Startup Indonesia dan Ilusi Harga yang Seharusnya Tidak Pernah Ada
Ada satu pola yang hampir selalu muncul ketika startup SaaS Indonesia masuk fase scale: tim sales mulai minta "fleksibilitas harga" supaya bisa tutup deal. Manajemen setuju — sekali, dua kali, lalu jadi kebiasaan. Dalam enam bulan, harga resmi di deck pitch sudah tidak ada hubungannya dengan harga yang benar-benar dibayar pelanggan.
Masalahnya bukan di tim sales. Bukan di pelanggan yang terlalu minta diskon. Masalahnya ada jauh sebelum negosiasi itu terjadi — di cara harga itu pertama kali ditetapkan.
Mayoritas startup Indonesia memperlakukan harga sebagai output dari kalkulasi biaya atau hasil negosiasi dengan pasar. Mereka menghitung COGS, tambah margin, lihat kompetitor, lalu pilih angka yang terasa "aman". Ini yang disebut cost-plus thinking.
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan. Berlangganan dan dapatkan akses ke semua konten premium.
Akses semua premium · Cancel anytime


Komentar