0%
3 min left

AlphaGo Menang vs Lee Sedol — AI Berhenti Jadi Mainan, Mulai Jadi Ancaman

AlphaGo Menang vs Lee Sedol — AI Berhenti Jadi Mainan, Mulai Jadi Ancaman
← Kembali ke Blog

Minggu lalu, di Seoul, AlphaGo dari DeepMind (anak Google) menang 4-1 atas Lee Sedol, salah satu Go champion terbesar dalam sejarah. Pertandingan ini bukan sekedar hiburan teknis. Untuk saya, ini momen di mana AI berhenti jadi mainan researcher, dan mulai jadi sesuatu yang harus kita pertimbangkan dalam industri yang lebih luas.

Mari saya jelaskan kenapa.

Go itu game yang sangat berbeda dari chess. Chess pertama kali dikalahkan komputer oleh Deep Blue (IBM) di 1997 — itu 19 tahun lalu. Tapi Go selalu dianggap "yang berikutnya" yang akan jauh lebih sulit. Bukan karena rule-nya lebih kompleks (rule-nya lebih sederhana dari chess). Tapi karena state space-nya lebih besar dari atom di alam semesta. Pendekatan brute force (compute semua kemungkinan move) yang work di chess, tidak work di Go.

AlphaGo menang bukan karena compute lebih cepat. Menang karena learning. Mereka pakai deep neural network yang dilatih dengan jutaan game (dari pemain manusia, dan kemudian dari self-play). Mesin yang belajar bermain, bukan diprogram untuk bermain.

Apa artinya untuk industri kita?

Pertama, deep learning sekarang bukan lagi research project — sudah ready untuk production. AlphaGo bukan demo. Itu sistem yang berhasil dalam tugas yang dianggap "hampir impossible" 5 tahun lalu. Dalam 5 tahun ke depan, deep learning akan menjadi mainstream di banyak industri: medical diagnosis, autonomous driving, voice recognition, image recognition, content recommendation.

Kedua, dan ini lebih sensitif: pekerjaan yang dulu kita anggap "uniquely human" — yang butuh judgment, intuition, creativity — akan mulai dipertanyakan. Go pemain professional di Korea, Jepang, China — mereka dianggap memiliki intuisi yang tidak bisa direplikasi. Lee Sedol kalah 4-1. Bukan karena dia kurang berlatih. Tapi karena lawan-nya belajar lebih cepat dan lebih dalam.

Apa industri lain yang sama? Saya bisa think of several. Stock trading — algoritma sudah mengalahkan trader manusia di banyak aspek. Customer service — chatbot mulai handle pertanyaan basic. Translation — Google Translate sudah surprisingly competent. Image classification — sudah lebih akurat dari manusia di banyak benchmark.

Yang menarik buat saya, sebagai Senior PM di Telkom Group: pertanyaan-pertanyaan yang harus kita mulai pikirin. Bagaimana kami akan adopt AI di produk kami? Apa pekerjaan-pekerjaan rutin di Metranet yang seharusnya di-automate dengan AI? Bagaimana posisi engineer dan PM kami akan berubah 5-10 tahun ke depan?

Untuk Indonesia, lansekap ini menarik. Kami tidak punya talent AI sebanyak US atau China. Tapi kami punya banyak data — bahasa Indonesia, perilaku konsumen Indonesia, konteks lokal. Ada peluang untuk startup AI Indonesia yang serve niche regional. Tapi waktu-nya sempit. Kalau dalam 3 tahun kami tidak invest serius, kami akan jadi konsumen AI yang dibikin negara lain, bukan kontributor.

Lee Sedol setelah kalah berkomentar: "Saya tidak mengerti bagaimana dia berpikir." Itu kalimat yang saya akan ingat lama. Ketika kita di-deafeat oleh sistem yang cara berpikir-nya kita tidak mengerti, itu zaman baru.

DeepMind sudah umumkan langkah berikutnya: protein folding, drug discovery, kesehatan. AlphaGo vs Lee bukan akhir cerita. Itu prolog. Dan industri saya — semua industri kita — perlu mulai bersiap untuk bab berikutnya.

Komentar

Memuat komentar…