0%
3 min left

How Shintabubu Shaped My Leadership

How Shintabubu Shaped My Leadership
← Kembali ke Blog


[name]: Shinta W. Dhanuwardoyo
[role]: CEO & Founder Bubu.com
Belajar dari Shintabubu, tentang keberanian, visi, dan makna menjadi pemimpin di dunia digital

Tanggal 17 September 2025, saya bertemu kembali dengan Shinta W. Dhanuwardoyo di Plaza Senayan. Bukan sekadar pertemuan biasa—ini seperti membuka kembali satu chapter panjang dalam perjalanan hidup saya.

Karena kalau saya tarik ke belakang, perjalanan saya di dunia digital tidak bisa dilepaskan dari satu nama: Shintabubu.


Awal Mula: Dari Blog ke Dunia Nyata

Saya pertama kali mengenal Shinta bukan dari ruang meeting, tapi dari dunia yang pada masanya terasa “liar”—blogosphere tahun 2007.

Di era ketika belum ada istilah content creator, belum ada personal branding seperti sekarang, Shinta sudah lebih dulu hadir. Bukan sekadar menulis, tapi membangun suara. Bukan sekadar eksis, tapi memberi pengaruh.

Dan menariknya, beliau tidak pernah terlihat “berusaha terlalu keras” untuk terlihat hebat.

Itu pelajaran pertama yang saya sadari belakangan:
authenticity beats noise.


Mentor, Atasan, dan Role Model

Sekitar tahun 2010, saya berkesempatan bekerja bersama beliau. Di titik itu, relasi kami bukan lagi sekadar “sesama blogger”, tapi berkembang menjadi mentor–mentee, atasan–tim, dan dalam banyak hal: role model.

Shinta bukan tipe pemimpin yang banyak teori.
Tapi setiap keputusan, setiap cara beliau membawa diri, itu seperti living case study tentang leadership.

Ada beberapa hal yang sangat membentuk cara saya memimpin hari ini:


1. Leadership is About Courage to Be First

Shinta adalah salah satu perempuan di Indonesia yang berani masuk ke dunia teknologi—di saat ekosistemnya bahkan belum terbentuk dengan jelas.

Beliau bukan hanya ikut arus.
Beliau adalah bagian dari yang menciptakan arus.

Mulai dari aktif di dunia digital awal, membangun venture capital, menjadi angel investor, hingga akhirnya mendirikan Todak bersama partner dari Malaysia.

Dari beliau, saya belajar:
Leadership bukan soal menjadi yang paling siap, tapi yang paling berani melangkah lebih dulu.


2. Influence is Built, Not Claimed

Shinta dikenal luas—baik di dunia teknologi maupun dalam advokasi budaya, termasuk perannya dalam menyuarakan Batik hingga dikenal secara global dan diperingati setiap 2 Oktober.

Tapi yang menarik, beliau tidak pernah terlihat “mengejar panggung”.

Influence-nya datang secara organik.

Dari konsistensi.
Dari keberanian bersuara.
Dari positioning yang jelas.

Ini membentuk cara saya melihat leadership hari ini:
Influence bukan jabatan. Influence adalah hasil dari value yang terus kita deliver.


3. Global Mindset, Local Soul

Satu hal yang selalu saya kagumi: Shinta itu global, tapi tidak pernah kehilangan identitas lokal.

Beliau bisa berbicara tentang startup, venture capital, dan teknologi masa depan.
Tapi di saat yang sama, beliau juga membawa Batik ke panggung dunia.

Dari sini saya belajar:
Menjadi pemimpin digital tidak berarti menjadi “asing” dari akar kita. Justru sebaliknya—akar itulah yang membuat kita relevan secara global.


4. Building, Not Just Riding

Banyak orang masuk ke dunia digital untuk “ikut tren”.

Tapi Shinta selalu berada di sisi yang berbeda: membangun.

Membangun ekosistem.
Membangun bisnis.
Membangun orang.

Dan mungkin ini salah satu pelajaran terbesar yang saya bawa ke perjalanan saya di PosDIGI:

Don’t just ride the wave. Build the wave.


Refleksi: Leadership yang Tidak Tertulis

Pertemuan di Plaza Senayan itu sederhana. Tidak ada panggung besar, tidak ada audiens.

Tapi justru di situ saya menyadari sesuatu:

Bahwa leadership yang paling berdampak seringkali tidak datang dari seminar, buku, atau framework.

Tapi dari manusia.
Dari interaksi.
Dari perjalanan panjang yang kita lalui bersama.


Closing

Kalau hari ini saya berbicara tentang digital leadership, tentang transformation, tentang building ecosystem—maka sebagian dari fondasi itu dibentuk oleh satu sosok:

Shintabubu.

Bukan hanya karena apa yang beliau katakan,
tapi karena bagaimana beliau hidup.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah esensi leadership yang sebenarnya:

Not what you say.
But what you consistently show.

Komentar

Memuat komentar…