0%
3 min left

Setahun Jadi GM Partnerships — Lebih Susah dari Saya Kira

Setahun Jadi GM Partnerships — Lebih Susah dari Saya Kira
← Kembali ke Blog

Setahun lalu saya tulis tentang tawaran pindah dari Senior PM ke GM Partnerships & BD. Saya bilang akan tulis lagi setahun lagi. Hari ini, dengan 12 bulan dari role baru itu, ini honest reckoning-nya.

Lebih susah dari saya kira. Saya akan jelaskan.

Pertama, scope cognitive load yang berbeda. Di SPM, saya manage 1-2 project deep. Di GM Partnerships, saya manage 8-12 partnership simultaneously. Setiap punya context yang berbeda — Spotify partnership beda jauh dari Netflix Indonesia distribution, beda lagi dari content studio negotiations.

Awal-awal, saya kewalahan. Saya kira "saya bisa context-switch cepat" — kenyataannya, context-switch berkali-kali sehari makan banyak energy mental. Saya pulang ke rumah jam 8 malam dengan otak yang sudah blank. Q1, saya hampir burnout.

Yang membantu: saya berhenti coba "tahu semua detail dari semua partnership". Sebagai gantinya, saya bangun tim 3 BD orang yang masing-masing own 3-4 partnership. Saya jadi orchestrator, bukan eksekutor. Itu pelajaran besar Q2.

Kedua, dynamics yang berbeda dengan partner external. Di internal Metranet, saya bisa push tim untuk deliver. Di external partner, saya tidak punya authority. Saya harus persuade — dengan business case yang kuat, dengan creative deal structure, dengan personal relationship.

Saya kalah negotiation pertama saya. Vendor content studio negotiate term yang ternyata cost kami $200,000 lebih dari yang seharusnya. Saya tidak push back keras enough, terlalu naive untuk standard rate di industri. Itu pelajaran mahal — secara harfiah.

Setelah incident itu, saya enroll diri di executive negotiation training (Telkom sponsor). 5 hari penuh, intense. Saya belajar banyak. Tapi yang lebih penting: saya belajar untuk minta bantuan dari senior negosiator di Telkom Group untuk supervise deal besar. Pride saya disakitkan, tapi bisnis-nya untung.

Ketiga, P&L management. GM Partnerships punya target growth tertentu — saya harus deliver. Q3 saya hampir miss target karena salah satu major deal delay 3 bulan. Saya improvised dengan accelerate beberapa smaller deal yang sebenarnya tidak strategic, tapi punya revenue contribution yang bisa hit Q4.

Apakah itu keputusan benar? Saya tidak yakin sampai sekarang. Saya hit target. Tapi saya kompromi strategic clarity untuk hit number. Itu tradeoff yang executive-level harus buat — saya baru pengalaman pertama, dan saya tidak yakin saya memutuskan dengan baik.

Apa yang saya benar?

Satu hal: team building. Setelah satu tahun, saya punya tim 3 BD professional yang saya percaya. Mereka punya autonomy untuk eksekusi, mereka ada chemistry, mereka belajar fast. Itu yang akan mempertahankan momentum saya 2018.

Apa rencana 2018?

Pertama, lebih strategic clarity. Saya akan spend Q1 untuk write detailed partnership strategy — apa yang kami invest in, apa yang kami divest dari, kenapa. Itu akan jadi compass untuk semua deal selanjutnya.

Kedua, build relationship dengan investor lokal. Saya banyak waktu dengan partner platform global, tapi belum cukup waktu dengan local VC dan investor. Indonesia tech ecosystem changing fast — saya harus stay close.

Ketiga, dan paling pribadi: balance dengan keluarga. Anak saya umur 2 tahun. Saya kerja jam 7 pagi sampai 9 malam terlalu sering. Istri saya patient, tapi itu tidak sustainable. 2018 saya berkomitmen: out jam 7 malam minimum 3 hari seminggu.

Mari kita lihat. Saya akan tulis lagi setahun lagi.

Komentar

Memuat komentar…