Dua Tahun GM Partnerships — Apakah Family Balance Jalan?
Setahun lalu saya tulis tentang setahun di GM Partnerships. Saya bilang akan re-evaluate setiap tahun. Sekarang dua tahun setelahnya — di akhir 2018 — ini check-in honest.
Pertanyaan paling besar yang saya commit setahun lalu: akan saya berhasil out kantor jam 7 malam minimum 3 hari seminggu (untuk balance dengan keluarga)?
Jawaban: sebagian.
Saya track-nya. Selama 2018: Jam 7 keluar: 78 hari (rata-rata 1.5 per minggu, target 3) Jam 8 keluar: 89 hari Jam 9-10 keluar: 67 hari Setelah jam 10: 21 hari
Tidak hit target. Tapi lebih baik dari 2017 (yang kebanyakan setelah jam 9).
Apa yang berubah?
Pertama, saya commit ke schedule yang lebih disiplin. Calendar saya block waktu 6-7 untuk transit + handover ke anak. Saya decline meeting yang propose setelah jam 6 sore kecuali memang kritis.
Kedua, saya delegate lebih. Tim saya sekarang punya autonomy untuk eksekusi deal yang nilai-nya dibawah threshold tertentu. Saya cuma terlibat untuk strategic deals yang nilai > 5 miliar rupiah. Itu free up waktu saya untuk decisions yang impact lebih besar.
Ketiga, saya redefine "produktif". Dulu saya merasa kerja lebih banyak = produktif. Sekarang saya pikir: kerja 8 jam fokus dengan jelas priority > kerja 14 jam scattered. Quality of decisions matters more than quantity of hours.
Tapi tetap struggle. Beberapa hari saya pulang jam 7 jelas waktu dengan anak (umur 3 sekarang). Hari-hari lain, ada emergency partner negotiation atau presentation ke board yang membuat saya stay lebih malam. Family balance bukan binary — itu spectrum yang harus saya navigate setiap minggu.
Apa pelajaran lebih besar setelah 2 tahun?
Pertama, GM role di organisasi besar tidak compatible dengan strict 9-to-5. Saya harus accept itu sebagai constraint. Yang bisa saya optimize: minimal hari yang panjang, maximal hari yang pulang awal, dan pastikan weekend protect.
Kedua, partner saya (istri) butuh terlibat dalam negosiasi tentang work-life. Setiap kali saya commit ke "lebih waktu di rumah", saya harus check dengan istri apakah cara saya track itu cocok dengan kebutuhan dia. Sometimes saya pulang jam 7 tapi physically depleted, mental masih kerja. Itu bukan "di rumah" yang real.
Ketiga, dan ini paling penting buat anak: saya invest in quality dari yang waktu yang ada. Weekend trip ke pantai. Bedtime story setiap malam saya di rumah. Phone off saat makan malam. Saya tidak akan dapet waktu yang hilang, tapi yang ada bisa dimanfaatkan dengan baik.
Soal kerja sendiri, 2018 jadi tahun yang menarik. Tahun pertama (2017) saya struggle. Tahun ini (2018) lebih stable. Beberapa deal besar — partnership dengan platform content global, partnership dengan vendor teknologi regional — selesai dengan term yang baik untuk Telkom Group. Negosiasi training yang saya enroll 2017 mulai berbuah.
Apa rencana 2019?
Pertama, Pemilu 2019 yang akan datang Q2. Sebagai industri partnership yang bekerja dengan platform social, saya akan harus navigate political dynamics. Bukan dengan ambil sisi, tapi dengan ensure kita tidak jadi tool untuk satu sisi.
Kedua, eksplorasi peluang non-organic. Saya mulai ngobrol dengan beberapa founder startup tentang potensi M&A atau strategic partnership. Telkom Group besar tapi slow. Mungkin pintu masuk yang faster ke ekosistem startup Indonesia adalah lewat acquisition target.
Ketiga, terus belajar. Saya enroll Executive Education program di sebuah business school regional (akan share kalau confirmed). 2 minggu intensive di Q3. Itu investment yang saya pikir akan transformatif.
Mari kita lihat. Tahun depan saya akan tulis lagi.

Komentar