Indonesia E-commerce Lockdown Boom — Apakah Ini Fase Permanen?
9 bulan lockdown (PSBB pertama April, lalu PSBB transitions berkali-kali), ecommerce Indonesia explode. Tokopedia + Shopee combined gross merchandise value 2x dari 2019. Banyak konsumen Indonesia yang sebelumnya skeptis terhadap online shopping, sekarang convert.
Saya tulis observasi setelah satu Lebaran (Mei) dan satu Harbolnas (1-12-12 di Desember akan datang) yang harus dijalani dalam pandemic. Pertanyaan-nya: apakah ini fase permanent shift, atau ada pull-back setelah pandemic mereda?
Mari saya bedah data dan observasi.
Pertama, perubahan demografi user.
Sebelum pandemic, ecommerce Indonesia dominan dipakai oleh kelas menengah urban (Jabodetabek + 4-5 kota besar lainnya). Setelah pandemic, base user expand drastis. Saya lihat di data Tokopedia (public release): 30% user baru di Q2-Q3 2020 dari kota tier-2 dan tier-3.
Demografi-nya: lebih tua (60% di atas 35 tahun, sebelumnya mayoritas under 35), lebih banyak perempuan, lebih banyak yang first time pakai online shopping. Profile sangat berbeda dari pre-pandemic user.
Yang menarik: dari yang first time pakai online shopping di pandemic, retention setelah 3 bulan adalah 75%. Itu suggests bahwa banyak yang akan tetap order online bahkan setelah pandemic.
Kedua, kategori shopping yang shifted.
Sebelumnya, ecommerce dominan untuk: fashion (40% volume), electronics (25%), beauty (15%). Pandemic shifted: grocery + daily essentials (Bahan dapur, masker, hand sanitizer) jadi top category. Fashion turun, electronics turun.
Pasca-pandemic, saya prediksi grocery online akan stay sebagai habit. Sekali konsumen merasa nyaman order beras + minyak goreng online, mereka tidak akan back to supermarket fully. Mungkin hybrid: 50% online, 50% offline.
Untuk fashion: akan rebound, tapi mungkin pola berubah. Less impulse buying, more focused purchases (saya beli kemeja kerja online karena saya pakai harian, bukan random fashion pieces).
Ketiga, implikasi untuk infrastruktur logistik.
Logistic capacity Indonesia stretched habis-habisan selama 2020. JNE, J&T, SiCepat — semua expand armada agresif. Tapi masih sering delay. Pengalaman customer sering buruk: paket hilang, delay weeks, customer service tidak responsive.
Saya prediksi: 2021-2022 akan ada banyak investment di infrastructure logistik. Bukan hanya bigger fleet, tapi lebih smart: warehouse otomatisasi, last-mile delivery technology, integration dengan ecommerce platform untuk routing yang lebih efisien.
Itu opportunity besar untuk vendor teknologi B2B di Indonesia. Yang bisa build software untuk logistik akan dapat market yang growing.
Untuk peran saya di Metranet, ini relevant: Telkom Group punya logistik (Pos Indonesia subsidiary), data telekomunikasi, infrastruktur. Possible partnership yang strategic dengan ecommerce platform atau dedicated logistic player.
Apa yang akan kembali ke normal setelah pandemic?
Saya pikir tiga hal:
Pertama, traffic ke physical store akan rebound, terutama untuk experience purchases (fashion luxury, electronics yang butuh demo, furniture). Konsumen masih ingin touch dan see sebelum buy untuk certain categories.
Kedua, social shopping (Instagram Shop, TikTok Shop) akan grow dramatic. Pandemic accelerate adoption Instagram + TikTok di Indonesia, dan keduanya akan jadi commerce platform substantial dalam 2-3 tahun.
Ketiga, dan ini paling personal: ecommerce expansion akan tergantung pada infrastructure improvement. Internet penetration di tier-3 dan tier-4 cities masih issue. Logistik di Indonesia Timur masih challenging. Pasca-pandemic, growth ecommerce akan dibatasi sama infrastructure constraints.
Tahun depan saya akan tulis lagi setelah Harbolnas 2020. Saya prediksi: angka sales-nya akan jadi yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Industri kita perlu ready untuk handle volume yang belum pernah kami alami.

Komentar