0%
3 min left

COVID-19 dan Work From Home — Tantangan Tim yang Tidak Pernah Saya Bayangkan

COVID-19 dan Work From Home — Tantangan Tim yang Tidak Pernah Saya Bayangkan
← Kembali ke Blog

Sebulan sejak Jakarta semi-lockdown (PSBB pertama dimulai 10 April). Tim saya 5 BD professional + saya dukung 3 partner manager total 8 orang — semua WFH. Awalnya saya pikir "produktif kerja dari rumah, OK lah". Realita lebih kompleks.

Saya tulis observasi setelah 1 bulan pertama WFH yang full. Bukan tentang teknologi WFH (Zoom, Slack, Trello — semua tools sudah ada sebelumnya). Tentang dinamika tim yang berubah drastis ketika ada distance physical.

Pertama, communication overhead naik drastis.

Sebelumnya, banyak alignment yang terjadi spontan di kantor. Saya lewat meja BD officer, lihat dia struggle dengan deal, kami ngobrol 5 menit, problem solved. Tidak ada di Zoom call.

Sekarang setiap alignment harus dijadwal. Setiap pertanyaan butuh write Slack message dengan konteks. Setiap decision butuh email follow-up untuk dokumentasi. Communication yang dulu organik, sekarang formal.

Hasil: setiap deal butuh waktu 30-50% lebih lama dari sebelumnya. Tim saya kerja lebih lama (rata-rata 10 jam/hari versus 8 jam pre-pandemic) tapi output-nya sama.

Kedua, isolasi mental jadi problem real.

3 minggu di rumah, beberapa BD officer saya mulai menunjukkan tanda-tanda burnout. Bukan dari workload — workload sebenarnya lebih rendah karena banyak partner pause. Tapi dari mental fatigue. Hidup di kamar yang sama, makan di meja yang sama, kerja di kursi yang sama. Boundary antara kerja dan personal hilang.

Saya coba beberapa intervention: 1-on-1 weekly yang lebih sering, lunch break virtual (kami video call sambil makan), Friday afternoon "no meeting" supaya bisa fokus deep work. Itu helps tapi tidak solve problem fundamental.

Yang lebih helpful: saya encourage tim untuk take time off ketika mereka butuh. Salah satu BD officer saya pasti exhausted minggu lalu — saya bilang "ambil 3 hari off, kita cover deal-mu". Dia balik dengan energi yang sangat berbeda.

Pelajaran-nya: manager yang baik harus monitor mental health tim, bukan hanya productivity metrics.

Ketiga, dan ini paling concerning: relationship dengan partner external jadi shallow.

Sebelumnya, deal saya banyak yang dibantu lunch atau coffee dengan partner. Sekarang semua Zoom. Conversation jadi transaksional. Trust yang dibangun lewat informal interaction — sulit di-replicate online.

Saya rasakan ini ketika negosiasi major partnership di awal April. Partner Western yang biasanya warm setelah beberapa lunch face-to-face, jadi formal dan distant via Zoom. Deal-nya tetap close, tapi terms-nya lebih tough dari yang biasanya.

Pelajaran: kami harus berinvestasi di "virtual relationship building" yang lebih intensif. Bukan hanya virtual coffee, tapi sharing context personal — foto keluarga, lokasi kerja di rumah, perubahan rutinitas. Itu yang dulu tidak perlu, sekarang necessary.

Apa rencana saya untuk 3-6 bulan ke depan?

Pertama, accept bahwa WFH bukan transisi sementara. Saya pikir pandemic akan stay lebih lama dari yang banyak orang harapkan. Tim saya akan WFH minimal sampai akhir tahun. Saya harus design ekspektasi dan proses berdasarkan asumsi itu.

Kedua, build cadence yang sustainable. Daily standup pendek (15 menit max), weekly 1-on-1 setiap BD officer (30 menit), monthly team retrospective (90 menit). Lebih banyak meeting dari sebelumnya, tapi singkat dan jelas tujuannya.

Ketiga, dan ini paling penting: protect mental health tim — dan diri sendiri. Saya juga struggle. Anak saya 4 tahun dirumah belum sekolah, istri juga WFH dari rumah, ruang kerja saya share dengan ruang makan. Saya akan secara aktif schedule workout time, meal time, family time. Yang tidak protect — workout, family time, sleep — akan tergerus.

Untuk pembaca yang juga pertama kali WFH dengan tim besar: solidaritas. Ini hard. Tidak normal. Tidak ada playbook yang ready. Kita semua sedang belajar di tengah jalan.

Mari kita mutual support. Bagi tips yang work untuk Anda di komentar atau via DM. Saya akan share lebih banyak setelah 3 bulan WFH.

Komentar

Memuat komentar…