0%
3 min left

TikTok USA Ban Threat — Era Tech Nationalism yang Lebih Serius

TikTok USA Ban Threat — Era Tech Nationalism yang Lebih Serius
← Kembali ke Blog

Selama Agustus, drama TikTok dominate berita tech globally. Trump issue executive order yang akan ban TikTok di USA dalam 45 hari. ByteDance (parent TikTok China) negotiate untuk sell TikTok USA ke Microsoft (atau Oracle, atau Walmart — beberapa bidder). Drama-nya dramatic.

Saya tulis bukan untuk follow-up berita harian (banyak yang sudah lebih cepat). Saya tulis tentang pattern yang underlying — yang relevant untuk industri kita di Indonesia: era tech nationalism dimulai.

Mari saya jelaskan.

Pertama, ini bukan kasus isolated.

Selama 18 bulan terakhir, ada banyak signal tentang tech nationalism:

US ban Huawei dari supply chain. India ban TikTok dan 59 app China lainnya (Juli 2020). UK kick out Huawei dari 5G network. China block Google, Facebook, Twitter, akses banyak app western.

Trump TikTok ban hanya episode terbaru. Pattern: negara-negara mulai claim sovereignty atas data dan infrastructure teknologi mereka. Platform global yang asumsi mereka bisa operasi tanpa restriction di seluruh dunia, sekarang dapat reality check.

Kedua, kenapa sekarang?

Beberapa faktor convergence:

Geopolitik US-China memperketat. Setelah trade war 2018-2019, sekarang teknologi jadi area baru pertarungan. Setiap teknologi yang berasal dari China dianggap potential surveillance tool. Reverse juga: setiap teknologi USA dianggap arrogant overreach ke pasar lain.

Data sebagai strategic asset. Sebelumnya, data dilihat sebagai by-product dari teknologi. Sekarang, data adalah aset yang dipertanyakan: siapa yang punya akses, untuk apa, dengan governance apa. Bandit datawash (Cambridge Analytica style) bikin orang lebih cautious.

National security framing. Cybersecurity attack (WannaCry, SolarWinds yang baru exposed) bikin governance teknologi jadi national security. Kalau teknologi adalah national security, vendor asing punya konflik kepentingan.

Ketiga, implikasi untuk Indonesia.

Indonesia secara historis tidak sangat assertive dalam tech sovereignty (compared to India atau China). Kominfo blokir TikTok 2018 tapi cepat unblock. Telegram di-blokir 2017 tapi un-blokir. Kami biasanya negotiate compromise daripada full ban.

Tapi saya prediksi ini akan berubah dalam 2-3 tahun. UU Perlindungan Data Pribadi yang sudah draft sejak 2014, akhirnya akan disahkan dalam 2 tahun ke depan. Itu akan kasih pemerintah kekuatan yang lebih besar untuk regulate platform global.

Plus ada concerns spesifik tentang China-Indonesia hubungan. Investment China di Indonesia naik signifikan (port, manufacturing, ekstraksi). Banyak yang khawatir teknologi China di Indonesia bisa di-leverage untuk influence politik. Sentimen-nya tidak unique Indonesia — banyak negara di South East Asia juga merasa sama.

Untuk industri partnership saya: ini means setiap deal dengan platform global China (TikTok, WeChat, Bilibili) akan di-scrutinize lebih ketat. Setiap data sharing arrangement harus jelas: where data resides, who has access, what compliance frameworks.

Implikasi besar: opportunity untuk Indonesia local tech.

Setiap kali ada pressure untuk regulate platform global, ada window untuk local alternative. Tokopedia naik partly karena Lazada (yang awalnya backed Rocket Internet, sekarang Alibaba) terbatas dalam respond ke pasar Indonesia. Gojek menang transport partly karena Uber tidak punya investment yang sama strategicnya di Indonesia.

Kalau TikTok di-pressure, Indonesia local short-video platform punya peluang. Kalau WeChat dibatasi, Indonesia messaging app punya peluang. Kalau data restrictions diketatkan, local cloud providers punya peluang.

Untuk founder Indonesia: ini windows kecil tapi nyata. Build alternatif local yang reliable. Saya prediksi 2-3 startup Indonesia di kategori-kategori ini akan dapat valuasi signifikan dalam 24 bulan.

Untuk pemerintah Indonesia: balance harus dijaga. Terlalu sedikit regulasi: kita jadi naive consumer dari platform global. Terlalu banyak: kita matikan ekosistem global yang sebenarnya valuable.

Yang tidak pasti: apa yang akan terjadi dengan TikTok USA. Microsoft mungkin batal beli, deal mungkin dipaksa, atau Trump lose elections November dan policy berubah. Drama harian akan continue.

Tapi pattern struktural — tech nationalism era — tidak akan reverse. Kita harus siap sebagai industri.

Komentar

Memuat komentar…