0%
3 min left

Uber Masuk Indonesia: Disrupsi yang Lebih dari Sekedar Aplikasi

Uber Masuk Indonesia: Disrupsi yang Lebih dari Sekedar Aplikasi
← Kembali ke Blog

Bulan Agustus Uber soft-launch di Jakarta. Saya dapet beta access, dan setelah 3 minggu coba, saya tulis observasi awal.

Uber bukan sekedar aplikasi memanggil taksi. Itu yang banyak orang miss. Uber adalah model bisnis baru yang struktural berbeda dari taksi tradisional, dan implikasinya untuk Indonesia akan jauh lebih besar dari yang kelihatan sekarang.

Mari saya bedah.

Pertama, soal supply. Taksi tradisional di Jakarta — Blue Bird, Express, Putra, dll — punya armada fixed. Tiap perusahaan beli mobil, sewa supir, beri seragam, tetapkan rute (atau area), set tarif. Supply terbatas. Tarif terkontrol. Pertumbuhan lambat.

Uber model: tidak punya mobil. Mereka kasih akses ke driver yang punya mobil sendiri (atau menyewa). Driver setup-nya 1 hari (download app, verifikasi, jalan). Supply elastis — kalau demand naik, lebih banyak driver muncul. Kalau demand turun, driver pindah ke kerjaan lain.

Itu fundamentally berbeda dari taksi. Bukan competition antara perusahaan taksi yang lebih besar atau lebih efisien. Tapi competition antara model dengan supply terbatas vs model dengan supply elastis.

Kedua, soal pricing. Taksi tarif fixed, regulated. Uber dynamic pricing — naik saat demand tinggi, turun saat sepi. Ini ekonomi 101: harga sebagai mekanisme alokasi. Tapi untuk konsumen Indonesia yang biasa dengan tarif fixed, ini akan jadi shock. Surge pricing 3x atau 5x saat hujan badai akan bikin marah.

Yang menarik buat saya: Uber surge pricing punya manfaat struktural — di saat hujan, lebih banyak driver online (karena bisa dapat 3x normal income). Supply naik untuk match demand. Tanpa surge pricing, di hujan badai semua orang akan tunggu lama atau tidak dapat sama sekali. Tapi konsumen jarang lihat itu — mereka cuma lihat harga mahal saat darurat.

Ketiga, soal regulasi. Uber masuk Indonesia tanpa license taksi formal. Driver-nya bukan supir taksi resmi. Mobil-nya bukan plat kuning. Regulasi taksi tradisional tidak apply. Ini akan jadi konflik regulasi yang serius dengan Organda dan pemerintah dalam 2-3 tahun ke depan.

Prediksi saya: Uber akan jadi besar di Jakarta dan beberapa kota besar, terutama kalangan profesional muda yang cari kenyamanan dan tidak suka tarif taksi yang inkonsisten (kadang argo, kadang tawar). Tapi mereka akan menghadapi pushback regulasi yang serius.

Yang lebih menarik buat saya, sebagai pengamat tech Indonesia: Uber akan menginspirasi startup lokal. Sudah ada beberapa yang mulai eksperimen dengan model serupa untuk vertical lain — bukan taksi mobil, tapi ojek (motorcycle taxi yang dominan di Jakarta).

Saya dengar ada startup lokal lagi develop app untuk ojek. Belum launch, masih beta. Tapi kalau mereka eksekusi dengan baik, model "Uber for X" akan jadi cetak biru untuk transportation di Indonesia. Mungkin termasuk saya yang tulis ini, dalam 5 tahun lagi, naik ojek lewat aplikasi yang dipanggil "Go-Jek" atau "Grab Bike" atau apapun.

Sementara itu, saya akan coba pakai Uber lebih sering. Lebih murah dari Blue Bird untuk jarak menengah, dan tracking lokasi-nya membuat saya tenang ketika ibu saya naik sendiri ke airport. Itu value yang tidak bisa diukur dengan tarif saja.

Komentar

Memuat komentar…