0%
6 min left

Pick a Boss, Not a Job

Pick a Boss, Not a Job
← Kembali ke Blog


Ada satu pola pikir yang selalu saya pegang dan sering saya bagikan ke orang-orang di sekitar saya, terutama yang sedang di awal karir atau sedang berpikir mau pindah kerja.

Kebanyakan orang ketika cari kerja, yang pertama kali mereka lihat adalah job description-nya. Gajinya berapa, posisinya apa, fasilitas apa yang dikasih, brand perusahaannya keren atau tidak. Semua itu wajar. Tapi menurut saya, ada satu hal yang jauh lebih penting dari semua itu — dan sering banget diabaikan.

Siapa boss-nya.


Kesempatan Tidak Datang — Kita yang Harus Carinya

Saya ingin mulai dari satu hal yang saya pelajari dari seorang kawan sesama blogger, senior saya, almarhum Nukman Lutfie. Beliau pernah menulis sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat dan pegang:

Kesempatan itu tidak akan pernah datang. Kesempatan itu kita yang cari.

Kalimat sederhana, tapi implikasinya besar banget. Karena kebanyakan orang diam menunggu momentum yang tepat, kondisi yang ideal, atau keberuntungan yang mengetuk pintu. Padahal pintu itu tidak akan pernah diketuk kalau kita sendiri tidak tahu di mana pintunya — dan tidak bergerak menuju ke sana.

Dan salah satu cara paling efektif yang saya temukan untuk menciptakan kesempatan itu adalah: pilih bos yang tepat.


Kenapa Bos, Bukan Jobnya?

Begini logikanya.

Sebuah pekerjaan itu pada dasarnya adalah sekumpulan tanggung jawab yang tertulis di atas kertas. Job description. KPI. Target. Semua itu bisa berubah, bisa diperluas, bisa menyempit — tergantung situasi perusahaan, tergantung kebutuhan, dan paling sering, tergantung siapa yang memimpin kamu.

Seorang boss yang tepat tidak hanya memberikan kamu pekerjaan. Dia memberikan kamu exposure. Dia akan memanggil nama kamu di ruangan yang kamu sendiri tidak ada di dalamnya. Dia akan merekomendasikan kamu untuk proyek-proyek yang mungkin belum kamu bayangkan sebelumnya. Dan dia akan mendorong kamu ke level berikutnya — bukan karena kewajiban, tapi karena dia percaya pada kamu.

Ini yang di dunia career development disebut sebagai sponsor — berbeda dari mentor. Harvard Business Review mendefinisikannya dengan sangat tepat: "While a mentor is someone who has knowledge and will share it with you, a sponsor is a person who has power and will use it for you." Mentor bicara dengan kamu. Sponsor bicara tentang kamu — di ruangan yang kamu tidak ada di dalamnya. Dan seperti yang dicatat Psychology Today: "We earn the right to be sponsored through our performance, and a sponsor typically expects loyalty in return."

Nah, boss yang tepat itu bisa jadi keduanya sekaligus — mentor dan sponsor. Dan itu adalah kombinasi yang sangat langka dan sangat berharga.


Tugasmu: OK Dulu di Mata Bos

Tapi bagaimana caranya sampai ke titik itu?

Ini yang menurut saya sering salah dipahami. Banyak orang berpikir bahwa untuk dapat kepercayaan boss, mereka harus punya semua skill-nya dulu. Harus sudah tau caranya. Harus sudah siap sempurna sebelum bilang "iya."

Padahal justru sebaliknya.

Boss yang baik itu selalu akan memberikan kamu hal-hal yang kamu belum tau caranya. Itu bukan kesalahan sistem — itu memang cara dia menguji dan mengembangkan orang-orang di sekitarnya. Dan tugas kamu di saat itu bukan langsung bisa mengerjakannya dengan sempurna. Tugas kamu adalah bilang iya dulu, figure it out kemudian.

Yang paling penting di fase ini adalah satu hal: jadi orang yang bisa diandalkan.

Bukan yang paling pintar. Bukan yang paling berpengalaman. Tapi yang paling bisa dipercaya untuk menyelesaikan apa yang diminta — bahkan kalau caranya harus dicari sambil jalan. Di sinilah yang namanya loyalitas, durability, endurance, dan reliability itu diuji. Empat kualitas itu kelihatannya sederhana, tapi jarang sekali ditemukan dalam satu orang sekaligus.

