0%
5 min left

Geopolitik, Perang, dan Dua Hal yang Harus Kamu Siapkan Sekarang

Geopolitik, Perang, dan Dua Hal yang Harus Kamu Siapkan Sekarang
← Kembali ke Blog


[name]: Farah Fitria R
[role]: Direktur Digital Business Peruri
Sabtu pagi itu harusnya jadi sesi golf yang menyenangkan. Cuaca cerah, partner main Farah Fitria, salah seorang Direktur di salah satu BUMN yang sudah lama banget kita rencanain. Tapi seperti yang sering terjadi di hidup, rencana manusia selalu bisa diinterupsi — dan kali ini yang menginterupsi adalah langit Jakarta yang tiba-tiba berubah pikiran.

Hujan deras. Petir menyambar. Sirine dari clubhouse berbunyi. Baru di hole ke-2, kita sudah harus berteduh di shelter.

Tapi justru dari situ perbincangan yang paling menarik dimulai.


Teman saya — yang sudah malang melintang di lingkaran kebijakan dan korporasi — langsung buka dengan satu kalimat yang cukup bikin mikir:

"Lo udah siap kalau situasi global makin panas?"

Maksudnya bukan retorika. Dia memang lagi dalam mode serius. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belakangan ini bukan sekadar drama geopolitik yang kita tonton dari layar HP. Ada eskalasi nyata. Dan dampaknya bisa terasa sampai ke sini, ke kita, ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kita bicara soal beberapa skenario. Kalau konflik di Timur Tengah makin melebar, apa yang terjadi? Harga energi naik. Rantai pasok global terganggu. Dolar menguat, rupiah tertekan. Investasi asing kabur ke aset yang lebih "aman". Dan ujung-ujungnya, ketidakpastian ekonomi merembet ke mana-mana.

Dan dari situlah dia bilang ada dua hal yang perlu disiapkan dari sekarang:

Pertama: Cash. Dalam situasi ketidakpastian, likuiditas adalah raja. Ketika pasar bergejolak, ketika bank-bank mulai berhati-hati, ketika bisnis melambat — mereka yang punya cash di tangan punya fleksibilitas yang orang lain tidak punya. Bukan berarti harus naruh semua aset dalam bentuk tunai. Tapi punya cadangan cash yang cukup untuk 6-12 bulan kebutuhan itu bukan lagi luxury, itu necessity.

Kedua: Emas. Dan ini yang kemudian jadi topik panjang.


Kenapa Emas? Dan Kenapa Sekarang Harganya Sudah "Gila-Gilaan"?

Kalau kamu perhatiin harga emas dalam dua tahun terakhir, mungkin kamu udah geleng-geleng kepala. Dari sekitar US$2.000 per troy ons di awal 2024, harga emas melesat menembus US$3.000 di Maret 2025, lalu US$3.500 di April 2025, dan sempat menyentuh US$4.500-an di penghujung 2025. Masuk awal 2026, harga masih bergerak di kisaran US$4.800-5.000 per troy ons. Di dalam negeri, harga emas Antam per gram yang dulunya masih di kisaran Rp 1 juta lebih, sekarang sudah menembus Rp 2,7 juta.

Gila? Iya. Tapi ada penjelasannya.

Pertama, China lagi borong besar-besaran. Ini bukan rumor. Data dari World Gold Council dan berbagai lembaga keuangan global mengkonfirmasi bahwa bank sentral China — dan investor ritel China — sedang dalam mode akumulasi emas yang agresif. Asosiasi Emas China sendiri melaporkan kenaikan konsumsi emas batangan dan koin domestik hingga 30 persen di kuartal pertama 2025. Angka resmi cadangan emas China memang tercatat sekitar 2.292 ton, tapi sejumlah analis meyakini angka sesungguhnya bisa jauh lebih besar dari yang dilaporkan ke IMF. Kenapa China borong? Karena mereka sedang mendiversifikasi cadangan devisa mereka, mengurangi ketergantungan pada dolar AS, dan mempersiapkan diri untuk skenario fragmentasi ekonomi global.

Kedua, de-dolarisasi sedang berjalan. Perang dagang antara AS dan China, sanksi-sanksi yang dijatuhkan AS ke berbagai negara, plus keputusan AS untuk membekukan cadangan devisa Rusia setelah invasi Ukraina — semua itu mengirim sinyal keras ke banyak negara: menyimpan aset dalam denominasi dolar itu berisiko. Bank sentral di Polandia, Azerbaijan, India, dan banyak negara lainnya ikutan menambah cadangan emas mereka. Ketika kepercayaan terhadap mata uang tertentu melemah, emas jadi pelarian pertama.

Ketiga, the Fed dan suku bunga. Sepanjang 2025, Fed sudah tiga kali memangkas suku bunga. Ketika suku bunga rendah, emas menjadi lebih menarik karena orang tidak lagi mendapat imbal hasil yang signifikan dari instrumen berbasis dolar. Ditambah, inflasi yang masih menggerogoti daya beli membuat emas semakin relevan sebagai "penyimpan nilai."

Keempat, ya, geopolitik. Konflik Iran-Israel-Amerika, perang Rusia-Ukraina yang belum selesai, ketegangan di Laut China Selatan, kebijakan tarif Trump yang agresif — semua itu menciptakan aura ketidakpastian yang membuat investor global bergerak ke aset safe haven. Dan emas adalah safe haven paling klasik yang ada.

Ada juga yang bilang soal "shutdown AS yang disengaja" — teori bahwa pemerintah AS sedang sengaja menciptakan kondisi tertentu untuk tujuan fiskal atau geopolitiknya sendiri. Apakah ini benar? Saya tidak punya akses ke dokumen rahasia. Tapi yang jelas, efeknya nyata: kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi AS sedang diuji, dan emas sedang jadi beneficiary utamanya.


Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?

Teman saya tidak bilang "panic buying emas sekarang." Dia lebih bilang: bangun fondasi. Kalau kamu belum punya alokasi emas dalam portofolio, pertimbangkan mulai dari sekarang — bukan untuk spekulasi, tapi sebagai hedging. Sebagian analis memproyeksikan harga emas bisa terus bergerak naik, bahkan Goldman Sachs pernah memasang target US$4.900 per troy ons untuk akhir 2026.

Apakah itu berarti harga emas tidak akan pernah koreksi? Tentu tidak. Volatilitas tetap ada. Tapi dalam jangka panjang, di tengah ketidakpastian yang struktural seperti sekarang, emas tetap relevan.

Dan kalau situasi geopolitik benar-benar memburuk? Well, setidaknya kamu sudah punya dua hal: cash untuk bertahan, dan emas untuk menjaga nilai kekayaan.

Itulah oleh-oleh dari shelter golf di tengah hujan deras. Bukan birdie, bukan eagle. Tapi mungkin lebih berguna dari itu.

Komentar

Memuat komentar…