0%
5 min left

Geopolitics, Trade War, dan Apa yang Saya Pelajari di IMD

Geopolitics, Trade War, dan Apa yang Saya Pelajari di IMD
← Kembali ke Blog


Waktu belajar di IMD Business School, ada satu slide yang langsung nyangkut di kepala saya.

Slide itu menunjukkan peta jaringan perdagangan dunia di tahun 1990. Dua cluster besar — Eropa yang dipimpin Jerman dan Prancis, Amerika yang dipimpin US. Dunia yang terlihat rapi, terstruktur, dan predictable.

Fast forward ke hari ini. Tidak ada yang rapi lagi.


Dunia 1990 vs Dunia Sekarang — Kontras yang Mengejutkan


Di tahun 1990, peta perdagangan dunia cukup mudah dibaca. Ada dua gravitasi utama — Germany sebagai pusat Eropa, dan United States sebagai pusat belahan barat dan sebagian Asia. Negara-negara lain berputar di orbit dua kekuatan itu, dan semuanya terasa teratur.

Tapi slide kedua yang saya lihat di IMD justru yang lebih menarik.

Data dari UNCTAD menunjukkan tren yang mulai terasa sejak Q1 2022: negara-negara yang geopolitically close semakin banyak berdagang satu sama lain, sementara perdagangan dengan negara yang geopolitically distant justru menurun. Para ekonom menyebutnya friendshoring — strategi di mana keputusan ekonomi semakin banyak dipengaruhi oleh kedekatan politik, bukan sekadar efisiensi biaya.

Ini bukan teori. Ini sudah terjadi.


Apa yang Telah Berubah — dan Kenapa Ini Penting

Ketika IMD mengajarkan ini, konteksnya masih relatif awal. Perang Rusia-Ukraina baru saja mulai mengubah arsitektur supply chain Eropa. Ketegangan US-China sudah terasa, tapi belum sampai di titik yang kita lihat sekarang.

Dua tahun kemudian, gambarnya sudah jauh lebih dramatis.

Pada April 2025, Presiden Trump meluncurkan apa yang disebut "reciprocal tariffs" — sebuah kebijakan yang dalam satu hari mengubah landscape perdagangan global secara fundamental. Tarif 54% untuk China. Tarif 34% untuk Indonesia. Tarif 46-49% untuk Vietnam, Kamboja, dan Laos. Dan tarif 10% sebagai baseline untuk hampir semua negara di dunia.

April 2025 mungkin akan diingat sebagai bulan ketika globalisasi — setidaknya seperti yang kita kenal — secara resmi bergeser ke babak baru.

Yang menarik bukan hanya besarnya tarif. Tapi intention di baliknya — sebuah sinyal bahwa era liberal trade order yang selama ini mendorong pertumbuhan Asia sudah bergeser ke era baru: dari optimisasi biaya menjadi strategic decoupling.


Indonesia dan Southeast Asia — Di Mana Kita Berdiri?

Ini yang paling relevan untuk kita pikirkan dari perspektif Indonesia dan kawasan.

Southeast Asia selama ini menjadi pemenang besar dari trade war pertama Trump di 2018. Konsep China+1 — strategi perusahaan multinasional untuk diversifikasi dari China ke negara-negara tetangga — membawa investasi, lapangan kerja, dan transfer teknologi ke Vietnam, Indonesia, Malaysia, Thailand.

Tapi trade war jilid dua ini berbeda. Southeast Asia kini berada dalam posisi terjepit antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Di satu sisi, tarif AS mengancam pasar ekspor utama. Di sisi lain, China yang kehilangan akses ke pasar AS mulai mengalihkan ekspornya ke kawasan — termasuk Indonesia — dengan harga yang sangat kompetitif, bahkan di bawah harga pasar.

Indonesia sendiri sudah merasakan dampaknya, dengan sektor tekstil kehilangan puluhan ribu pekerjaan dalam enam bulan akibat banjir produk murah dari China.

Kabar baiknya, Indonesia berhasil menegosiasikan tarif yang lebih rendah — dari 34% menjadi 19% — melalui perjanjian bilateral dengan AS. Diskusi bergerak maju di akhir 2025, dengan isu-isu utama dilaporkan sudah diselesaikan dan persiapan sedang berjalan untuk Presiden Prabowo menandatangani kesepakatan dengan Trump.

Tapi ini bukan kemenangan yang bisa dirayakan terlalu lama. AS juga memulai beberapa investigasi baru yang secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai salah satu targetnya. Ketidakpastian masih sangat nyata.


Deglobalization atau Reglobalization?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul dalam konteks ini — dan jawabannya lebih nuanced dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Banyak yang menyebut ini era deglobalization — dunia yang semakin tertutup, semakin fragmentasi. Tapi data terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Apa yang tampaknya berubah bukan level integrasi global, tapi arsitekturnya. Pergeseran kebijakan perdagangan AS telah memicu transformasi struktural dalam supply chain global — dari optimisasi biaya murni menuju resiliensi strategis. Ini lebih tepat disebut "reglobalization" daripada deglobalization.

Dunia masih jauh dari terpecah menjadi blok-blok yang terputus. Hanya sekitar 4-6% dari perdagangan barang global yang telah bergeser menjauh dari rival geopolitik selama dekade terakhir. Yang lebih banyak terjadi adalah de-risking — mengurangi ketergantungan pada satu mitra tunggal — bukan friendshoring secara penuh.

Dan negara-negara yang paling diuntungkan justru adalah connector economies — negara seperti Mexico, Vietnam, dan sebagian Indonesia — yang bisa berdiri di tengah dua blok dan melayani keduanya.


Apa yang Saya Bawa Pulang dari Kelas IMD

Kalau ada satu hal yang paling sticky dari pelajaran geopolitics di IMD, itu adalah ini:

Dunia tidak berjalan hanya dengan logika ekonomi. Dunia berjalan dengan logika kekuasaan — dan ekonomi mengikutinya.

Dulu kita belajar bahwa perdagangan mengikuti efisiensi: produksi di tempat yang paling murah, jual di tempat yang paling menguntungkan. Simple.

Sekarang kita hidup di era di mana keputusan "dengan siapa kita berdagang" semakin banyak ditentukan oleh "dengan siapa kita berpihak secara geopolitik." Dan itu mengubah segalanya — dari supply chain perusahaan multinasional, sampai kebijakan industri sebuah negara, sampai keputusan investasi yang seharusnya murni berbasis angka.

Bagi kita yang membangun bisnis dan venture di Indonesia, ini bukan hanya konteks global yang menarik untuk diikuti. Ini adalah realita yang akan terus membentuk landscape di mana kita beroperasi — dalam satu, dua, lima tahun ke depan.

Pertanyaannya bukan lagi "apakah ini akan berdampak?"

Pertanyaannya adalah: "Kita mau berada di posisi mana dalam peta yang sedang digambar ulang ini?"

Komentar

Memuat komentar…