CEO of Investree, who reportedly fled amid allegations of fraud. Icttm
eFishery adalah cerita yang sangat menyedihkan. Startup aquatech yang punya narasi yang sangat compelling — teknologi untuk nelayan dan pembudidaya ikan kecil di seluruh Indonesia. Impact story yang kuat. Investor global kelas satu — SoftBank, Temasek. Dan ternyata, management inflated revenue by almost US$600 million in the 9 months leading up to September 2024, meaning that more than 75% of its reported figures were falsified. Stanford Graduate School of Business
Ini bukan kesalahan kecil. Ini adalah kebohongan yang terstruktur dan berlangsung bertahun-tahun.
Dan dampaknya bukan hanya ke eFishery sendiri. Kepercayaan investor — yang sudah mulai tipis sejak 2022 — semakin terkikis. Startup-startup lain yang genuinely bagus ikut kena dampaknya, karena investor menjadi jauh lebih cautious dan skeptis. Satu kebohongan besar merusak reputasi seluruh ekosistem.
Lima Hal yang Betul-Betul Terjadi
Dari semua yang saya amati di 2024, ada lima hal yang menurut saya paling menggambarkan reality check ini:
Pertama, produk yang tidak menjawab masalah nyata. Terlalu banyak startup yang lahir dari "ide yang kelihatan bagus di deck" bukan dari pemahaman mendalam tentang masalah yang betul-betul dirasakan user. Fintech adalah contoh yang paling jelas — just count how many digital banks, e-wallets, and payment apps are installed on your phone. Many of these represent what can be described as "lazy innovation." They offer little differentiation and are often installed only because of mandatory payment systems, discounts, or incentives. Icttm
Kedua, bakar uang tanpa jalan keluar yang jelas. Model growth at all costs mungkin masuk akal ketika suku bunga rendah dan likuiditas global melimpah. Tapi begitu kondisinya berubah — dan kondisi global memang berubah drastis sejak 2022 — startups yang hidupnya bergantung pada funding round berikutnya langsung dalam bahaya.
Ketiga, ekosistem yang masih terlalu Jakarta-sentris. Ini bukan isu baru, tapi tetap belum terpecahkan. Sebagian besar startup masih membangun untuk user di Jakarta dan kota-kota besar. Sebagian besar talent, investor, dan network masih terkonsentrasi di sana. Dan ini membuat ekosistemnya tidak sekuat yang angka-angkanya kelihatannya suggestkan.
Keempat, governance yang lemah. Kasus eFishery dan Investree membuka satu kenyataan yang tidak menyenangkan: banyak startup Indonesia yang tumbuh begitu cepat tanpa membangun governance yang setara dengan skalanya. Board yang tidak berfungsi efektif, auditor yang tidak independen, sistem kontrol internal yang lemah — semua itu menjadi bom waktu.
Kelima, kepemilikan yang semakin berpindah ke asing. Ini yang menurut saya paling perlu diperhatikan. If this merger occurs, Indonesian ownership will diminish further, leaving the country primarily as a lucrative market for foreign technology giants. Icttm Kita sedang membangun pasar untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri.
Tapi Ini Bukan Akhir
Di tengah semua yang saya tulis di atas, saya tidak mau meninggalkan kesan bahwa semuanya sudah selesai. Karena tidak.
Yang sedang terjadi di 2024 adalah seleksi alam yang — meskipun menyakitkan — sebenarnya sehat untuk ekosistem jangka panjang. Startup-startup yang model bisnisnya tidak sustainable memang harus jatuh. Lebih baik sekarang daripada terus-menerus disokong funding tanpa pernah benar-benar berdiri sendiri.
Dan di balik semua drama itu, ada startup-startup yang diam-diam terus tumbuh — yang dari awal membangun dengan disiplin, yang fokus pada unit economics yang sehat, yang tidak tergoda untuk membesarkan angka valuasi di atas membesarkan bisnis yang sebenarnya. Mereka tidak dapat headline sebesar yang dapat startup unicorn di 2021. Tapi mereka ada, dan mereka sedang membangun fondasi yang jauh lebih kuat.
The pattern signals a shift from "growth at all costs" to profitability and purpose. MDPI Dan pergeseran ini, menurut saya, adalah hal yang paling penting yang terjadi di ekosistem startup Indonesia di 2024.
Yang Perlu Berubah
Dari posisi saya sebagai seseorang yang sekarang ada di sisi venture building, ada beberapa hal yang menurut saya perlu berubah — dan sedang berubah — di ekosistem ini.
Investor perlu lebih fokus pada fundamentals dari hari pertama, bukan hanya pada growth metrics yang bisa dimanipulasi. Founder perlu membangun bisnis, bukan deck. Regulator perlu hadir dengan regulasi yang cukup ketat untuk melindungi ekosistem dari fraud, tapi tidak terlalu kaku untuk membunuh inovasi. Dan media perlu berhenti mengagung-agungkan valuasi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan startup.
Tapi yang paling penting — dan ini yang saya percaya paling akan menentukan nasib ekosistem ini ke depan — adalah apakah founder Indonesia mau belajar dari episode yang menyakitkan ini.
Karena pada akhirnya, ekosistem startup yang kuat bukan dibangun dari banyaknya unicorn. Tapi dari banyaknya bisnis yang betul-betul profitable, betul-betul menjawab masalah nyata, dan betul-betul dimiliki oleh Indonesia.
2024 adalah tahun yang keras. Tapi keras bukan selalu buruk — kalau kita mau mengambil pelajaran yang benar dari sana.
Baca juga:





Komentar