Setahun Jadi Manager — Saya Salah Soal Banyak Hal
Setahun lalu, saya tulis tentang promosi dari Engineer ke Application Development Manager. Saya tutup post itu dengan: "Saya akan tulis lagi setelah 1 tahun jadi manager. Itu akan jadi post yang berbeda dari ini. Lebih banyak pertanyaan, mungkin lebih sedikit jawaban."
Sekarang, hampir tepat 1 tahun setelah, saya tepati janji itu. Ini post yang berbeda. Ini honest reckoning.
Apa yang saya salah?
Pertama, saya undervalue waktu yang dihabiskan untuk meeting. Saya bilang dulu "rapat-rapat panjang" — tapi saya tidak siap berapa banyak rapat. Saya ngumpulin data: dalam minggu rata-rata, saya menghabiskan 18-22 jam di meeting. Itu lebih dari setengah waktu kerja saya. Tidak ada lagi waktu untuk coding meaningfully. Saya menulis kode sekarang sekitar 3-4 jam seminggu, dibanding 35-40 jam sebagai engineer.
Awal-awal, saya frustasi. Saya merasa "wasted". Lalu pelan-pelan saya sadar — meeting bukan waste, kalau dilakukan dengan baik. Meeting adalah cara untuk align tim, decisión-making collective, resolve conflict. Yang waste adalah meeting yang tidak terstruktur atau tidak ada outcome. Saya belajar (masih belajar) cara facilitate meeting yang efektif.
Kedua, saya undervalue people management. Saya pikir managing 5 developer bakal mostly soal technical — code review, architecture decision, technical guidance. Hanya 30% itu yang terjadi. 70% sisanya: career conversation, conflict resolution antar developer, kasih feedback yang tidak merusak ego, manage expectations atasan, dll.
Saya tidak siap untuk percakapan-percakapan susah. Salah satu developer di tim saya, performance-nya menurun pertengahan tahun. Saya delay percakapan susah selama 2 bulan karena saya tidak tahu cara mulai. Akhirnya saya bicara — dan saya bicara dengan cara yang salah (terlalu langsung, tanpa konteks). Itu membuat dia defensive, kami spend 3 minggu mending hubungan.
Pelajaran: percakapan susah harus dilakukan cepat, dengan empati, dan dengan konteks yang jelas. Saya masih learning ini.
Ketiga, saya undervalue politics. Saya pikir orang yang "kerja bagus" akan dapat dukungan. Kenyataan: untuk dapat resources untuk tim, untuk dapat prioritization dari roadmap, untuk dapat budget — saya harus advocate di level executive. Itu butuh skill yang berbeda dari coding atau technical thinking. Saya butuh tahu siapa stakeholder kunci, apa yang penting buat mereka, bagaimana frame argumen yang resonan dengan concerns mereka.
Saya belajar ini lebih lambat dari saya mau. Tahun ini saya kalah beberapa kali untuk resources yang seharusnya tim saya dapat — karena saya tidak advocate cukup loud, atau tidak frame issue dalam bahasa yang executive mengerti.
Apa yang saya benar?
Satu hal: di akhir tahun, tim saya engineer-engineer yang lebih kuat dari awal tahun. Mereka punya lebih banyak ownership atas produk. Mereka mengambil keputusan yang dulu mereka tunggu saya. Mereka mulai mentor junior.
Itu yang membuat tahun ini berharga, meskipun banyak salahnya. Saya bukan jadi manager terhebat. Saya manager yang OK, yang masih belajar. Tapi tim saya lebih kuat — dan itu metric yang saya pegang.
Tahun depan? Saya rencanakan lebih sedikit meeting (lebih banyak async), lebih banyak 1-on-1 dengan setiap developer (career planning lebih serius), dan lebih banyak time advocating untuk tim di level executive.
Mari kita lihat. Saya akan tulis lagi setahun lagi.

Komentar