2015: Tahun di Mana Saya Mulai Percaya Startup Indonesia Bisa Besar

Beberapa tahun lalu, kalau ada yang tanya pendapat saya tentang startup Indonesia, jawaban saya cukup skeptis. Bukan karena saya tidak respek dengan yang mereka coba bangun. Tapi karena saya sering bertanya-tanya: apakah ekosistem ini benar-benar akan menghasilkan sesuatu yang besar? Atau ini hanya hype sesaat yang akan hilang begitu uang investor habis?
Di penghujung 2015 ini, untuk pertama kalinya, saya mulai menjawab pertanyaan itu dengan lebih optimistis.
Bukan karena ada yang menjanjikan. Bukan karena ada headline besar yang memaksa saya percaya. Tapi karena saya melihat beberapa hal yang menurut saya bukan sekadar hype — tapi betul-betul fondasi dari sesuatu yang sedang dibangun.
Apa yang Berubah di 2015
Kalau saya coba identifikasi satu hal yang paling mengubah cara saya melihat startup Indonesia di tahun ini, jawabannya jelas: Go-Jek.
Bukan karena mereka startup pertama yang menarik perhatian saya. Tapi karena Go-Jek adalah yang pertama yang saya rasakan sendiri dampaknya — setiap hari, secara konkret, dalam kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya.
Go-Jek meluncurkan app-nya di Januari 2015 — dan dalam waktu kurang dari dua tahun, app itu sudah didownload hampir 30 juta kali. The Stanford Daily Tapi bagi saya, yang lebih penting dari angkanya adalah apa yang terjadi di lapangan. Jaket hijau tiba-tiba ada di mana-mana. Orang yang tadinya tidak pernah mikirin ojek tiba-tiba jadi pengguna setia. Dan pengemudi ojek yang tadinya menganggur di pangkalan tiba-tiba punya income yang lebih terstruktur dan lebih besar.
Ini bukan sekadar "app yang berguna." Ini adalah sebuah produk yang betul-betul mengubah perilaku jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat. Dan itu, bagi saya, adalah bukti bahwa startup Indonesia tidak hanya bisa survive — tapi bisa scale.
Nama-nama yang Mulai Saya Perhatikan
Go-Jek bukan satu-satunya yang membuat saya optimistis di 2015.
Ada beberapa nama lain yang saya mulai perhatikan lebih serius tahun ini — bukan karena mereka sudah besar, tapi karena cara mereka tumbuh terasa berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
Tokopedia sudah ada sejak 2009 — didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison. Tapi di 2015, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda dari cara mereka bergerak. Bukan hanya jualan online biasa. Tapi sebuah marketplace yang betul-betul memberdayakan penjual kecil — ibu rumah tangga yang jualan dari rumah, pengusaha kecil yang belum pernah punya toko fisik — untuk bisa menjangkau pembeli dari seluruh Indonesia. Ada misi yang lebih dalam di sana dari sekadar bisnis.
Traveloka — yang didirikan Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang di 2012 — mulai mengubah cara orang Indonesia memesan tiket pesawat dan hotel. Sebelum Traveloka, proses itu ribet: harus ke travel agent, atau buka banyak website berbeda untuk compare harga. Traveloka menyederhanakan itu semua menjadi satu app. Simpel, tapi sangat impactful.
Dan ada ekosistem yang lebih luas dari itu — startup-startup yang mungkin belum banyak orang dengar di 2015 tapi sedang membangun sesuatu di bidang fintech, healthtech, edtech. Tidak semua akan berhasil, saya tahu itu. Tapi ada cukup banyak yang terlihat serius.
Kenapa Indonesia — dan Kenapa Sekarang?
Ini pertanyaan yang sering saya diskusikan dengan orang-orang di industri. Dan di 2015, saya mulai punya jawaban yang lebih jelas.
Pertama: ukuran pasarnya tidak ada duanya di Asia Tenggara. 250 juta penduduk. Mayoritas muda. Dan yang paling penting — mereka mulai online. Smartphone penetration terus naik. Data semakin murah. Setiap tahun ada puluhan juta orang Indonesia yang pertama kali memegang smartphone dan pertama kali mengakses internet. Bagi startup yang tepat, ini adalah peluang yang sangat besar.
