0%
4 min left

Setahun Pertama di Posdigi + Refleksi 12 Tahun Telkom Group

Setahun Pertama di Posdigi + Refleksi 12 Tahun Telkom Group
← Kembali ke Blog

Akhir tahun lalu saya tulis tentang transisi ke VP Digital Advertising dan rencana untuk explore internal entrepreneurial path. Sekarang setahun setelah itu, saya tulis sesuatu yang lebih dramatic — saya sudah pindah dari Telkom Group ke Posdigi sebagai COO.

Tulisan akhir tahun ini bukan plan future, tapi refleksi dua chapter. 12 tahun di Telkom Group (Metranet) yang baru saya tutup. Plus 5 bulan pertama di Posdigi.

Mari saya bagi observasi.

Refleksi 12 tahun Telkom Group.

Saya mulai sebagai Frontend Developer di Metranet umur 23 tahun (2010). Saya tutup sebagai VP Digital Advertising umur 34 (mid-2021). Posisi yang berkali-kali, project yang banyak, partner external yang puluhan.

Apa yang Telkom Group berikan kepada saya?

Pertama, foundation skill yang sustained. Pertumbuhan dari engineer ke manager ke executive — semua structured. Setiap promosi punya criteria yang clear (or at least nego-able). Setiap pelajaran punya mentor yang available. Bukan startup yang chaos.

Kedua, network yang dalam. 11 tahun di Telkom Group, saya kenal ratusan orang. Banyak yang sekarang di posisi senior di berbagai BUMN, swasta, startup, regulator. Network itu valuable — saya masih kontak sering setelah pindah ke Posdigi.

Ketiga, dan ini yang sering underestimated: respect untuk birokrasi. Telkom adalah BUMN besar dengan struktur formal. Saya belajar bagaimana proses bekerja, why proses exist, dan kapan kita harus push back vs accept. Itu skill yang transfer ke organisasi BUMN lain (seperti Posdigi yang affiliated dengan Pos Indonesia).

Apa yang Telkom Group tidak berikan?

Pertama, exposure ke entrepreneurial risk. Selama 11 tahun, salary saya konsisten naik tiap tahun, project saya selalu ada cover karena Telkom Group besar, risk-nya selalu manageable. Itu kasih safety, tapi tidak kasih thrill atau anxiety yang membentuk character.

Kedua, knowledge tentang industri di luar telco. Telkom Group focuses pada telco + digital + content. Tapi saya tidak banyak exposure ke financial services, ke logistics, ke physical goods. Pindah ke Posdigi (yang fintech) adalah cara untuk fix gap itu.

Refleksi 5 bulan di Posdigi.

Saya bilang dulu plan saya: 30 hari listening, 30-60 hari strategic assessment, 60-100 hari mobilize.

Realita: lebih lambat dari plan. Listening tour saya extend ke 60 hari karena banyak orang yang penting untuk saya ketemu (regulator OJK, manajemen Pos Indonesia, partner perbankan lokal). Strategic assessment juga extend karena context-nya kompleks (Posdigi product range dari pinjaman UMKM ke wealth management).

Tapi yang OK: saya sudah jelas tentang 3 prioritas utama untuk 2022:

Pertama, fix product market fit untuk pinjaman UMKM. Produk ini punya volume tapi profitabilitas rendah. Saya plan untuk overhaul pricing structure dan distribution channel.

Kedua, build wealth management retail dari nol. Ini opportunity besar di Indonesia (kelas menengah growing, financial literacy improving). Posdigi punya distribusi Pos Indonesia, tapi product belum mature.

Ketiga, integrate Posdigi lebih dalam dengan Pos Indonesia main business. Cross-selling, shared infrastructure, branding consistency — semua ada room for improvement.

Yang saya pelajari about myself:

Saya bisa adapt ke konteks baru lebih cepat dari yang saya kira. Tapi saya juga butuh ekstra energi untuk re-establish credibility — di setiap meeting, saya feel saya harus prove myself terus, bukan langsung dapat benefit of doubt.

Saya juga rindu beberapa hal dari Telkom Group: kantor yang familiar, kolega yang sudah kenal, project legacy yang saya tahu detail-nya. Tapi rindu itu wajar — tidak menjadi alasan untuk regret pindahnya.

Apa rencana 2022?

Saya fokus full di Posdigi. Tidak ada side project, tidak ada distraction. Tahun pertama transition ini akan tentukan apakah saya berhasil di role ini atau tidak. Saya perlu give it everything.

Plus, di personal life: anak saya umur 6 tahun, masuk SD tahun ini. Banyak yang akan berubah di home. Saya akan adjust schedule supaya bisa hadir di milestone-milestone-nya.

Selamat datang 2022. Tahun yang akan jadi defining untuk fase berikutnya hidup saya.

Komentar

Memuat komentar…