0%
4 min left

The Hardest Part of Leading: Knowing When to Change Roles

The Hardest Part of Leading: Knowing When to Change Roles
← Kembali ke Blog


Belakangan ini saya cukup sering kepikiran satu hal yang sebenarnya sederhana, tapi makin ke sini terasa makin penting — terutama dalam konteks leadership.

Soal "topi".

Bukan dalam arti literal tentu. Tapi lebih ke: peran apa yang sebenarnya kita pakai di situasi tertentu? Dan apakah kita sadar — atau tidak sadar — kalau kita lagi pakai topi yang salah?


Topi yang Dulu Berhasil

Kalau saya refleksikan perjalanan beberapa tahun terakhir, saya mulai sadar bahwa problem dalam leadership seringkali bukan karena kita tidak capable atau kurang pengalaman. Tapi karena kita terlalu lama bertahan di satu cara kerja yang dulu berhasil, tanpa sadar bahwa konteksnya sudah berubah.

Dan jujur — saya sendiri cukup sering ada di posisi itu.

Waktu awal-awal membangun Posdigi, semuanya masih sangat hands-on. Hampir semua hal kita kerjakan langsung — dari yang sifatnya strategis sampai yang paling granular sekalipun. Di fase itu memang tidak ada banyak pilihan. Kita butuh speed, butuh agility, dan seringkali harus mengambil keputusan dengan informasi yang belum lengkap.

Di situlah, tanpa sadar, saya terbiasa memakai apa yang sekarang saya sebut sebagai "topi operator".

Dan it works. Bahkan bisa dibilang, itu yang membuat banyak hal bisa jalan di fase itu.


Ketika Topi yang Sama Mulai Tidak Pas

Masalah mulai muncul ketika organisasi berkembang.

Tim sudah mulai terbentuk. Struktur mulai lebih jelas. Dan secara natural, peran kita juga seharusnya ikut berubah. Tapi yang sering terjadi — dan ini saya alami sendiri — adalah kita tetap membawa kebiasaan lama ke fase yang baru.

Masih ingin terlalu involved. Masih ingin memastikan semuanya lewat kita. Masih merasa kalau kita tidak lihat langsung, hasilnya tidak akan sesuai ekspektasi.

Di titik itu saya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak sinkron. Bukan karena tim tidak capable. Tapi karena saya sendiri belum sepenuhnya berpindah peran. Tanpa sadar, kita justru bisa menjadi bottleneck untuk hal-hal yang seharusnya sudah bisa berjalan tanpa keterlibatan langsung kita.


Ada Tiga Topi — Dan Semuanya Penting

Dari situ saya mulai pelan-pelan menyadari bahwa leadership itu bukan soal menjadi lebih pintar atau bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tapi lebih ke soal kemampuan untuk membaca konteks dan menyesuaikan peran.

Ada fase di mana kita memang harus jadi operator — turun langsung, pastikan eksekusi berjalan.

Ada fase di mana kita harus jadi builder — fokus ke growth, bangun sistem dan orang.

Ada fase di mana kita harus mulai lebih banyak jadi leader atau advisor — lebih banyak memberi arah daripada melakukan eksekusi.

Yang menarik, transisi ini hampir tidak pernah terasa jelas. Tidak ada momen eksplisit yang bilang "sekarang waktunya berhenti jadi operator." Semuanya terjadi secara gradual — dan seringkali kita baru sadar ketika sudah mulai terasa friction, baik di diri sendiri maupun di tim.


Yang Paling Sulit Bukan Belajar Hal Baru

Kalau dipikir lebih dalam, mungkin salah satu hal yang paling challenging dalam leadership justru bukan belajar hal baru. Tapi melepaskan cara lama yang dulu terbukti berhasil.

Karena menjadi operator itu dalam banyak hal terasa nyaman. Kita merasa in control. Kita tahu detailnya. Dan kontribusi kita terasa sangat nyata.

Sementara ketika mulai bergeser ke peran yang lebih strategis, kontribusinya jadi tidak selalu terlihat secara langsung. Kita lebih banyak berpikir, mengarahkan, dan kadang membiarkan orang lain yang mengeksekusi. Dan di situ ada proses mental yang tidak selalu mudah — karena kita harus belajar mempercayakan banyak hal kepada orang lain, sekaligus menerima bahwa hasil akhirnya mungkin tidak selalu persis seperti yang kita bayangkan.


Di Fase Saya Sekarang

Di fase saya hari ini, saya mulai melihat bahwa value yang bisa saya berikan sudah berbeda dibanding sebelumnya.

Bukan lagi di seberapa banyak hal yang bisa saya kerjakan sendiri. Tapi lebih ke bagaimana saya bisa melihat pola, menghubungkan hal-hal yang mungkin terlihat terpisah, dan memberikan perspektif yang lebih luas terhadap sebuah situasi.

Tapi jujur — itu juga bukan sesuatu yang otomatis nyaman. Masih ada momen-momen di mana refleks lama muncul. Ingin turun langsung. Ingin memastikan semuanya berjalan sesuai standar yang saya punya.

Dan mungkin memang itu bagian dari prosesnya.


Kesalahan Terbesar Seorang Leader

Semakin ke sini, saya mulai melihat bahwa kesalahan terbesar yang bisa kita lakukan sebagai leader bukan pada kurangnya kemampuan.

Tapi pada ketidakmampuan untuk berganti topi di waktu yang tepat.

Kita terlalu lama bertahan di satu peran — hanya karena peran itu yang membuat kita nyaman — tanpa menyadari bahwa organisasi dan konteks di sekitar kita sudah bergerak lebih dulu.

Leadership itu bukan soal punya satu identitas yang fix. Tapi soal fleksibilitas untuk terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan situasi. Ada waktu untuk masuk lebih dalam. Ada waktu untuk berada di permukaan. Dan ada waktu untuk benar-benar mundur dan melihat secara lebih utuh.

Dan mungkin itulah yang membuat leadership tidak pernah benar-benar selesai untuk dipelajari — karena setiap fase membawa kebutuhan yang berbeda, dan setiap kebutuhan menuntut versi diri kita yang berbeda juga.

— Sandi Mardiansyah Venture Builder & CEO Founder, SMVC

Komentar

Memuat komentar…