0%
3 min left

Ketika Digital Masih Terlihat Seperti Inisiatif Tambahan

Ketika Digital Masih Terlihat Seperti Inisiatif Tambahan
← Kembali ke Blog

Ketika Digital Masih Terlihat Seperti Inisiatif Tambahan

Beberapa tahun terakhir, kata “digital transformation” mulai semakin sering terdengar. Hampir semua organisasi membicarakannya. Banyak yang mulai menjalankan inisiatif digital, membangun aplikasi, memperkenalkan channel baru, atau mulai bereksperimen dengan berbagai platform.

Di banyak forum, topik ini juga semakin dominan. Digital tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang jauh, tapi sudah mulai masuk ke dalam agenda strategis.

Namun di saat yang sama, ada satu hal yang cukup menarik untuk diperhatikan.

Di banyak organisasi, digital masih terlihat sebagai sesuatu yang “ditambahkan”, bukan sesuatu yang benar-benar mengubah cara organisasi bekerja.

Inisiatif digital berjalan, tapi sering kali berdiri di samping proses yang sudah ada. Ia menjadi layer tambahan, bukan bagian dari struktur utama. Aktivitas lama tetap berjalan seperti biasa, sementara digital hadir sebagai pelengkap.

Sekilas, ini terlihat seperti langkah awal yang wajar.

Tapi mungkin justru di sinilah letak tantangannya.

Dalam beberapa laporan global, seperti yang disampaikan oleh McKinsey dalam Unlocking Success in Digital Transformations, disebutkan bahwa sebagian besar transformasi digital tidak mencapai hasil yang diharapkan. Salah satu faktor utamanya bukan pada teknologi, tapi pada bagaimana organisasi mengintegrasikan perubahan tersebut ke dalam cara kerja mereka.

Artinya, masalahnya bukan pada “ada atau tidaknya” inisiatif digital, tapi pada sejauh mana inisiatif tersebut benar-benar menjadi bagian dari sistem yang ada.

Hal serupa juga terlihat dalam banyak observasi lain. MIT Sloan Management Review dalam beberapa publikasinya menyoroti bahwa transformasi digital yang berhasil bukan ditentukan oleh teknologi semata, tapi oleh perubahan dalam mindset, budaya, dan kepemimpinan.

Kalau dilihat dari sini, mungkin digital memang bukan sekadar soal tools.

Ia lebih dekat dengan bagaimana organisasi melihat dirinya sendiri, dan bagaimana ia beradaptasi terhadap perubahan yang lebih besar.

Namun dalam praktiknya, tidak mudah untuk sampai ke sana.

Menambahkan sesuatu yang baru biasanya lebih mudah dibandingkan mengubah sesuatu yang sudah ada. Mengadopsi teknologi bisa dilakukan relatif cepat. Tapi mengubah cara kerja, cara berpikir, dan struktur organisasi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Dan mungkin itu sebabnya, di banyak tempat, digital masih berada di posisi “tambahan”.

Ia penting, tapi belum sepenuhnya menjadi inti.

Ia ada, tapi belum sepenuhnya mengubah.

Di titik ini, mungkin belum ada urgensi yang cukup besar untuk mendorong perubahan yang lebih dalam. Selama bisnis masih berjalan, selama target masih tercapai, perubahan cenderung dilakukan secara bertahap.

Tapi justru di fase seperti ini, arah ke depan mulai terbentuk.

Karena bagaimana organisasi memperlakukan digital hari ini—apakah sebagai pelengkap atau sebagai fondasi—akan menentukan seberapa siap mereka ketika perubahan yang lebih besar benar-benar datang.

Dan mungkin, itu yang menarik untuk terus diperhatikan.

Baca juga:

Komentar

Memuat komentar…