QRIS Sekarang di Mana-mana — Tapi Apakah Kita Sudah Betul-betul Cashless?

Jadi kemarin saya mampir ke warung soto langganan saya di dekat kantor. Yang biasanya bayar cash, kali ini saya coba scan QRIS-nya — ada stiker kecil yang ditempel di dekat kasir, sudah ada sejak beberapa bulan lalu.
Transaksinya selesai dalam sepuluh detik. Ibu penjualnya bilang: "enak ya Mas, langsung masuk ke HP saya."
Dan saya pikir dalam hati: ini adalah momen yang, dua atau tiga tahun lalu, belum terbayangkan akan terjadi di warung soto pinggir jalan.
Angkanya Memang Impressive
Kalau kamu lihat data dari Bank Indonesia, angkanya betul-betul tidak main-main. Per Oktober 2023, merchant QRIS sudah mencapai 29,6 juta — naik hampir sepuluh kali lipat dari 3,6 juta di Oktober 2020. Dalam tiga tahun. Dan 92% dari 29,6 juta merchant itu adalah UMKM — bukan korporasi besar, bukan mall premium, tapi pedagang kecil, warung, pedagang pasar, tukang gorengan.
Di 2023 ini saja, lebih dari 1,6 miliar transaksi sudah dilakukan via QRIS — jauh melampaui target Bank Indonesia sebesar 1 miliar. Dan 34% penggunanya bertransaksi dua sampai tiga kali seminggu, dengan mayoritas transaksi di bawah Rp100.000. Artinya ini bukan hanya untuk beli barang mahal atau bayar di restoran fancy. Ini sudah masuk ke transaksi sehari-hari yang paling basic.
Dari sudut pandang infrastruktur payment, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Bank Indonesia berhasil menyatukan ekosistem pembayaran yang sebelumnya sangat terfragmentasi — dulu QR code GoPay tidak bisa dibaca aplikasi OVO, QR code BCA tidak bisa dibaca ShopeePay. Sekarang semua bisa pakai satu kode yang sama. Satu scan untuk semua.
Tapi Ada Satu Angka yang Perlu Kita Perhatikan
Di tengah semua cerita sukses itu, ada satu angka yang jarang disebut: cashless hanya menyumbang sekitar 13% dari total transaksi di Indonesia.
Tiga belas persen. Di negara yang sudah punya 29,6 juta QRIS merchant.
Artinya apa? Artinya 87% transaksi masih cash. Masih uang kertas dan koin. Masih keluar mesin ATM, masih disimpan di dompet, masih diserahkan ke kasir dan dikembalikan kembaliannya.
Dan ini bukan karena infrastrukturnya tidak ada — QRIS-nya sudah tersebar luas. Ini adalah pertanyaan yang berbeda dan yang lebih menarik: kenapa penetrasi cashless masih serendah itu, meski QR code-nya sudah di mana-mana?
Yang Sering Luput dari Percakapan Tentang QRIS
Saya bekerja di ekosistem payment dan finansial digital — dan dari posisi itu, ada beberapa hal yang saya lihat yang menurut saya cukup menjelaskan gap antara angka merchant yang besar dan adopsi cashless yang masih kecil.
Pertama: punya QRIS belum berarti aktif pakai QRIS.
Banyak merchant yang stiker QRIS-nya sudah ditempel — tapi kalau kamu coba bayar pakai QRIS, ada yang bilang "maaf Mas, HP saya lagi mati", ada yang bilang "transfer ke rekening saja ya", ada yang bilang "nanti konfirmasinya lama." Stiker ada, tapi experience-nya belum seamless.
Ini bukan salah merchantnya. Seringkali ada hambatan teknis yang genuine — sinyal tidak bagus, proses settlement yang belum dipahami, atau ketidakbiasaan dengan flow notifikasinya. Merchant registration satu hal, merchant activation adalah hal yang berbeda.
Kedua: behavior change itu butuh waktu — dan butuh trust.
Menyimpan uang di dompet digital masih terasa lebih berisiko bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dibandingkan pegang uang cash. Ini bukan soal literasi digital semata. Ini soal trust yang dibangun dari pengalaman — dan pengalaman butuh waktu untuk terakumulasi.
