0%
3 min left

Setahun di Metranet: Refleksi + Pelajaran Bangun Produk untuk Banyak Orang

Setahun di Metranet: Refleksi + Pelajaran Bangun Produk untuk Banyak Orang
← Kembali ke Blog

Hari ini tepat satu tahun saya kerja di Metranet. Setahun lalu saya tulis tentang pindah dari Trikarsa, hopeful tapi sedikit anxious. Sekarang, dengan 365 hari pengalaman, saya bisa lebih jujur soal apa yang berubah dan apa yang saya pelajari.

Pertama, soal produk vs project. Setahun lalu saya bilang Metranet menawarkan kerja "produk", bukan "project". Itu betul, tapi tidak persis sederhana. Di Metranet, kami punya beberapa produk yang dipakai konsumen — sebagian Telkomsel-related, sebagian generik content. Tiap produk punya tim, ada PM, ada designer, ada backend, ada frontend (saya), ada QA.

Yang beda dari Trikarsa: keputusan dibuat bareng. Saya tidak lagi ditugasi "build feature X" — saya ikut diskusi "kenapa fitur ini ada?", "user mana yang kita target?", "metric apa yang akan menentukan sukses?". Awalnya saya tidak nyaman. Saya engineer, bukan PM, bukan marketing. Tapi setelah 6 bulan, saya sadar: justru ini yang membuat developer jadi developer yang lebih baik. Tahu kenapa, bukan cuma tahu bagaimana.

Kedua, soal users. Di Trikarsa, "user" itu abstrak — biasanya kita gak ketemu mereka, hanya melalui requirement dokumen. Di Metranet, saya bisa pakai produk yang saya bangun sendiri (saya pakai harian). Saya bisa cek Google Analytics, lihat berapa orang yang click button yang saya design. Saya bisa baca user feedback (mostly via Facebook page comments).

Yang mengejutkan: feedback users seringnya tidak sama dengan asumsi kami di tim. Fitur yang kita pikirin "killer", ternyata banyak orang tidak pakai. Fitur yang biasa-biasa saja, dipuji habis-habisan. Itu humbling. Saya belajar bahwa intuisi developer tentang user tidak selalu benar — data lebih jujur.

Ketiga, soal budaya korporat BUMN. Setahun lalu saya khawatir ini akan jadi tantangan. Hasilnya: campuran. Memang ada lebih banyak meeting daripada Trikarsa. Memang ada lebih banyak struktur formal. Memang ada politik kantor yang lebih kompleks (siapa report ke siapa, siapa decide apa, dll). Tapi saya juga belajar: politik kantor itu bukan selalu hal jelek. Kadang itu cara organisasi besar bertahan dan tumbuh dengan ribuan orang dengan opini berbeda-beda. Saya mulai mengerti kenapa BUMN seperti Telkom Group bertahan puluhan tahun — bukan karena tidak ada inefisiensi, tapi karena mereka punya kemampuan absorb keragaman.

Yang paling mengejutkan: saya nyaman di sini. Setahun lalu saya bayangkan saya akan resist atau pindah cepat. Sekarang, saya merencanakan stay setidaknya 2-3 tahun lagi. Bukan karena cari aman — tapi karena pelajaran yang saya dapat di sini tidak bisa saya dapat di startup atau di outsourcing.

Yang masih PR: speed of iteration. Di Metranet, dari ide ke production bisa makan 1-3 bulan. Di startup yang saya kenal, itu bisa 1 minggu. Buat product yang fast-moving (social media, content), pace kami terlalu lambat. Ini frustasi.

Tapi sebagai pelajaran karir, satu tahun ini berharga. Saya makin yakin: untuk umur 23-25, kerja di organisasi yang besar memberi kerangka berpikir yang sulit didapat di tempat lain. Setelah itu, baru pindah ke yang lebih kecil dan cepat.

Mari kita lihat tahun ke-2.

Komentar

Memuat komentar…