0%
3 min left

Pindah dari Telkom Group ke Posdigi — Mengapa Saya Ambil Risiko

Pindah dari Telkom Group ke Posdigi — Mengapa Saya Ambil Risiko
← Kembali ke Blog

Minggu lalu saya official sign offer di Posdigi (PT Pos Finansial Indonesia). Posisi: Chief Operating Officer. Mulai 1 Agustus. Setelah 11 tahun di Telkom Group (Metranet), saya akan pindah ke BUMN lain — anak Pos Indonesia.

Saya tulis tentang keputusan ini bukan untuk PR atau announcement formal (sudah di-handle HR). Tapi untuk refleksi tentang mengapa saya ambil risiko, dan apa yang saya pelajari dalam proses keputusan-nya.

Mari saya jelaskan.

Pertama, apa Posdigi.

Posdigi adalah anak perusahaan Pos Indonesia yang fokus pada digital financial services. Dia adalah extension dari "Pos Indonesia melayani keuangan masyarakat" historic (Wesel Pos, simpanan, dll), tapi dengan platform digital modern.

Visi: build infrastruktur fintech untuk segment yang underserved — UMKM, kelas menengah-bawah di kota tier-2/3, masyarakat yang tidak punya banking access. Dengan jaringan Pos Indonesia (4,800+ titik di seluruh negeri), Posdigi punya distribusi yang fintech startup tidak bisa replicate.

Tantangan: company-nya muda (didirikan formal awal 2021), tim masih kecil (~150 orang versus Metranet yang ratusan), produk masih early-stage.

Kedua, kenapa saya ambil keputusan ini.

Saya pikir 4 bulan setelah first conversation dengan CEO Posdigi (mengenalkan diri di event industri tahun lalu). Beberapa alasan:

Pertama, scope yang signifikan lebih besar. Di Metranet sebagai VP Digital Advertising, saya manage one vertical revenue. Di Posdigi sebagai COO, saya manage seluruh operasi — product, engineering, marketing, business development, partnership. Itu order of magnitude lebih kompleks.

Kedua, opportunity yang konkret. Posdigi sedang launch produk-produk strategic: pinjaman UMKM, wealth management retail, payment infrastructure untuk Pos Indonesia network. Saya akan jadi orchestrator launch ini, bukan sekedar follow up roadmap orang lain.

Ketiga, dan ini yang paling personal: saya ingin tantangan yang berbeda. 11 tahun di Telkom Group, saya tahu konteks-nya sangat baik. Tapi knowledge itu juga jadi blinder — saya pikir dengan cara yang sangat Telkom. Pindah ke Pos ecosystem akan force saya think differently, learn fresh, build context baru.

Apa risiko-nya?

Pertama, learning curve yang besar. Fintech adalah industry yang baru untuk saya. Regulatory environment, risk management, capital adequacy — semua perlu saya pelajari quickly. Saya plan untuk spend 6 bulan pertama mostly listening + learning.

Kedua, network harus rebuild. 11 tahun di Telkom Group, saya kenal puluhan eksekutif, ratusan partner. Di Pos ecosystem, saya start dari fresh. Itu butuh investment waktu yang signifikan.

Ketiga, organizational uncertainty. Posdigi muda. Banyak proses yang belum mature. Banyak konflik antar tim yang masih sedang di-resolve. Saya akan masuk di tengah-tengah itu sebagai outsider yang harus quickly establish credibility.

Apa rencana 100 hari pertama?

Pertama 30 hari: listening tour. Setiap karyawan Posdigi (skala 150 orang masih manageable untuk 1-on-1), setiap stakeholder eksternal (Pos Indonesia, regulator, partner), setiap customer kategori (UMKM, retail individual).

Hari 30-60: strategic assessment. Apa yang work, apa yang tidak, where are the leverage points untuk perbaikan. Document temuan dan share dengan board + CEO.

Hari 60-100: build coalition dan launch quick wins. Identifikasi 2-3 inisiatif yang bisa di-eksekusi dalam 3-6 bulan dengan high impact. Mulai mobilize tim.

Apa yang saya berharap setelah setahun?

Posdigi yang punya foundational systems yang solid: product roadmap yang clear, engineering team yang stable, partnership pipeline yang produktif, financial discipline yang tegas.

Itu bukan visi perubahan dramatic — Posdigi tidak akan jadi Tokopedia atau Gojek dalam setahun. Tapi build foundation untuk growth yang sustained dalam 3-5 tahun.

Dan yang lebih personal: saya akan tulis lagi setahun lagi. Cerita tentang transisi besar ini akan jadi cerita yang berkelanjutan — sukses, kegagalan, pelajaran. Mari kita lihat.

Komentar

Memuat komentar…