Slack Tembus 1 Juta DAU — Email Akhirnya Punya Pesaing Serius
Minggu lalu Slack umumkan mencapai 1 juta daily active user. Hanya 2 tahun setelah public launch. Itu pertumbuhan yang phenomenal untuk B2B tool.
Saya pakai Slack di Metranet sejak Q2 tahun ini. Kami mulai pilot dengan tim engineering saya — sekitar 12 orang. Sekarang sudah expand ke 3 tim. Mungkin akan jadi default communication tool kami akhir tahun.
Apa yang membuat Slack take off? Saya pikir jawaban-nya: Slack pengganti email yang tidak buruk-buruk amat.
Email sudah ada sejak 1970-an. Format-nya tidak berubah banyak dalam 40 tahun. Tapi cara kita kerja sudah berubah drastis — remote-friendly, async tapi cepat, multi-project paralel, konteks yang banyak dan terpotong-potong. Email tidak well-suited untuk realitas itu:
Email setiap subject independent. Kalau ada 3 conversation dengan subject yang sama, mereka tidak otomatis grouped. Email tidak punya konsep channel atau room. Kita harus repeat CC untuk semua orang yang interest. Email search-nya jelek (Outlook search lebih jelek dari Gmail, tapi Gmail bukan untuk corporate). Email tidak realtime — antar kirim dan balas ada gap 5-30 menit yang feels long.
Slack atasi semua ini.
Channel: organize percakapan by topic (mis. #project-content-app, #design, #random). Semua orang yang join channel lihat semua post di sana. Tidak perlu CC. Search yang work — tinggal ketik, results langsung muncul, dengan context. Realtime, atau hampir realtime. Notifikasi langsung. Integration dengan tool lain (Github, JIRA, Google Drive, Trello). Tidak perlu pindah app.
Yang menarik, Slack bukan tools dengan fitur paling lengkap. Microsoft punya Lync (atau Skype for Business). Cisco punya WebEx Teams. IBM punya Sametime. Semua perusahaan IT giant punya offering. Slack menang karena execution, bukan feature checklist.
Eksekusi-nya?
Pertama, onboarding yang gampang. Saya tidak perlu admin IT setup. Tinggal sign up, undang teman lewat email, jalan. Untuk B2B tool, ini revolutionary — biasanya enterprise software butuh 3-6 month implementation.
Kedua, design yang menyenangkan. Notifikasi lucu-lucu (random emoji untuk milestone). Sticker dan reaction yang fun. Slackbot yang punya kepribadian. Untuk tool kerja, ini tidak biasa — biasanya enterprise tools serius dan boring.
Ketiga, freemium model yang work. Tim kecil pakai gratis. Tim besar bayar (per user, per bulan). Karena Slack adopted dari bawah (engineer cinta, lalu menyebar ke product, lalu sampai eksekutif sign up paid plan), Slack tidak perlu sales force yang besar.
Untuk Metranet (dan korporasi besar pada umumnya), Slack hadirin tantangan budaya. Kami biasa email yang formal. Slack lebih casual — pakai first name, banyak emoji, kadang gif. Saya harus secara aktif balance: jaga supaya tetap professional, tapi tidak too stiff yang membunuh keuntungan-nya.
Prediksi saya: dalam 3-5 tahun, perusahaan yang masih pakai email untuk koordinasi tim sehari-hari akan dianggap "kuno". Slack atau pesaing-pesaing-nya (Microsoft Teams pasti akan masuk, mungkin Atlassian Stride) akan jadi default untuk komunikasi tim.
Yang menarik: email tidak akan mati. Email akan jadi protocol formal — untuk eksternal communication, kontrak, dokumen resmi. Tapi untuk percakapan tim sehari-hari, email akan jadi terlalu lambat dan terlalu kaku.
Selamat untuk Stewart Butterfield dan tim Slack. Setelah Flickr gagal di Yahoo, ternyata kalian belajar dan bangun produk yang lebih bagus.

Komentar