Belajar Kepemimpinan dari Sosok yang Membentuk Cara Saya Melihat Dunia
Saya mengenal beliau bukan hanya dalam konteks profesional, tetapi juga dalam dimensi yang lebih personal—sebagai seseorang yang secara konsisten membentuk cara saya berpikir, mengambil keputusan, dan memaknai kepemimpinan itu sendiri.
Kedekatan yang Melampaui Hubungan Profesional
Relasi saya dengan Pak Faizal tidak pernah sekadar hubungan struktural. Seiring waktu, komunikasi kami berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam—tidak terbatas oleh jabatan, tidak dibatasi oleh formalitas.
Ada fase di mana diskusi kami tidak lagi soal pekerjaan semata, tapi tentang cara melihat dunia. Tentang bagaimana seorang pemimpin harus berdiri di tengah ketidakpastian. Tentang bagaimana kita menjaga keberanian ketika tekanan datang dari berbagai arah.
Dari situ saya mulai memahami satu hal penting:
Leadership bukan hanya soal posisi, tapi soal perspektif.
Visioner yang Tidak Takut Bermimpi Besar
Salah satu hal yang paling melekat dari Pak Faizal adalah visinya yang selalu melampaui zamannya.
Beliau bukan tipe pemimpin yang sekadar menjalankan sistem. Beliau membangun sistem baru.
Ketika beliau menjabat sebagai Direktur Digital Business di Telkom Indonesia, hingga kemudian menjadi CEO di Pos Indonesia, jejaknya selalu jelas: transformasi.
Bukan transformasi yang normatif. Tapi transformasi yang berani.
Beliau sering menyampaikan satu prinsip yang sampai hari ini saya pegang erat:
“Jangan takut apa pun. Karena keberanian akan membuat kita menjadi tidak terbatas.”
Kalimat ini sederhana. Tapi dalam praktiknya, sangat dalam.
Karena di dunia nyata, rasa takut sering kali menjadi batas terbesar—bukan kompetensi, bukan sumber daya, tapi mentalitas.
Legacy yang Hidup dalam Cara Saya Memimpin
Banyak orang meninggalkan legacy dalam bentuk sistem atau kebijakan.
Pak Faizal meninggalkan sesuatu yang lebih fundamental: cara berpikir.
Jargon, wejangan, dan cara beliau melihat masalah sering kali tanpa sadar saya adopsi dalam keseharian. Bahkan dalam banyak keputusan strategis yang saya ambil hari ini, saya bisa merasakan “jejak beliau” di dalamnya.
Saya menyadari bahwa:
- Cara saya membangun tim
- Cara saya membaca peluang
- Cara saya menghadapi tekanan
- Bahkan cara saya berbicara dalam forum strategis
Semuanya, dalam kadar tertentu, adalah refleksi dari apa yang saya pelajari dari beliau.
Dan bagi saya, itu adalah bentuk legacy yang paling kuat—
ketika seorang pemimpin hidup dalam cara berpikir orang lain.
Menjadi “Ideological Father” dalam Kepemimpinan
Mungkin terdengar tidak biasa ketika saya menyebut beliau sebagai bapak ideologis dalam perjalanan kepemimpinan saya.
Tapi memang seperti itulah adanya.
Beliau bukan hanya memberi arahan.
Beliau membentuk fondasi.
Saya belajar bahwa:
- Kepemimpinan adalah tentang keberanian mengambil keputusan, bahkan ketika datanya belum sempurna
- Kepemimpinan adalah tentang konsistensi dalam nilai, bukan sekadar fleksibilitas dalam strategi
- Kepemimpinan adalah tentang menciptakan dampak, bukan sekadar menjalankan peran
Dan yang paling penting—
kepemimpinan adalah tentang membangun keberanian dalam diri orang lain.
Refleksi Pribadi: Menjadi Versi Terbaik dengan Meniru, Lalu Menemukan Diri Sendiri
Saya tidak menutup fakta bahwa gaya kepemimpinan saya hari ini sangat banyak dipengaruhi oleh Pak Faizal. Bahkan bisa dibilang, di fase awal, saya banyak “meniru” beliau.
Namun seiring perjalanan, saya mulai memahami bahwa:
Meniru adalah awal dari belajar.
Tapi menemukan identitas sendiri adalah tujuan akhirnya.
Dan dalam proses itu, Pak Faizal tidak pernah membatasi. Justru beliau mendorong saya untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri.
Penutup
Dalam perjalanan karier, kita mungkin akan bertemu banyak pemimpin hebat.
Namun hanya sedikit yang benar-benar membentuk kita dari dalam.
Bagi saya, Faizal R. Djoemadi adalah salah satunya.
Dan jika hari ini saya memiliki keberanian untuk berpikir lebih besar, melangkah lebih jauh, dan memimpin dengan keyakinan—
maka sebagian besar fondasinya, dibangun dari pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari beliau.
Karena pada akhirnya,
pemimpin terbaik bukan hanya yang menciptakan hasil, tapi yang menciptakan pemimpin berikutnya.






Komentar