CEO Indonesia dan Keheningan di Balik Kegagalan
Ada kepercayaan yang nyaris tidak pernah dipertanyakan di kalangan eksekutif Indonesia: pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu cara mengambil pelajaran dari kegagalan. Kalimat itu muncul di hampir setiap forum leadership, setiap sesi coaching, setiap buku manajemen yang pernah saya baca.
Yang tidak pernah dibahas: mayoritas CEO Indonesia tidak pernah benar-benar berbicara tentang kegagalan mereka — setidaknya bukan di depan publik, bukan di atas panggung, dan tidak dalam versi yang masih terasa perih. Yang kita dengar selalu versi yang sudah bersih, sudah rapi, sudah punya ending yang redemptif. Kegagalan sungguhan — yang belum selesai, yang masih meninggalkan bekas — hampir selalu disimpan di tempat lain.
Ini Bukan Soal Kejujuran Personal
Saya kenal beberapa eksekutif yang, di luar panggung, sangat terbuka soal kegagalan mereka. Mereka bisa bercerita panjang lebar — dengan detail, dengan emosi, bahkan dengan tawa — tentang keputusan bodoh yang pernah mereka buat.
Tapi begitu ada kamera, ada wartawan, atau ada audiens formal, semuanya berubah. Narasi jadi lebih rapi. Kegagalan jadi "proses pembelajaran". Kerugian jadi "investasi jangka panjang".
Ini bukan soal mereka tidak jujur sebagai manusia. Ini soal sistem yang tidak pernah memberikan ruang aman untuk berbicara jujur sebagai pemimpin publik.
Tekanan yang Nyata
Kalau Anda pernah memimpin perusahaan — apalagi yang publik atau BUMN — Anda tahu tekanannya dari mana saja.
- Pemegang saham yang ingin melihat konsistensi dan kepercayaan diri.
- Media yang lebih suka headline "CEO akui gagal" daripada konteks di baliknya.
- Karyawan yang membutuhkan pemimpin yang terlihat tahu arah.
- Kompetitor yang akan menggunakan setiap kelemahan yang diakui secara publik.
Dalam ekosistem seperti itu, memilih diam atau memilih narasi yang sudah dipoles bukan tanda lemah. Itu pilihan yang sangat rasional.
Tapi rasional bukan berarti tidak ada biayanya.
Yang Kita Lewatkan
Ketika CEO tidak bicara tentang kegagalan, yang hilang bukan hanya cerita. Yang hilang adalah peta jalan untuk orang-orang yang akan menghadapi situasi serupa.
Saya belajar lebih banyak dari satu percakapan jujur dengan seorang eksekutif yang mau cerita tentang proyek yang gagal — mulai dari bagaimana dia membaca situasi yang salah, sampai bagaimana dia mengelola tim yang kehilangan moral — dibanding dari puluhan buku manajemen yang ditulis dengan kesimpulan yang sudah pasti.
Kegagalan yang diceritakan dengan jujur itu punya tekstur. Ada keputusan di tengah informasi yang tidak lengkap. Ada tekanan dari atas yang tidak bisa diceritakan ke bawah. Ada momen di mana pilihan terbaiknya tetap pilihan yang buruk.
Itulah yang membuat cerita kegagalan jauh lebih berharga dari cerita sukses. Karena di situlah kompleksitas kepemimpinan yang sesungguhnya berada.
Budaya yang Belum Terbentuk
Di Silicon Valley, ada semacam norma tidak tertulis bahwa founder yang pernah gagal justru lebih dipercaya. Investor melihat exit yang tidak sempurna sebagai bukti bahwa seseorang pernah benar-benar bertempur.
Indonesia belum sampai di situ. Dan saya tidak yakin kita bisa sampai ke sana hanya dengan menunggu.
Budaya itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia terbentuk ketika ada orang-orang yang memilih untuk bicara lebih dulu — dan ternyata tidak hancur karenanya.
Keberanian untuk berbicara tentang kegagalan bukan tanda tidak kompeten. Justru sebaliknya — hanya pemimpin yang benar-benar aman dengan identitasnya yang bisa melakukan itu.
Saya Pun Tidak Selalu Melakukannya
Ini bukan tulisan yang saya tulis dari posisi lebih tinggi. Saya sendiri punya kegagalan yang lebih mudah saya ceritakan sekarang dibanding tiga atau empat tahun lalu. Ada keputusan yang saya buat di Posdigi yang, kalau saya jujur, lahir dari keyakinan yang terlalu dini dan data yang terlalu sedikit. Hasilnya tidak bencana, tapi juga jauh dari yang saya bayangkan.
Waktu itu saya tidak bicara banyak soal itu. Sekarang saya bisa. Dan setiap kali saya menceritakannya, ada orang yang langsung bilang, "Ini persis situasi yang sedang saya hadapi sekarang."
Itu yang membuat saya terus mencoba untuk lebih terbuka — bukan karena ingin terlihat humble, tapi karena cerita itu ternyata berguna.
Apa yang Bisa Dimulai
Saya tidak punya solusi besar. Tapi ada beberapa hal yang saya pikir bisa dimulai dari sekarang:
- Forum tertutup yang benar-benar tertutup. Bukan seminar publik, tapi ruang di mana para eksekutif bisa ngobrol tanpa risiko dikutip. Ini seharusnya lebih banyak ada.
- Profil kepemimpinan yang lebih jujur di media. Bukan hanya soal pencapaian, tapi juga titik balik — termasuk yang menyakitkan.
- CEO yang mulai lebih dulu. Kalau para pemimpin senior di suatu industri mulai bicara lebih jujur, itu memberi izin tidak tertulis bagi yang lebih muda untuk melakukan hal yang sama.
Perubahan budaya hampir selalu dimulai dari seseorang yang bersedia menanggung risikonya lebih dulu. Dan biasanya, risikonya jauh lebih kecil dari yang dibayangkan.
Penutup
Saya tidak sedang minta para CEO untuk menggelar konferensi pers tentang kesalahan mereka. Itu tidak realistis dan mungkin juga tidak bijak.
Tapi ada banyak ruang di antara "diam sepenuhnya" dan "bicara semua". Dan di ruang itulah, saya pikir, kita bisa mulai membangun kultur kepemimpinan yang lebih dewasa di Indonesia.
Bukan kultur yang memuja kegagalan secara romantis. Tapi kultur yang tidak lagi berpura-pura bahwa kegagalan tidak pernah terjadi.
Karena semua orang di ruangan itu tahu — kegagalan selalu terjadi. Pertanyaannya hanya: siapa yang cukup berani untuk berbicara tentangnya pertama kali?
Baca juga:


Komentar