Kedua: masalah yang dipecahkan itu nyata dan besar. Go-Jek tidak memecahkan masalah yang hanya dirasakan oleh segelintir orang. Kemacetan Jakarta adalah masalah yang dirasakan jutaan orang setiap hari. Sulitnya memesan tiket pesawat adalah masalah yang dirasakan siapapun yang mau bepergian. Hambatan untuk berjualan online adalah masalah yang dirasakan jutaan pedagang kecil. Startup yang menjawab masalah-masalah real itu punya market yang sudah ada — mereka tidak perlu menciptakan kebutuhan dari nol.
Ketiga: ada momentum yang mulai terbentuk. Go-Jek mulai menarik investasi dari Sequoia India dan Northstar seiring pertumbuhannya yang pesat di awal 2015. DigitalToday Ini bukan hanya berita tentang satu startup — ini sinyal bahwa investor global mulai memperhatikan Indonesia dengan serius. Dan ketika investor besar masuk, ekosistemnya ikut tumbuh: lebih banyak talent yang tertarik, lebih banyak founder yang percaya diri untuk memulai, lebih banyak infrastruktur yang dibangun.
Yang Masih Membuat Saya Ragu
Saya menulis ini dengan optimisme, tapi saya juga tidak naif.
Ada hal-hal yang masih membuat saya bertanya-tanya. Apakah growth yang terjadi sekarang adalah growth yang sustainable? Atau ini adalah growth yang disubsidi investor yang akan melambat drastis begitu funding mulai ketat? Berapa banyak dari startup yang ada sekarang yang masih ada dalam lima tahun?
Saya juga melihat bahwa banyak startup masih sangat Jakarta-sentris. Masalah yang mereka pecahkan — kemacetan kota, kemudahan belanja online, travel booking — adalah masalah yang paling dirasakan oleh kelas menengah urban. Bagaimana dengan Indonesia yang di luar Jakarta? Bagaimana dengan petani di Jawa Tengah, nelayan di Sulawesi, pengusaha kecil di Kalimantan?
Dan ada satu pertanyaan yang selalu muncul di kepala saya: apakah ekosistem ini sedang membangun sesuatu yang betul-betul milik Indonesia? Atau kita sedang membangun pasar yang pada akhirnya akan dikuasai pemain asing yang punya modal lebih besar?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab di 2015 ini. Dan mungkin belum akan terjawab dalam waktu dekat.
Tapi Saya Percaya
Terlepas dari semua keraguan itu, ada satu hal yang saya yakini di penghujung 2015 ini.
Startup Indonesia sedang membangun sesuatu yang nyata. Bukan hanya valuasi di atas kertas, bukan hanya headline yang menarik investor asing. Tapi produk-produk yang betul-betul dipakai oleh jutaan orang Indonesia setiap hari. Yang mengubah perilaku, yang mempermudah hidup, yang membuka peluang bagi yang tadinya tidak punya akses.
Go-Jek membuktikan bahwa sebuah startup Indonesia bisa tumbuh dari 20 pengemudi ojek menjadi ratusan ribu mitra hanya dalam beberapa tahun. Tokopedia membuktikan bahwa marketplace Indonesia bisa memberdayakan jutaan penjual kecil yang tidak punya tempat berjualan sebelumnya. Traveloka membuktikan bahwa user experience yang baik bisa mengubah industri yang sudah ada puluhan tahun.
Apakah salah satu — atau beberapa — dari nama-nama ini akan menjadi perusahaan kelas dunia suatu hari? Saya tidak tahu. Di 2015, tidak ada yang tahu. Unicorn Indonesia belum ada — Go-Jek baru akan dapat status itu tahun depan, Tokopedia dua tahun lagi.
Tapi untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa ekosistem ini sedang menuju ke sana. Pelan-pelan, dengan cara yang lebih organik dari yang sering diceritakan di media.
Dan itu sudah cukup untuk membuat saya percaya.
Baca juga:




Komentar