Ingat bagaimana kita dulu was-was transfer bank online pertama kali? Sekarang sudah tidak kepikiran lagi. Adopsi QRIS akan mengalami kurva yang sama — tapi kita perlu sadar bahwa kita masih di bagian awal kurva itu untuk sebagian besar populasi.
Ketiga: cashless bukan solusi untuk semua orang di semua tempat.
Ini yang paling penting dan paling sering diabaikan di percakapan tentang digitalisasi payment. Ada segmen populasi yang betul-betul tidak bisa atau tidak mau cashless — lansia yang tidak familiar dengan smartphone, masyarakat di daerah dengan koneksi internet yang tidak stabil, transaksi yang melibatkan orang yang tidak punya rekening bank sama sekali.
Angka unbanked dan underbanked di Indonesia masih sangat besar. Dan QRIS, secanggih apapun infrastrukturnya, tidak akan bisa menjangkau mereka tanpa ada layer distribusi yang tepat.
Di Sinilah Peran yang Menurut Saya Paling Menarik
Ini yang paling dekat dengan konteks pekerjaan saya sehari-hari, jadi izinkan saya lebih spesifik di sini.
Salah satu tantangan terbesar dalam ekosistem QRIS sekarang bukan di sisi consumer — masyarakat urban sudah relatif siap. Tantangan terbesarnya ada di sisi merchant, khususnya di UMKM dan merchant kecil yang ada di tier 2, tier 3, dan daerah yang jauh dari pusat kota.
Mereka butuh lebih dari sekadar stiker QRIS. Mereka butuh seseorang yang bisa mendampingi — yang bisa menjelaskan cara kerjanya, membantu setup, dan ada ketika ada masalah. Mereka butuh jaringan distribusi yang already trusted di komunitas mereka.
Dan di sinilah model yang sangat menarik menurut saya: agent network yang sudah ada dan sudah dipercaya di komunitas lokal bisa menjadi jembatan yang paling efektif untuk adoption QRIS di level yang lebih dalam. Bukan hanya registrasi merchant, tapi betul-betul aktivasi — memastikan bahwa merchant yang sudah punya QR code betul-betul menggunakannya secara konsisten.
Pos Indonesia misalnya — dengan jaringan kantor pos dan agen yang sudah menyentuh hampir seluruh pelosok Indonesia — punya potensi yang sangat besar untuk memainkan peran ini. Pospay sudah punya izin QRIS. Pospay Agen sudah ada sebagai jaringan yang tersebar. Yang menarik sekarang adalah bagaimana leverage jaringan yang sudah ada itu untuk memperluas ekosistem merchant QRIS ke tempat-tempat yang belum bisa dijangkau oleh pemain digital yang purely Jakarta-centric.
Jadi, Sudah Betul-betul Cashless?
Jawaban jujurnya: belum.
Kita sedang dalam perjalanan yang sangat menarik dan yang progressnya lebih cepat dari yang banyak orang bayangkan beberapa tahun lalu. 29,6 juta merchant QRIS dalam tiga tahun adalah pencapaian yang luar biasa. 1,6 miliar transaksi di 2023 adalah angka yang betul-betul bermakna.
Tapi cashless bukan hanya soal angka merchant atau jumlah transaksi. Cashless adalah tentang behavior shift yang genuine — di mana transaksi dengan uang fisik menjadi pilihan kedua, bukan pilihan pertama. Dan untuk sampai ke sana, kita masih punya jarak yang cukup jauh.
Yang menarik dari perjalanan ini adalah bahwa jaraknya bisa diperpendek — bukan hanya dengan teknologi yang lebih canggih, tapi dengan distribusi yang lebih cerdas, pendampingan yang lebih intens, dan pemahaman yang lebih dalam tentang siapa yang belum terjangkau dan kenapa.
Warung soto di dekat kantor saya sudah cashless. Tapi saya juga tahu bahwa ada jutaan warung lain di luar Jakarta yang stiker QRIS-nya masih belum pernah dipakai sekali pun.
Dan di sanalah sebenarnya pekerjaan rumah yang paling penting masih menunggu.
Baca juga:


Komentar