0%
7 min left

Kenapa Saya Pikir Fintech adalah Chapter Berikutnya dari Digital Indonesia

Kenapa Saya Pikir Fintech adalah Chapter Berikutnya dari Digital Indonesia
← Kembali ke Blog

Kenapa Saya Pikir Fintech adalah Chapter Berikutnya dari Digital Indonesia

Beberapa minggu terakhir ini saya tidak bisa tidak memikirkan satu pertanyaan: setelah e-commerce dan ride-hailing, apa yang berikutnya?

Jawaban yang paling sering saya dengar dari orang-orang di industri — dan yang semakin saya yakini sendiri — adalah: fintech.

Bukan prediksi yang sangat berani. Sinyal-sinyalnya sudah ada di mana-mana. Tapi seperti biasa, yang menarik bukan hanya apakah fintech akan besar — itu hampir pasti. Yang menarik adalah bagaimana ia akan berkembang di Indonesia, dengan semua konteks dan kompleksitas yang membuat pasar kita unik.


Masalah yang Belum Terpecahkan

Sebelum bicara tentang fintech, saya ingin mulai dari masalah yang melatarbelakanginya.

Indonesia punya lebih dari 260 juta penduduk. Tapi kalau kamu lihat data perbankan, ada sesuatu yang sangat mencolok: sebagian besar dari populasi itu masih unbanked atau underbanked. Mereka tidak punya rekening bank, atau punya rekening tapi akses ke layanan keuangan yang lebih kompleks — kredit, asuransi, investasi — sangat terbatas.

Bagi yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar, ini mungkin terasa jauh. Hampir semua orang di sekitar kita punya rekening bank, punya kartu kredit, bisa transfer lewat mobile banking. Tapi Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada ratusan juta orang di luar kota-kota besar yang hidupnya masih sangat cash-based — bukan karena mereka tidak butuh layanan keuangan, tapi karena akses ke layanan itu betul-betul tidak ada atau tidak terjangkau.

Dan inilah yang membuat fintech bukan sekadar tren teknologi — tapi jawaban atas masalah yang sangat nyata dan sangat besar.


Yang Sudah Terjadi di Telkom Group

Saya bekerja di Metranet — anak perusahaan Telkom Group. Dan dari posisi ini, saya menyaksikan langsung bagaimana Telkom Group mulai serius masuk ke ekosistem fintech.

Yang paling dekat dengan saya adalah UPoint. Mulai 2015, Metranet fokus pada dua portofolio utama: Digital Payment melalui UPoint dan Digital Advertising melalui UAd. The Stanford Daily UPoint adalah platform digital payment yang memungkinkan pengguna membayar digital goods — game online, konten streaming, voucher digital — dengan berbagai metode pembayaran termasuk potong pulsa Telkomsel, T-Cash, T-Money, dan IndiHome Pay.

Ini kelihatannya simpel. Tapi yang menarik dari UPoint bagi saya adalah positioning-nya: ia menjangkau segmen pengguna yang mungkin tidak punya kartu kredit atau rekening bank yang lengkap, tapi punya handphone dan pulsa. Dan di Indonesia, jumlah orang yang punya handphone jauh lebih banyak dari yang punya kartu kredit. Itu adalah insight yang sangat penting.

Dan di level Telkom Group yang lebih besar, ada Finnet Indonesia — anak perusahaan Telkom yang sudah beroperasi sejak 2006. Per Agustus 2016, Finnet sudah mengelola 500 juta transaksi dengan total nilai Rp 65 triliun Naharnet — angka yang luar biasa besar, dan bukti bahwa infrastruktur payment Telkom Group sudah sangat matang. Pangsa pasar Finnet di segmen bill payment aggregator mencapai 60% Naharnet — dominasi yang tidak main-main. Dengan tiga portofolio bisnis — bill payment aggregator, electronic payment platform, dan online payment solution — Finnet adalah salah satu pemain fintech terbesar di Indonesia yang mungkin tidak banyak disebut di media karena bergerak di belakang layar.

Bagi saya, ini bukan kebetulan. Telkom Group dengan infrastruktur jaringan yang mencakup seluruh Indonesia, dengan ekosistem pelanggan yang sangat besar, dan dengan aset digital seperti T-Cash — punya semua modal untuk menjadi pemain utama di fintech Indonesia. Yang perlu dipertanyakan adalah: apakah kita cukup berani dan cukup cepat bergerak?


Mengapa 2016 Adalah Momen yang Tepat

Beberapa hal yang terjadi tahun ini membuat saya yakin bahwa fintech Indonesia sedang di titik infleksi yang penting.

Regulasi mulai memberi kejelasan. Bank Indonesia dan OJK mulai mengeluarkan framework untuk fintech — khususnya untuk payment dan peer-to-peer lending. Ini bukan hambatan. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah mengakui keberadaan industri ini dan mau ikut membentuknya. Regulasi yang jelas adalah fondasi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang sustainable.

