0%
3 min left

Dua Tahun Senior PM + Tawaran ke Posisi GM Partnerships

Dua Tahun Senior PM + Tawaran ke Posisi GM Partnerships
← Kembali ke Blog

Dua tahun lalu saya pindah dari ADM ke Senior Project Manager. Setahun lalu saya tulis pelajaran pertama. Hari ini, di akhir tahun ke-2 di posisi ini, ada perkembangan baru: minggu lalu saya dapat penawaran untuk pindah ke posisi General Manager Partnerships & Business Development di Metranet, mulai Januari 2017.

Saya pertimbangkan dengan serius. Hari ini saya konfirmasi: saya terima.

Saya akan jelaskan kenapa, dan apa yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Senior Project Manager fokus eksekusi project tertentu — mulai dari brief sampai delivery. GM Partnerships & BD fokus pada relasi dengan partner — partner content, partner distribusi, partner teknologi. Bukan project execution, tapi business development. Skill yang berbeda.

Kenapa saya tertarik?

Pertama, exposure ke business decisions di level eksekutif. Di SPM, saya implement strategi yang dibuat orang lain. Di GM Partnerships, saya bantu shape strategi. Saya akan punya regular face time dengan eksekutif Metranet dan partner CEO. Itu fase belajar baru.

Kedua, network external yang luas. SPM banyak waktu di internal Metranet/Telkom. GM Partnerships akan jadi face Metranet ke partner external — Google, Facebook, Spotify, Netflix, content studio lokal, telco partner regional. Network itu valuable jangka panjang.

Ketiga, financial decision di level yang lebih tinggi. Negosiasi kontrak partnership sering involve nilai miliaran rupiah. Saya akan belajar struktur kontrak yang complex, term yang sebelumnya saya tidak pernah pikirin, risk management di level strategic.

Tapi ada juga concerns.

Pertama, saya jauh lebih dari technical work. Setelah 2 tahun di SPM, saya sudah lupa banyak technical detail. Setelah 1-2 tahun di GM Partnerships, saya akan lupa lebih banyak lagi. Apakah saya OK dengan itu?

Saya pikir 3 minggu. Kesimpulan: ya. Karena yang membuat saya value-add di industri ini bukan lagi technical depth saya. Itu yang banyak engineer hebat di tim kasih. Yang bisa saya kasih: bridging technical, business, dan partner relationship. Skill itu butuh saya jauh dari coding, dekat dengan business.

Kedua, politik kantor lebih intense di level GM. SPM lebih shielded — saya manage project, bukan organisasi. GM punya P&L responsibility, ada target growth, ada tekanan dari atas yang lebih besar. Saya akan harus lebih politis.

Itu yang membuat saya bimbang. Tapi setelah diskusi panjang dengan istri (kami baru saja punya anak pertama awal tahun ini), saya yakin: ini langkah yang benar untuk fase hidup saya sekarang.

Apa rencana 2017?

Pertama, onboarding ke role baru. Sebagai GM Partnerships, saya akan inherit beberapa partnership existing — Netflix Indonesia distribution, Spotify content sponsorship, lokal studio konten. Plus saya harus build new partnership pipeline.

Kedua, build team. Saya akan punya tim 3-5 orang BD professional. Itu skill yang berbeda dari memimpin tim engineer — orang BD lebih senior usually, lebih independent, expect autonomy.

Ketiga, dan ini paling penting: tetap stay grounded. Setiap kali saya naik level, saya bisa terjebak di bubble eksekutif. Saya akan force diri untuk tetap dekat dengan engineering tim, dengan user data, dengan field reality. Tanpa itu, saya akan jadi GM yang detached.

Setahun lagi saya akan tulis. Saya tidak tahu apakah saya akan suka GM role. Saya tidak tahu apakah saya cocok. Tapi saya akan coba dengan jujur.

Sebagai biasa.

Komentar

Memuat komentar…