Tentang Naik, Turun, dan Standar yang Kita Bentuk Sendiri

Ada satu pola yang cukup sering terlihat, bukan hanya di BUMN karena saya di BUMN, tapi hampir di semua konteks di mana seseorang mengalami pertumbuhan—baik dalam karir, bisnis, maupun penghasilan pribadi. Ketika semuanya naik, hampir selalu ada satu hal yang ikut naik tanpa banyak disadari: lifestyle. Awalnya terlihat wajar. Income meningkat, exposure berubah, lingkungan ikut bergeser, dan standar hidup pun menyesuaikan. Dalam banyak kasus, ini bahkan dianggap sebagai konsekuensi logis dari progres itu sendiri.
Dalam beberapa fase perjalanan saya, saya juga melihat bagaimana perubahan ini terjadi secara gradual—bukan sebagai keputusan yang disengaja, tapi sebagai sesuatu yang terasa natural seiring waktu.
Yang sering tidak disadari adalah apa yang terjadi setelahnya. Pada satu titik, lifestyle yang tadinya terasa sebagai “kenaikan” perlahan berhenti terasa seperti itu. Ia berubah menjadi baseline. Yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang mewah menjadi hal yang biasa, dan yang dulu opsional mulai terasa seperti kebutuhan. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam banyak literatur behavioral economics, kondisi ini sering disebut sebagai lifestyle inflation, di mana peningkatan penghasilan diikuti oleh peningkatan pengeluaran tanpa benar-benar meningkatkan rasa cukup atau kepuasan jangka panjang (lihat misalnya penjelasan sederhana dari Investopedia tentang lifestyle inflation
Lebih dalam lagi, ada konsep lain yang menjelaskan kenapa hal ini terasa “normal” bagi kita, yaitu hedonic adaptation. Brickman dan Campbell sudah lama menjelaskan bahwa manusia cenderung kembali ke level kebahagiaan yang relatif stabil meskipun kondisi eksternal berubah. Artinya, ketika standar hidup meningkat, otak kita dengan cepat menyesuaikan diri, dan apa yang dulu terasa sebagai peningkatan tidak lagi memberikan efek yang sama. Kita tidak lagi merasa “lebih”, kita hanya merasa itu sudah “seharusnya”.
Masalahnya jarang muncul saat kondisi sedang naik. Fase naik biasanya terasa smooth, bahkan sering kali tidak terasa sebagai sesuatu yang perlu dikendalikan. Tantangan sebenarnya muncul ketika kondisi berubah—ketika pertumbuhan melambat, ketika tekanan meningkat, atau ketika dalam beberapa situasi, seseorang memang harus menurunkan kembali standar hidupnya. Di titik ini, respons yang muncul sering kali bukan rasional, tapi emosional. Ada penolakan, ada ketidaknyamanan, dan dalam banyak kasus, ada keengganan untuk menyesuaikan, meskipun secara logika hal itu diperlukan.
Di sinilah konsep loss aversion menjadi relevan. Daniel Kahneman dan Amos Tversky menjelaskan bahwa manusia merasakan kehilangan jauh lebih kuat dibandingkan rasa mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama (ringkasan yang cukup accessible bisa dilihat di sini. Secara sederhana, kehilangan terasa lebih “mahal” dibandingkan keuntungan yang setara. Ketika seseorang harus menurunkan standar hidup yang sudah terbentuk, yang dirasakan bukan sekadar penyesuaian, tapi kehilangan. Dan kehilangan itu terasa jauh lebih berat dibandingkan kenaikan yang sebelumnya mungkin terasa biasa saja.
Dalam konteks kepemimpinan, ini menjadi lebih dari sekadar isu personal. Seorang pemimpin tidak selalu berada dalam fase ekspansi. Ada fase di mana organisasi harus melakukan koreksi, efisiensi, atau bahkan penyesuaian yang tidak nyaman. Dalam situasi seperti ini, keputusan yang diambil sering kali tidak hanya dipengaruhi oleh data atau strategi, tapi juga oleh kondisi psikologis dari orang yang mengambil keputusan tersebut. Ketika seorang pemimpin sudah terbiasa dengan standar tertentu—baik dalam konteks organisasi maupun pribadi—kemampuan untuk “turun” secara objektif menjadi jauh lebih menantang.
Yang menarik, dalam banyak kasus, yang membuat proses ini sulit bukan hanya soal angka atau kondisi eksternal. Ada faktor yang lebih halus, yaitu identitas. Dalam psikologi, konsep ini sering dikaitkan dengan self-concept, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri berdasarkan pengalaman dan lingkungan yang ia jalani (penjelasan sederhana bisa dilihat di sini. Lifestyle yang meningkat tidak hanya mengubah cara seseorang hidup, tapi juga perlahan membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. Ketika harus menyesuaikan kembali, yang terasa terancam bukan hanya kenyamanan, tapi juga persepsi. Dan di sinilah banyak keputusan menjadi bias tanpa disadari.
Pada akhirnya, ini bukan tentang apakah seseorang hidup sederhana atau tidak, atau apakah gaya hidup tertentu benar atau salah. Ini lebih tentang kesadaran: apakah kita yang mengendalikan standar hidup kita, atau justru standar itu yang perlahan mengendalikan cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Dalam kepemimpinan, pertanyaan ini menjadi relevan karena kemampuan untuk menyesuaikan diri—termasuk ketika harus turun—sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang rasional dan keputusan yang didorong oleh resistensi internal.
Naik dalam banyak hal memang natural. Tapi kemampuan untuk turun, menyesuaikan, dan tetap objektif dalam kondisi yang berubah, sering kali bukan sesuatu yang otomatis. Ia membutuhkan kesadaran, dan dalam banyak kasus, keberanian untuk melepaskan sesuatu yang sudah terasa normal.
Baca juga:





Komentar