Go-Jek membuka jalan yang tidak terduga. Ketika Go-Jek meluncurkan GoPay lebih serius di 2016 ini, mereka membuktikan sesuatu yang sangat menarik: bahwa dompet digital bisa diadopsi masif kalau ada use case yang kuat di baliknya. Orang tidak download GoPay karena mau punya dompet digital — mereka download GoJek dan GoPay ikut masuk. Ini adalah blueprint yang sangat penting tentang bagaimana fintech bisa scale di Indonesia — bukan lewat edukasi finansial yang panjang, tapi lewat use case sehari-hari yang betul-betul berguna.

Smartphone penetration terus naik. Setiap orang baru yang pertama kali punya smartphone dan terkoneksi ke internet adalah potential user fintech. Dan jutaan orang Indonesia baru masuk ke ekosistem ini setiap tahunnya. Timing-nya sangat baik.


Yang Berbeda dari Pasar Lain

Indonesia bukan China. Bukan Amerika. Bukan bahkan Singapura. Dan fintech yang akan berhasil di Indonesia adalah yang memahami perbedaan-perbedaan itu.

Beberapa hal yang menurut saya perlu dipahami tentang pasar Indonesia untuk fintech:

Pertama, trustnya berbeda. Orang Indonesia belum tentu langsung percaya dengan pemain baru di industri keuangan. Trust dibangun dari merek yang dikenal, dari reputasi, dari proximity — kedekatkan dengan komunitas dan konteks lokal. Ini kenapa pemain yang sudah punya ekosistem — seperti Telkom Group, atau Bank-bank BUMN — punya keunggulan yang tidak bisa dibeli begitu saja oleh startup baru.

Kedua, distribusi adalah segalanya. Indonesia itu luas. Sangat luas. Fintech yang hanya bisa diakses lewat smartphone dengan koneksi internet stabil akan selalu terbatas jangkauannya. Yang akan menang adalah yang bisa menjangkau tier 2, tier 3, bahkan pedesaan — dan itu butuh model distribusi yang sangat berbeda dari yang biasa dipakai di kota besar.

Ketiga, denominasi transaksinya kecil. Ini bukan kelemahan — ini karakteristik yang justru harus dijadikan keunggulan. Salah satu kekuatan UPoint, misalnya, adalah kemampuannya untuk handle transaksi dengan denominasi sangat kecil yang tidak terlayani kartu kredit. Fintech yang bisa melayani transaksi Rp 500 sampai Rp 50.000 dengan efisien akan menjangkau pasar yang jauh lebih luas dari yang melayani transaksi jutaan rupiah.


Yang Masih Membuat Saya Bertanya-tanya

Tentu saja, tidak semua pertanyaan terjawab.

Saya masih bertanya-tanya tentang seberapa jauh regulasi akan memberi ruang bagi inovasi. OJK baru saja mulai meregulasi peer-to-peer lending — ini bagus, tapi seberapa cepat regulasinya bisa mengikuti kecepatan industri yang bergerak? Terlalu ketat akan membunuh inovasi, terlalu longgar akan membuka risiko yang tidak perlu.

Saya juga masih bertanya-tanya tentang persaingan. Pemain global — Alibaba sudah masuk lewat investasinya di Tokopedia, fintech-fintech dari China dan Amerika sedang mengamati Indonesia dengan serius — punya modal yang jauh lebih besar dan teknologi yang lebih matang. Bagaimana pemain lokal, termasuk yang ada di ekosistem BUMN seperti Telkom Group, bisa mempertahankan posisi di tengah kompetisi itu?

Dan yang paling penting: apakah fintech akan betul-betul menjangkau yang paling membutuhkan — mereka yang tinggal jauh dari kota, yang tidak punya akses ke perbankan — atau ia hanya akan melayani kelas menengah urban yang sudah punya akses ke mana-mana?


Satu Hal yang Saya Yakini

Di tengah semua ketidakpastian itu, ada satu hal yang saya yakini: fintech bukan hanya tentang teknologi. Ini tentang akses.

Akses ke layanan keuangan yang selama ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk Indonesia. Akses ke kredit bagi yang tidak punya agunan. Akses ke asuransi bagi yang penghasilannya tidak cukup besar untuk dilirik oleh perusahaan asuransi konvensional. Akses ke instrumen investasi sederhana bagi yang mau mulai tapi tidak tahu caranya.

Kalau fintech bisa menjawab kebutuhan akses itu — bukan hanya menghadirkan produk yang fancy bagi yang sudah punya segalanya — maka ini bukan hanya akan jadi industri yang besar. Ini akan menjadi salah satu kontribusi terbesar teknologi digital terhadap ekonomi Indonesia.

Dan saya pikir kita sedang di awal dari perjalanan itu.

Baca juga:

Komentar

Memuat komentar…