Gojek Bukan Lagi Ojek App — Super App Era Dimulai di Indonesia
Tahun lalu saya tulis tentang Gojek launch GO-RIDE — ojek booking lewat app. Setahun setelah, Gojek bukan lagi ojek app. Mereka launch GoCar (mobil), GoFood (delivery makanan), GoSend (kurir paket), GoMart (groceries), GoMassage, GoClean, GoTix, GoBox, GoBills, GoPulsa, dan GoPay. Dalam 1 app, hampir semua kebutuhan harian Jakarta tertangani.
Ini bukan lagi startup transportasi. Ini super app — konsep yang sudah ada di China (WeChat, Alipay) tapi baru jadi reality di Indonesia.
Saya pakai Gojek setiap hari. Pagi pesan kopi via GoFood. Siang ke meeting via GoRide. Sore beli groceries via GoMart. Malam bayar listrik via GoBills. Saya bahkan top up pulsa anak buah saya via GoPay. Aplikasi yang 18 bulan lalu cuma ojek, sekarang infrastruktur hidup harian.
Apa yang Gojek lakukan dengan benar?
Pertama, jaringan supplier yang sudah ada. Ojek-ojek mereka punya time slack — mereka bisa ambil orderan delivery makanan (GoFood) atau kurir paket (GoSend) ketika tidak ada penumpang. Marginal cost untuk add layanan baru sangat rendah. Aplikasi expand dengan minimal infrastructure additional.
Kedua, payment platform sebagai foundation. GoPay (launched April) bukan sekedar wallet — itu enabler untuk semua layanan lain. Sekali user load saldo di GoPay, mereka jadi sticky. Top-up dapat cashback atau bonus, jadi user makin engaged dengan ecosystem.
Ketiga, brand consistency. Setiap layanan Gojek punya nama yang konsisten (Go + verb). User tahu langsung apa yang dia book. Iconography konsisten. UI consistent. Tidak ada user training extensif setiap fitur baru.
Implikasi untuk industri kita di Indonesia?
Pertama, model "single function startup" jadi vulnerable. Startup yang fokus delivery makanan saja, susah compete dengan Gojek yang punya marginal driver gratis. Startup yang focus ride saja, harus berhadapan dengan Gojek + Grab yang punya scale yang lebih besar.
Kedua, payment as platform jadi territory yang berebut. GoPay vs OVO (DANA juga akan masuk) — semua mau jadi default Indonesia payment app. Yang menang akan dapat huge structural advantage di mass market.
Ketiga, regulator akan mulai serius monitor. Super app dengan scale Gojek punya banyak data dan power. Pemerintah pasti akan ada regulasi untuk antitrust, untuk consumer protection, untuk gig worker rights. Saya dengar pertama ada diskusi internal di kementerian.
Untuk Telkom Group (tempat saya kerja): super app model menantang. Telkom dominan di telco infrastructure, tapi tidak di consumer-facing app. Gojek build consumer relationship yang Telkom tidak punya. Dalam 3-5 tahun, kalau Telkom tidak invest di consumer-facing app, mereka akan jadi "pipe" — infrastructure provider, tapi tanpa kontrol atas relationship dengan end user.
Saya tidak tahu strategi Telkom. Tapi sebagai Senior PM di Metranet, saya akan dengarkan dengan minat ketika ada diskusi tentang ini.
Yang saya tidak yakin: apakah super app model akan menang di seluruh dunia, atau di Indonesia saja. China pakai, Indonesia mulai pakai, India juga (Paytm). Tapi US dan Eropa belum punya super app yang signifikan — Amazon paling dekat tapi belum payment+transport+messaging unified. Mungkin karena infrastruktur perbankan di Western lebih sophisticated dari Asia emerging market — orang sudah punya credit card, mobile banking yang work. Super app fill gap yang tidak ada di sana.
Selamat untuk Nadiem dan tim Gojek. Dari ojek app, sekarang infrastruktur sehari-hari. Saya akan tulis lagi ketika ada milestone berikutnya.

Komentar