0%
3 min left

Pokemon Go di Jakarta — Saat AR Berhenti Jadi Janji, Jadi Kenyataan

Pokemon Go di Jakarta — Saat AR Berhenti Jadi Janji, Jadi Kenyataan
← Kembali ke Blog

Sejak Pokemon Go launch official di Indonesia 6 Agustus, jalan-jalan Jakarta jadi berbeda. Orang dengan handphone di tangan, jalan ke arah yang random, berhenti tiba-tiba di pinggir jalan untuk swipe layar. Park-park di Senayan dan Monas penuh "trainer" — semua sedang catch Pokemon yang muncul di lokasi tertentu.

Dalam 2 minggu, Pokemon Go sudah mencapai puncak App Store dan Google Play. Pertumbuhan-nya luar biasa cepat. Tapi yang membuat ini menarik bukan angka popularitas. Yang menarik: ini pertama kalinya Augmented Reality (AR) jadi mass-market reality, bukan janji peneliti.

Saya download dan main 2 minggu pertama. Saya cancel after itu (gak punya waktu). Tapi observasi-nya tetap valid.

AR sudah dijanjikan selama 20+ tahun. Dari Google Glass yang flop, dari Microsoft HoloLens yang masih niche, dari research papers yang banyak. Janji-nya: dunia digital akan overlay di dunia fisik. Tapi sampai 2016, tidak ada aplikasi AR yang dipakai jutaan orang sehari-hari.

Pokemon Go mengubah itu. Dalam 30 hari, 100+ juta download globally. Indonesia salah satu pasar top 10. Tukang ojek, ibu rumah tangga, mahasiswa, professional — semua nge-trainer.

Apa yang Pokemon Go lakukan benar?

Pertama, AR sebagai feature, bukan platform. Pokemon Go tidak jual "AR". Mereka jual game Pokemon yang kebetulan pakai AR. User tidak peduli teknologi-nya — peduli karena Pokemon-nya muncul "di dunia nyata". AR jadi means, bukan end.

Kedua, IP yang kuat. Pokemon brand sudah dicintai 20+ tahun. Generasi 90-an di Indonesia (saya termasuk) yang dulu main Game Boy, sekarang nostalgia kembali. Bukan sekedar game baru — game baru dengan emotional connection yang sudah ada.

Ketiga, social + outdoor. Pokemon Go ngajak kita keluar rumah. Mengajak ketemu orang lain. Banyak teman saya yang dulu introvert, sekarang ngumpul di parks ngobrol-ngobrol soal trainer level. Game sosial yang fisik — itu jarang.

Tapi ada aspek concerning juga.

Pertama, location data. Pokemon Go track lokasi user dengan presisi tinggi. Data itu dimiliki Niantic, sebagian dipertukar dengan Google. Setelah Snowden 2013, kita seharusnya lebih hati-hati. Tapi pikirin? Banyak orang tidak peduli — "asal dapat Pokemon langka".

Kedua, monetisasi. Game-nya gratis, tapi monetisasi lewat in-app purchase. Sponsorship lokasi (mis. McDonalds sebagai Pokestop) sudah dipikirin. Dalam 1-2 tahun, akan ada banyak experimental monetization yang membuat experience kurang nyaman.

Ketiga, sustainability. Pokemon Go bisa repeat-curve seperti Angry Birds — peak sebentar, lalu fade. Atau bisa establish sebagai platform jangka panjang. Saya prediksi yang terjadi: hype akan turun signifikan dalam 6 bulan, tapi base 10-20 juta active user akan stay long-term.

Implikasi untuk industri kita di Indonesia?

Saya pikir: setelah Pokemon Go, AR akan jadi feature yang banyak app eksperimentasi. Lazada AR fitting room. Tokopedia AR untuk lihat barang di rumah sebelum beli. Gojek AR untuk navigation lebih akurat. Itu pemikiran-pemikiran yang sebelumnya futuristic, sekarang practical.

Yang saya sayangkan: belum ada AR experimental dari startup Indonesia yang signifikan. Kami import-konsumen yang adopt AR dari pemain global. Belum jadi creator yang push AR forward. Itu PR untuk komunitas tech Indonesia.

Saya akan delete Pokemon Go dari handphone saya (terlalu menghabiskan waktu). Tapi yang AR berhasil prove minggu ini, akan tinggal lama dalam memory industri saya.

Komentar

Memuat komentar…