Percakapan di Lereng Merapi: Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

Minggu, 15 April 2026, di Merapi Golf Yogyakarta, menjadi salah satu momen yang menurut saya bukan sekadar pertemuan, tetapi perenungan.
Saya berkesempatan berdiskusi dengan Ojat Darojat—seorang akademisi, pemimpin, sekaligus birokrat yang kini mengemban amanah sebagai Deputi di Kemenko PMK.
Percakapan kami mengalir hangat. Tidak kaku, tidak formal, tetapi penuh makna.
Tentang Perjuangan: Pendidikan Tidak Pernah Instan
Salah satu bagian yang paling membekas dari diskusi kami adalah ketika beliau bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Tidak ada shortcut.
Tidak ada privilege berlebih.
Yang ada justru adalah ketekunan, kesederhanaan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.
Beliau sempat bercerita tentang fase hidup di mana pilihan-pilihan tidak selalu ideal. Bahkan sempat terpikir untuk berkarier di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung—sebuah jalur yang pada saat itu terasa lebih “reachable”.
Namun hidup, seperti yang sering terjadi, membawa kita ke jalur yang tidak selalu kita rencanakan, tetapi justru membentuk kita lebih kuat.
Di titik ini, saya merasa sangat relate.
Dalam perjalanan karier, sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara yang “pasti” dan yang “bermakna”. Dan tidak jarang, keputusan terbaik justru lahir dari keberanian mengambil jalan yang tidak populer.
Pendidikan Indonesia: Antara Akses dan Kualitas
Diskusi kemudian melebar ke isu yang lebih besar: pendidikan Indonesia.
Kami berbicara tentang dua hal klasik, tetapi belum pernah benar-benar selesai:
- akses
- kualitas
Model seperti Universitas Terbuka yang beliau pimpin selama hampir satu dekade menjadi bukti bahwa akses bisa diperluas secara masif melalui pendekatan yang tepat—terutama dengan pemanfaatan teknologi.
Namun, akses saja tidak cukup.
Pertanyaan berikutnya selalu:
bagaimana memastikan kualitas tetap terjaga?
Di sinilah diskusi menjadi semakin menarik.
Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan: Dua Sisi Strategi
Pemerintah saat ini sedang menyiapkan dua pendekatan yang menurut saya sangat strategis:
1. Sekolah Rakyat
Konsep ini berangkat dari semangat inklusivitas. Bahwa setiap anak, dari latar belakang apa pun, berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Sekolah rakyat bukan sekadar tentang bangunan, tetapi tentang:
- pemerataan kesempatan
- intervensi sosial
- dan penguatan fondasi pendidikan dasar
2. Sekolah Unggulan
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan sekolah unggulan.
Ini bukan tentang eksklusivitas, tetapi tentang:
- menciptakan benchmark
- melahirkan talenta terbaik
- dan membangun ekosistem excellence
Diskusi kami sampai pada satu titik menarik:
Pendidikan yang kuat bukan hanya yang merata, tetapi juga yang mampu melahirkan excellence.
Dan keduanya tidak harus saling bertentangan.
Justru harus berjalan beriringan.
Refleksi Personal: Leadership, Pendidikan, dan Masa Depan
Sebagai seseorang yang banyak berkecimpung di dunia digital dan transformasi, saya melihat satu benang merah yang kuat dari diskusi ini:
masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita mendesain sistem pendidikannya hari ini.
Bukan hanya kurikulumnya, tetapi juga:
- cara berpikirnya
- fleksibilitasnya
- dan keberaniannya untuk berubah
Saya teringat satu hal yang selalu saya yakini:
Semua orang bisa menjadi apa pun—selama memiliki attitude, kemauan, dan ketekunan.
Dan pendidikan seharusnya menjadi enabler dari keyakinan itu.
Menutup Hari, Membuka Perspektif
Diskusi itu tidak terasa seperti diskusi.
Lebih seperti perjalanan pikiran.
Di antara hijaunya lapangan golf dan sejuknya udara Merapi, saya merasa mendapatkan sesuatu yang jarang: perspektif yang jernih.
Tentang:
- perjuangan hidup
- arah pendidikan Indonesia
- dan peran kita masing-masing dalam membentuk masa depan
Saya pulang hari itu dengan satu perasaan sederhana:
bersyukur.
Karena di tengah long weekend yang seharusnya santai, justru saya mendapatkan energi baru—untuk berpikir lebih besar, dan bertindak lebih bermakna.



Komentar