Setahun Senior PM — Pelajaran Tentang Mengeksekusi Project Besar
Setahun lalu saya tulis tentang transisi dari Application Development Manager ke Senior Project Manager. Saya bilang akan tulis lagi setahun lagi. Sekarang waktunya tepati janji.
Senior Project Manager satu tahun ini fokus pada satu hal: launch produk content baru dengan tiga tim — engineering Metranet, marketing Telkomsel, dan partner studio konten. Saya jelaskan dalam post Desember 2014 sebagai "proyek besar pertama saya di SPM". Target launch Q3 2015. Budget signifikan. Stakeholder banyak.
Hari ini saya bisa lapor: kami launch awal Oktober, dua minggu telat dari target. User base awal mencapai target. Bukan home run, tapi solid base hit.
Yang saya pelajari?
Pertama, "delivery date" itu fiksi yang berguna. Setiap project dimulai dengan target date. Date itu tidak akan tepat. Tapi memilikinya membuat tim punya direction. Yang penting bukan hit date persis — tapi cari root cause kalau telat.
Kami telat 2 minggu karena vendor design system delay 3 minggu (kami menyusul 1 minggu dengan tim sendiri). Tidak ada surprise besar. Itu signal proyek di execute dengan baik — surprise besar = tanda bahwa kita tidak track dengan baik.
Kedua, multi-tim koordinasi adalah skill baru. Setiap tim punya prioritas-prioritasnya sendiri. Engineering punya backlog Metranet yang sudah ada, marketing Telkomsel punya campaign reguler, vendor konten punya project lain. Saya harus jadi orang yang memastikan project kita stay top-3 di setiap tim, tanpa menjadi nuisance.
Ini bukan tentang authority — saya tidak bisa command marketing Telkomsel atau vendor untuk prioritize kita. Ini tentang relationship, mutual benefit articulation, dan tracking yang transparent. Setiap minggu saya kirim status update yang jelas: apa yang on track, apa yang di risk, apa yang butuh decision.
Ketiga, budget management lebih susah dari saya kira. Setahun lalu saya pikir: punya budget = tinggal spend sesuai plan. Realita: setiap line item perlu justifikasi ulang setiap quarter. Setiap unexpected expense butuh approval dari multiple stakeholder. Setiap saving butuh dokumentasi (kalau tidak, akan dianggap "spend kurang" dan budget tahun depan dipotong).
Saya belajar untuk over-document. Setiap meeting yang menghasilkan keputusan budget, ada email summary dalam 24 jam. Setiap saving, ada explanation kenapa kita save (bukan karena scope kurang). Setiap spend, ada link ke spec dan target outcome.
Apa yang saya tidak pelajari (cukup)?
Networking di luar Metranet. Saya stay terlalu fokus pada project ini. Tahun depan saya pengin lebih sering ketemu peers di industry — startup founder, manager di operator lain, vendor sales. Itu akan kasih perspective yang saya tidak dapat dari dalam Metranet.
Apa rencana 2016?
Project ke-2 sudah di-confirm — launch produk content lain dengan partner-partner berbeda. Target Q3 2016. Lebih besar dari project tahun ini, lebih banyak stakeholder.
Setiap tahun di Metranet, saya keep belajar. Itu yang membuat saya stay walaupun teman-teman di startup raise besar dan ngajak join. Pelajaran-pelajaran ini di Telkom Group sangat berharga — dan tidak bisa di-replicate cepat di startup.
Tahun depan? Saya akan tulis lagi. Sebagai biasa.

Komentar