0%
2 min left

Pertama Kali Pegang iPhone Punya Teman dari Singapore

Pertama Kali Pegang iPhone Punya Teman dari Singapore
← Kembali ke Blog

Teman dari Singapore datang ke kantor hari Senin, bawa iPhone — barang yang belum resmi dijual di Indonesia. Setengah jam saya pinjam, kepala langsung penuh pertanyaan.

Pertama yang saya kaget: tidak ada keyboard fisik. Semua di layar. Buat saya yang biasa pakai Nokia E61 dengan keyboard QWERTY, ini terasa aneh — sampai saya coba scroll daftar kontak dengan jari, dan tiba-tiba "klik". Ada sensasi langsung dengan layar yang tidak ada di handphone biasa. Saya bisa pinch foto untuk zoom. Saya bisa flick playlist musik. Setiap interaksi terasa seperti memang dirancang untuk jari, bukan untuk stylus atau tombol arrow.

Tapi ini bukan tulisan tentang teknologi-nya. Yang lebih menarik buat saya: kenapa Apple memilih tidak masuk Indonesia dulu.

iPhone sudah keluar di Amerika sejak pertengahan 2007. Sekarang sudah hampir setahun. Singapore, Hongkong, Jepang sudah punya. Indonesia, dengan populasi besar dan pasar smartphone yang lagi tumbuh — masih harus nunggu. Apple pasti sudah hitung. Mereka pilih wait. Kenapa?

Saya rasa jawabannya sederhana: distribusi dan service. iPhone bukan barang yang bisa dijual lewat distributor biasa. Mereka butuh telco partner yang mau bagi revenue dari pulsa bulanan. Mereka butuh service center yang serius. Mereka butuh ekosistem App Store yang local payment-nya jalan. Indonesia waktu ini, semua itu belum ready. Telkomsel atau Indosat belum mau bagi-bagi revenue. Service center? Mau di mana? Lokal app payment? Kartu kredit penetrasi-nya masih kecil.

Jadi sementara teman-teman di Jakarta beli iPhone bekas pakai unlock-an dari toko Roxy, Apple sengaja tidak masuk. Mereka tidak mau rusak experience-nya. Mereka mau iPhone di Indonesia datang dengan setup yang utuh.

Pelajaran buat saya: di sebuah pasar yang sedang lapar, kadang menunggu adalah strategi paling kuat. Friendster duluan masuk Indonesia, sekarang kalah. Tapi belum tentu Apple yang lambat masuk akan rugi. Justru dengan menunda, Apple membangun mitos. Semua orang yang habis liburan ke Singapore atau US sekarang punya iPhone — dan jadi cerita di kantor, di kafe, di Facebook. Itu marketing gratis selama dua tahun.

Saya kembalikan iPhone ke teman saya, balik ke Nokia E61. Tapi saya tahu, dua tahun lagi handphone saya pasti sudah ganti — entah iPhone atau apa yang sekategori dengan-nya. Layar yang langsung di-tap pakai jari ini, bukan tren sesaat. Ini cara baru orang berinteraksi dengan device.

Yang saya tidak yakin: kapan giliran kita di Indonesia. Tapi saya yakin pasti datang.

Komentar

Memuat komentar…