Dan research memang membuktikan hal ini. Yale Insights yang mengutip penelitian Marissa King menemukan bahwa sponsorship — di mana seorang atasan benar-benar mengadvokasi karir seseorang — itu harus dihasilkan, bukan diminta. Dan cara menghasilkannya adalah dengan satu kata yang sangat simpel: deliver. Sian McIntyre, Managing Director di Barclays, ketika ditanya bagaimana dia membangun hubungan dengan tiga sponsor terbaiknya, menjawab dengan sangat lugas: "I've delivered."


Top of Mind — dan Kenapa Itu Segalanya

Saat kamu konsisten deliver — bahkan untuk hal-hal yang belum kamu kuasai sepenuhnya — sesuatu yang menarik mulai terjadi.

Kamu jadi top of mind di kepala bos kamu.

Artinya: ketika ada proyek baru, nama kamu yang pertama kali muncul di kepalanya. Ketika ada kesempatan yang harus dia rekomendasikan seseorang, kamu yang langsung dia pikirkan. Ketika ada pintu yang terbuka — entah itu promosi, project besar, perkenalan dengan orang-orang penting — kamu yang ada di list-nya.

Dan di sinilah kesempatan-kesempatan itu mulai datang dengan sendirinya. Bukan karena keberuntungan. Bukan karena kamu kebetulan ada di tempat yang tepat di waktu yang tepat. Tapi karena kamu sudah membangun reputasi yang membuat orang lain secara aktif ingin menyertakan kamu dalam hal-hal yang besar.

Northwestern Mutual mencatat dari risetnya bahwa 70% dari orang yang punya sponsor merasa puas dengan kecepatan kemajuan karir mereka — dibandingkan hanya 57% dari mereka yang tidak punya sponsor. Itu selisih yang cukup besar untuk sesuatu yang kelihatannya sesederhana "punya orang yang percaya dan mau bicara tentang kamu."


Tapi Kesempatan Itu Harus Bisa Kamu Deliver

Ada satu bagian yang sering luput dari percakapan ini.

Ketika kesempatan itu akhirnya datang — dan ia akan datang, kalau kamu sudah membangun fondasi yang benar — tugasmu adalah memastikan kamu bisa mendeliver-nya dengan baik.

Karena bos yang mempercayai kamu sudah menaruh reputasinya di sana. Dia sudah bilang nama kamu di ruangan yang kamu tidak ada. Dia sudah vouch untuk kamu. Dan kalau kamu gagal deliver di momen itu, bukan hanya kepercayaannya yang hilang — tapi reputasinya juga ikut terdampak.

Ini adalah tanggung jawab yang harus disadari. Bukan untuk membuat kamu takut, tapi untuk membuat kamu serius mempersiapkan diri. Karena kesempatan besar yang tidak di-deliver dengan baik jauh lebih buruk daripada tidak mendapatkan kesempatan sama sekali.


Jadi, Bagaimana Memilih Bos yang Tepat?

Kalau kamu sekarang sedang dalam posisi memilih — mau bergabung ke perusahaan mana, mau ambil tawaran yang mana — coba ganti pertanyaannya.

Bukan "job ini menarik tidak?" tapi "orang yang akan memimpin saya ini, apakah dia tipe yang akan mengangkat orang di sekitarnya?"

Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan:

Apakah dia punya track record mengembangkan orang-orang di bawahnya? Apakah orang-orang yang pernah bekerja dengannya punya karir yang baik setelahnya? Apakah dia tipe yang memberikan stretch assignments — tugas-tugas yang memaksamu tumbuh — atau hanya mendelegasikan pekerjaan rutin? Dan yang paling penting: apakah dia tipe yang akan bicara tentang kamu secara positif ketika kamu tidak ada di ruangan?

Kalau jawabannya ya — itu bos yang layak dipilih. Bahkan kalau gajinya sedikit lebih kecil, bahkan kalau brand perusahaannya tidak sekinclong pilihan lain, bahkan kalau job description-nya terdengar lebih sederhana dari yang kamu bayangkan.

Karena pada akhirnya, karir kita tidak dibangun hanya oleh skill yang kita miliki. Karir kita juga dibangun oleh siapa yang percaya pada kita — dan mau menggunakan kepercayaan itu secara aktif untuk membuka pintu yang belum pernah kita tahu keberadaannya.

Pilih bos yang tepat. Deliver dengan konsisten. Jadilah top of mind-nya. Dan biarkan kesempatan-kesempatan itu datang sebagai konsekuensi alami dari reputasi yang sudah kamu bangun.

Karena seperti yang selalu saya ingat dari Nukman Lutfie — kesempatan itu tidak akan pernah datang sendiri. Tapi kalau kamu sudah berada di posisi yang tepat, di bawah orang yang tepat, dan kamu deliver dengan benar — kamu tidak akan perlu menunggu lama.

Komentar

Memuat komentar…