0%
3 min left

Saya Tahu Michael Jackson Meninggal dari Twitter — 8 Jam Sebelum TV

Saya Tahu Michael Jackson Meninggal dari Twitter — 8 Jam Sebelum TV
← Kembali ke Blog

Sembilan hari yang lalu, sekitar jam 11 malam waktu Jakarta, timeline Twitter saya tiba-tiba penuh dengan satu nama: Michael Jackson. Saya baru selesai kerja, buka Twitter sambil minum kopi. Tidak ada yang baca berita di TV (saya tidak nyalakan TV malam itu), tidak ada notifikasi dari detik.com. Tapi Twitter sudah ramai.

Pertama-tama saya tidak percaya. Berita kayak gini biasanya hoax. Tapi tweet datang dari satu akun yang kredibel — seingat saya jurnalis dari AP atau Reuters, lupa persis. Lalu retweet dari TMZ. Lalu dari beberapa jurnalis dunia hiburan yang saya follow. Dalam 5 menit, tidak ada keraguan: Michael Jackson meninggal.

Saya nyalakan TV. CNN, BBC, masih siaran biasa. Detik.com? Masih berita politik. Saya tunggu sampai jam 1 pagi sebelum tidur — baru detik.com publish artikel pertama soal meninggalnya MJ. Itu 2 jam setelah saya tahu lewat Twitter.

Tapi yang lebih kaget: pagi besoknya, di kantor, saya kasih tahu teman-teman soal MJ. Yang tidak punya Twitter atau Facebook tidak tahu. Mereka baru baca di koran pagi, atau dengar dari radio dalam perjalanan. Selisih waktu antara "Twitter user tahu" dan "koran user tahu": kurang lebih 8 jam.

8 jam. Itu jarak yang baru. Tahun lalu saya tulis soal Detik.com vs Kompas pagi — selisih 6 jam. Sekarang Twitter ke koran pagi — 8 jam, dan ini bukan tentang website news, tapi tentang social platform yang individu-individu pakai untuk share kabar.

Pelajaran-nya buat saya: era distribusi berita melalui institusi media (TV, koran, online news) sedang berakhir. Bukan secara total — tentu institusi media masih akan ada. Tapi monopoli mereka soal "siapa duluan tahu" sudah hilang. Sekarang, breaking news pertama kali muncul dari orang biasa yang dekat dengan kejadian, atau dari journalist yang lebih cepat tweet dari tulis artikel.

Implikasinya luas. Pemilu 2009 sebulan lalu, hasil quick count menyebar lewat Twitter dalam hitungan menit setelah TPS tutup. Demo di Iran (#IranElection trending dunia minggu kemarin) — kita di Indonesia tahu apa yang terjadi di Tehran hampir real-time, lewat tweet warga Iran yang bisa pakai proxy. Berita gempa, kebakaran, kecelakaan — semua sekarang pertama datang dari saksi, bukan dari wartawan.

Tapi ini punya sisi gelap juga. Tidak ada filter. Tidak ada fact-check sebelum publish. Hoax dan berita asli berseliweran tanpa beda. Sebagian teman saya percaya MJ tidak benar meninggal, ada konspirasi, dll — semua karena baca tweet aneh-aneh.

Saya pikir, dalam beberapa tahun ke depan, kemampuan masyarakat membedakan tweet kredibel dari yang tidak akan jadi skill baru. Bukan cuma untuk Pemilu, tapi untuk hidup sehari-hari.

Sementara itu, saya akan ingat malam 25 Juni 2009 sebagai malam pertama saya merasakan secara langsung: berita dari Twitter mengalahkan berita dari TV. Era baru.

Komentar

Memuat komentar…