0%
3 min left

Tokopedia Raise $1.1 Miliar dari Alibaba — Unicorn Pertama Indonesia

Tokopedia Raise $1.1 Miliar dari Alibaba — Unicorn Pertama Indonesia
← Kembali ke Blog

Bulan ini Tokopedia umumkan Series F senilai $1.1 miliar — dipimpin Alibaba. Itu round terbesar dalam sejarah startup Indonesia. Plus, valuasi post-money mendorong Tokopedia melebihi $1 miliar — secara teknis, unicorn pertama Indonesia.

3 tahun lalu saya tulis: "Tokopedia kandidat kuat untuk jadi unicorn pertama Indonesia." Sekarang, prediksi itu jadi reality. Saya tepati janji dan akan tulis observasi.

Mari saya bedah investment ini.

Alibaba sebagai lead investor signifikan. Alibaba bukan VC biasa — mereka raksasa ecommerce Asia yang punya Taobao, Tmall, dan Lazada (yang mereka beli 2 tahun lalu). Investment di Tokopedia tidak murni financial. Ini strategi: control 2 ecommerce platform terbesar Asia Tenggara (Tokopedia di Indonesia + Lazada untuk negara lain).

Implikasi yang menarik buat industri kita.

Pertama, Tokopedia akan diberi resources untuk compete dengan Bukalapak dan Shopee (yang punya backing Tencent + Sea Group) dengan budget yang luar biasa. Marketing wars selama Lebaran sudah intense — sekarang akan jadi lebih intense. Setiap event besar Indonesia (Lebaran, Natal, Imlek, Hari Belanja Online Nasional/HARBOLNAS) akan jadi battlefield ratusan miliar rupiah cashback.

Kedua, model platform marketplace makin dominan. Setiap penjual UMKM Indonesia harus pilih: jualan di Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee (atau ketiga-tiganya). Posisi independent ecommerce makin susah. Webstore individu yang dulu populer (Shopify-style, Indonesia version) akan tergerus.

Ketiga, dan ini paling penting: Alibaba investment akan ngebawa playbook China ke Indonesia. Strategi yang work di Taobao — gamified shopping, super promo, payment integration deeper — akan di-port ke Tokopedia. Itu akan mendorong inovasi cepat, tapi juga mendorong commoditization yang mungkin kurang sehat jangka panjang.

Untuk Telkom Group (tempat saya kerja), ini momen reflektif. Tokopedia di-back Alibaba. Bukalapak di-back Mirae Asset + GIC. Shopee di-back Tencent. Lazada (yang masih relevan di Indonesia untuk segment kelas atas) dimiliki Alibaba juga. Foreign VC dan strategic investors mendominate ecommerce Indonesia.

Indonesia owned platform yang signifikan? Hampir tidak ada. Industri kita bagus dalam build technical, tapi capital-nya datang dari luar. Profit dari Indonesia mengalir ke luar.

Apakah ini buruk? Saya tidak tahu yang pasti. Foreign capital memungkinkan growth yang lebih cepat, talent attraction, dan technology transfer. Tapi juga membuat industri kita lebih dependent pada strategic decisions yang dibuat di Hangzhou (HQ Alibaba), Shanghai (Tencent), atau Singapore (Sea Group).

Untuk kerja saya sebagai GM Partnerships: ini berarti partnership Telkom Group dengan ecommerce platform sekarang lebih kompleks. Tokopedia tidak lagi independent Indonesia startup — mereka extension Alibaba ecosystem. Negosiasi dengan mereka berarti negosiasi dengan strategic considerations Alibaba.

Selamat untuk William Tanuwijaya dan tim Tokopedia. 8 tahun bangun, akhirnya tembus unicorn. Itu validation untuk semua founder Indonesia yang bermimpi besar. Tapi yang saya hope untuk industri kita: capital lokal yang sustainable, tidak hanya dependence pada foreign strategic.

Saya akan tulis lebih banyak tentang lansekap ecommerce Indonesia setelah Lebaran 2018, ketika kita bisa lihat siapa yang menang dengan budget Alibaba.

Komentar

Memuat komentar…