Pilih Blogspot atau WordPress.com Buat Blog Personal?
Sebagai web designer, saya seharusnya bikin blog sendiri pakai PHP dan host di server sendiri. Tapi setelah dipikir-pikir, untuk hal yang sifatnya nulis-nulis pribadi, kenapa harus repot? Blogger (Blogspot) milik Google, fiturnya cukup, gampang setup. WordPress.com lebih banyak template tapi lebih banyak juga aturan.
Selama seminggu terakhir saya bolak-balik buka dua-duanya, bikin akun, coba-coba interface. Akhirnya saya pilih Blogspot. Tapi proses keputusannya menarik untuk ditulis, terutama buat teman-teman yang juga lagi mau mulai ngeblog.
WordPress.com punya keunggulan jelas di sisi tulisan. Editor-nya lebih nyaman buat orang yang serius mau nulis. Tag system, kategori, comment moderation — semuanya lebih rapi. Template-nya juga lebih banyak yang clean dan profesional. Kalau tujuan saya jadi penulis online yang ditemukan banyak orang, WordPress.com pilihan logis.
Blogger lebih sederhana. Editor-nya basic. Template-nya banyak tapi banyak juga yang terlihat amatir. Tapi yang membuat saya pindah pikiran: Blogger jauh lebih flexible untuk custom HTML/CSS. Saya bisa edit template-nya bebas, masukin script apa saja, embed widget pihak ketiga tanpa batasan. Sebagai orang yang punya background ngoprek code, ini menarik. Saya bisa bikin Blogspot saya kelihatan beda dari semua orang.
Lalu ada faktor Google. Blogger milik Google, dan Google tidak akan tutup ini dalam waktu dekat. WordPress.com milik Automattic, perusahaan yang lebih kecil. Saya tidak meragukan komitmen mereka, tapi soal long-term safety, Blogger lebih aman. Saya tidak mau setahun lagi blog saya hilang karena layanan-nya tutup.
Yang ketiga, integrasi. Saya pakai Gmail tiap hari. Pakai Google Reader buat baca RSS. Pakai Google Docs di kantor. Login Blogger pakai akun Google yang sama. Tidak ada beban tambahan. Semua satu paket.
Tapi ada hal yang saya pikirin terus. Saya beruntung punya kemampuan custom-template. Buat teman saya yang tidak punya background coding, WordPress.com mungkin lebih cocok — template-nya lebih bagus out-of-the-box, dan tidak perlu pusing CSS. Pilihan platform ini bukan soal "yang terbaik", tapi soal "yang paling pas dengan skill yang saya punya hari ini".
Akhirnya saya buka Blogger, pilih template sederhana, lalu langsung edit HTML-nya. Saya naro Google Analytics, naro AdSense (siapa tahu suatu hari ada uangnya), naro widget jam digital di sidebar (random, tapi kayaknya lucu).
Yang menarik, satu jam tadi saya habiskan bukan untuk nulis post, tapi untuk mikir template. Mungkin ini akan jadi pola ke depan — designer lebih sering ngedit tampilan blog daripada nulis di dalamnya. Tapi tidak apa-apa. Saya rencanakan post pertama besok pagi.
Cukup di Blogspot dulu. Kalau ternyata cocok, lanjut. Kalau ternyata tidak cocok, pindah. Web 2.0 enak begitu — semua platform menyediakan export, migrasi data sudah jadi fitur standar.

Komentar