Tokopedia vs Bukalapak Lebaran 2015 — Ecommerce Indonesia Memasuki Fase Pertarungan Serius
Lebaran 2015 minggu lalu menarik untuk diamati. Bukan dari sisi tradisi yang berubah. Tapi dari sisi e-commerce — pertarungan promo antara Tokopedia dan Bukalapak yang membuktikan: ecommerce Indonesia sekarang memasuki fase serius.
Dua platform launch promo besar 2-3 minggu sebelum Lebaran. Tokopedia dengan "Festival Belanja Lebaran" — cashback, diskon, flash sale. Bukalapak dengan "Lebaran SerbaGratis" — gratis ongkir, voucher. Iklan TV, billboard di highway, sponsor program prime time. Setiap platform spend puluhan miliar rupiah dalam 3 minggu untuk dapat top-of-mind di kalangan konsumen Indonesia.
Yang membuat ini menarik: ini bukan competition dengan pemain offline (Carrefour, Hypermart). Ini competition antar dua platform e-commerce digital. Itu artinya: ecommerce sudah cukup mature di Indonesia untuk mengembangkan rivalry intra-segment.
Saya cek angka-nya. Tokopedia claim Q1 2015 mereka grow 3x year-over-year. Bukalapak claim mereka mencapai 1 juta seller. Kedua-duanya angka yang besar, dan kedua-duanya signal bahwa Indonesia ecommerce sudah cross threshold dari "early stage" ke "growth stage".
Implikasi-nya?
Pertama, infrastruktur ecommerce di Indonesia harus mature dengan cepat. Pertumbuhan ini akan stress test logistik (J&T, JNE, Sicepat), payment (BCA transfer, OVO, GoPay), dan customer service. Yang gagal upgrade akan tertinggal. Yang berhasil akan dapat market share permanen.
Kedua, perilaku konsumen Indonesia akan berubah. Sekarang konsumen tahu mereka bisa belanja apapun online — dari Lebaran outfit, kue kering, sampai elektronik. Trust issue yang dulu jadi blocker (takut barang tidak sampai, takut pembayaran ke-skim) pelan-pelan diatasi via system review, escrow payment, dan reputasi platform.
Ketiga, dan ini paling menarik buat saya: ecommerce tidak lagi "techno toys" untuk anak muda Jakarta. Setelah Lebaran 2015, saya pasti yakin ada banyak konsumen Indonesia di luar Jakarta yang first time belanja online. Mereka beli baju Lebaran lewat Tokopedia, atau hampers buat keluarga lewat Bukalapak. Setelah experience positive ini, mereka tidak akan stop. Hari ini Lebaran, besok mereka cari baju kerja, lalu peralatan dapur, lalu electronics.
Yang menarik untuk Metranet (tempat saya kerja): Telkom Group tidak punya offering ecommerce yang signifikan. Kami punya Plaza Telkom (lebih ke service provider), Padi (B2B procurement), tapi nothing yang competitive dengan Tokopedia atau Bukalapak.
Ada kesempatan? Ya. Telkom punya infrastruktur (jaringan, payment, customer base). Tapi window of opportunity sempit. Dalam 2-3 tahun, ecommerce winner-take-all di Indonesia akan establish — sulit untuk new entrant bersaing setelah itu.
Apakah Telkom akan masuk? Saya tidak tahu strategi-nya. Saya bukan executive. Tapi sebagai engineer yang pernah pikirin lansekap industri, saya akan jadi tertarik kalau Telkom memutuskan masuk. Banyak resource, banyak technology, banyak relationship. Hanya butuh execution.
Sementara itu, saya akan belanja di Tokopedia atau Bukalapak (tergantung mana yang lagi promo). Sebagai konsumen, saya enjoy competition. Lebih banyak diskon, lebih banyak pilihan, lebih bagus service.
Sebagai pengamat tech Indonesia, saya optimistic. Lebaran 2015 menunjukkan kita mulai mature. Lebaran 2018 atau 2020 — saya prediksi — akan jadi event ecommerce yang skala-nya membuat Singles Day China terlihat masuk akal.

Komentar