0%
3 min left

Twitter IPO — Saat Social Media Jadi Industri

Twitter IPO — Saat Social Media Jadi Industri
← Kembali ke Blog

Tanggal 7 November lalu Twitter IPO. Ticker symbol TWTR. Open price $26, langsung tembus $45 di hari pertama. Valuation Twitter saat IPO: sekitar $14 miliar.

Saya tonton live stream IPO-nya pagi-pagi dari Jakarta. Jack Dorsey, Dick Costolo, dan tim Twitter di NYSE, dengan tradisi memukul bell pembukaan trading. Twitter terjual ke publik market. Untuk pertama kalinya, perusahaan yang saya tulis tentang-nya bertahun-tahun (sejak 2008) jadi entitas publik.

Itu transition yang penting buat industri kita. Mari saya bahas implikasi-nya.

Pertama, social media sekarang resmi jadi industri. Bukan lagi "hobi mahasiswa Stanford" atau "side project Silicon Valley". Twitter $14B + Facebook $130B (IPO 2012) = $144B di pasar yang setahun lalu tidak ada sebagai kategori IPO formal. Dalam 5 tahun, ini akan jadi salah satu kategori besar di stock exchange dunia.

Untuk Indonesia, ini berarti perusahaan lokal kita — kalau ada yang scale ke level itu — punya jalan exit yang jelas. Dulu, founder Indonesia exit lewat akuisisi (Koprol ke Yahoo, dll). Sekarang, dengan Twitter IPO model, exit lewat IPO publik market jadi opsi yang realistic, walaupun belum di Indonesia (kita harus list di NYSE atau Hong Kong).

Kedua, IPO membawa akuntabilitas yang baru. Sebagai perusahaan publik, Twitter harus disclose finansial setiap kuartal. Strategi mereka jadi material untuk investor. Setiap perubahan produk akan di-judge bukan hanya oleh user, tapi juga oleh Wall Street.

Ini bagus dan buruk. Bagus: pressure untuk konsistensi dan growth. Buruk: pressure untuk monetize aggressively, kadang dengan cara yang merusak experience.

Saya curiga Twitter akan mulai stuff lebih banyak ads di timeline. Akan ada "promoted tweets" yang lebih agresif. Akan ada pressure untuk feature seperti video ads, longer-form content (untuk lebih banyak ad inventory), brand partnership, dll. Setiap fitur monetization punya cost di sisi experience.

Pertanyaan: apakah Twitter bisa balance ini? Facebook bisa, meskipun banyak yang complain timeline-nya sekarang penuh ad. Twitter punya base user yang lebih demanding (tech-savvy, media, jurnalis). Mereka akan complain lebih keras kalau experience-nya rusak.

Ketiga, IPO Twitter validate format social media sebagai bisnis yang sustainable. Untuk waktu lama, ada doubt: bagaimana social media monetize? Jawaban-nya: ad-supported model. Mirip TV decades sebelum-nya, tapi dengan targeting yang jauh lebih precise. Untuk advertiser, Twitter (dan Facebook) lebih efisien dari TV. Untuk user, mereka dapat layanan gratis. Trade-off-nya: data dan attention.

Apakah model ini sustainable jangka panjang? Saya tidak yakin. Pertama, user akan jadi sadar tentang trade-off ini (Snowden helps). Kedua, ad blockers akan jadi mainstream. Ketiga, user young (teenager sekarang) lebih cynical tentang ads. Mungkin akan ada model baru — subscription, micropayments, sesuatu yang belum kita kenal.

Tapi untuk sekarang, dengan Twitter IPO, social media sudah punya tempat di industri formal. Itu progress yang penting. Selamat untuk Jack Dorsey dan tim Twitter. Mudah-mudahan tetap setia pada misi yang membuat saya tertarik pertama kali — give voice ke orang biasa, di seluruh dunia, untuk hal-hal yang penting.

Komentar

Memuat komentar…