0%
3 min left

Pilkada DKI Jakarta 2012: Pertama Kalinya Social Media Mengubah Pemilu di Indonesia

Pilkada DKI Jakarta 2012: Pertama Kalinya Social Media Mengubah Pemilu di Indonesia
← Kembali ke Blog

Kemarin Jokowi-Ahok menang Pilkada DKI putaran 2 dengan selisih sekitar 7 persen dari pasangan Foke-Nara. Quick count menunjukkan kemenangan dalam hitungan jam setelah TPS tutup. Hasil resmi akan keluar minggu depan, tapi semua orang sudah tahu.

Saya tulis ini bukan sebagai analisa politik (saya bukan ahlinya). Saya tulis sebagai pengamat media. Karena Pilkada ini, untuk saya, adalah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia di mana social media mengubah outcome elektoral.

Coba ingat dulu. Pemilu 2009 — ini bertahun-tahun lalu, ketika Twitter masih kecil di Indonesia — itu pemilu pertama yang "Twitter election". Tapi sebenarnya cuma soal liputan: hasil quick count menyebar lebih cepat lewat Twitter daripada TV. Twitter tidak ubah siapa yang menang.

Pilkada DKI 2012 berbeda. Twitter, Facebook, YouTube, BBM — semua jadi mesin kampanye yang riil. Bukan cuma menyebarkan pesan kandidat. Tapi membentuk narasi.

Foke vs Jokowi-Ahok adalah kampanye dengan budget yang tidak seimbang. Foke incumbent, dukungan partai besar, anggaran kampanye yang signifikan. Jokowi-Ahok challenger, dukungan partai lebih kecil, anggaran terbatas. Dalam pemilu tradisional, Foke seharusnya menang dengan mudah.

Tapi kampanye Jokowi-Ahok pakai senjata yang Foke tidak punya: viral content. Video Jokowi blusukan, video Ahok kasih jawaban tegas di rapat, meme baju kotak-kotak. Semua spread organik lewat sosmed. Anak-anak muda di Twitter dan Facebook menyebarkan, bukan karena dibayar tim sukses, tapi karena mereka cocok.

Yang menarik: kampanye Foke juga mulai pakai sosmed. Tapi terasa kaku. Posting-nya formal, terkonstruksi, "wajah resmi". Dalam dunia sosmed yang menghargai authenticity, itu terasa tidak nyambung. Generasi muda Jakarta yang aktif di Twitter, lebih connect dengan blusukan Jokowi yang terlihat raw.

Pelajaran-nya buat saya, sebagai engineer di Indonesia:

Pertama, sosmed bukan lagi sekedar channel marketing. Sekarang dia infrastructure politik. Siapa yang bisa pakai dengan baik, dapat keuntungan struktural. Partai politik Indonesia yang tidak invest serius di digital, akan tertinggal dalam Pemilu nasional 2014.

Kedua, "authenticity" jadi mata uang baru. Di dunia di mana setiap iklan terlihat manipulasi, conten yang terlihat asli — meski mungkin sebetulnya juga ter-curate — punya kekuatan besar. Brand, politisi, public figure yang bisa terlihat asli akan menang.

Ketiga, dan ini paling penting untuk Indonesia: pemilu sekarang lebih sulit dimanipulasi dari atas. Money politics masih ada, manipulasi suara masih bisa, tapi sosmed jadi check-and-balance. Setiap kecurangan, setiap janji politisi yang melenceng, langsung viral. Untuk demokrasi Indonesia yang masih muda, ini perkembangan baik.

Apa yang akan terjadi di Pilpres 2014? Saya rasa Pilkada DKI 2012 ini blueprint. Kandidat yang bisa pakai sosmed dengan authenticity, plus blusukan literal, akan punya keuntungan struktural.

Saya akan ikuti dengan minat. Sebagai engineer yang sehari-hari bangun produk digital, tapi juga sebagai warga yang care tentang masa depan demokrasi negeri ini.

Selamat untuk Jokowi-Ahok. Semoga tidak mengecewakan harapan 7 juta warga DKI yang memilih.

Komentar

Memuat komentar…