Gempa Jepang 2011: Ketika Twitter Jadi Saluran Solidaritas Global
Tanggal 11 Maret kemarin, jam 14:46 waktu Tokyo, gempa 9.0 SR menggetarkan utara Jepang. Saya tahu dari Twitter — tweet pertama yang muncul di timeline saya dari teman Singapore: "huge earthquake in Japan, just felt aftershocks here". Tiga menit kemudian, retweet dari NHK World. Lima menit kemudian, video pertama tsunami yang mulai mencapai Sendai.
Sepanjang sore itu, saya ngomong jujur — saya tidak pindah dari laptop. Bukan untuk kerja. Untuk mengikuti unfolding bencana lewat Twitter. Bukan karena saya ada koneksi di Jepang. Tapi karena Twitter, untuk pertama kalinya, menjadi semacam "saluran solidaritas global" yang real-time.
Setahun lalu saya tulis tentang Michael Jackson meninggal dan bagaimana Twitter 8 jam mendahului koran. Itu peristiwa diskrit — selebriti meninggal, semua orang share, lewat dalam 24 jam. Gempa Jepang berbeda. Ini bencana yang berlangsung berjam-jam, lalu berhari-hari. Tsunami menyapu pantai utara Honshu selama berjam-jam pertama. Lalu reaktor nuklir Fukushima mulai bermasalah. Lalu evakuasi 200,000 orang. Cerita tidak selesai — terus mengalir.
Twitter cocok dengan format ini. Setiap tweet adalah update kecil. Setiap retweet adalah amplifikasi. Hashtag #PrayForJapan trending global selama hampir seminggu. Donasi dikoordinasi lewat tweet — link ke Red Cross, link ke Doctors Without Borders, link ke berbagai NGO. Sumbangan dikumpulkan ratusan juta dolar dalam minggu pertama.
Ada yang menarik soal cara orang Indonesia merespons. Hashtag #PrayForJapan dan tweet bahasa Indonesia tentang Jepang viral. Banyak teman saya yang bahkan tidak pernah ke Jepang, posting foto sushi dan tulis caption emotional. Apakah itu virtue signaling? Mungkin. Tapi ada juga genuine empati — Jepang adalah negara yang dekat dengan hati banyak orang Indonesia (anime, drama, tech, mobil). Bencana di sana terasa personal.
Yang membuat saya pikir lebih dalam: kemampuan kita berempati dengan orang asing — orang yang tidak kita kenal di negara yang jauh — sekarang ada saluran yang riil. Sebelum Twitter, empati semacam itu disalurkan lewat TV (kita nonton siaran berita yang dikemas, lalu lupa setelah ganti channel). Lewat Twitter, kita mengikuti tweet warga Jepang yang sedang evakuasi, foto reruntuhan rumah mereka, video tsunami yang masih basah. Bencana jadi personal karena kita lihat dari mata mereka.
Pertanyaan berikutnya: apakah ini bertahan? Atau besok kita semua lupa dan move on ke topik berikutnya?
Saya pikir, untuk sebagian besar orang — termasuk saya — empati Twitter ini bersifat transient. Sekarang #PrayForJapan trending. Bulan depan kita semua move on. Itu reality dari attention economy yang Twitter ciptakan: yang baru selalu menggantikan yang lama.
Tapi ini bukan kritik. Ini observasi. Lebih baik punya saluran empati yang transient daripada tidak punya sama sekali. Lebih baik orang Indonesia tahu apa yang terjadi di Sendai daripada cuek total.
Saya akan ikuti recovery Jepang beberapa bulan ke depan. Sekedar follow akun NHK World, akun jurnalis yang ada di lapangan. Kalau lupa karena ada berita baru — itu bukan dosa. Itu kondisi manusia di era informasi cepat.

Komentar