Steve Jobs Meninggal — Membangun Produk yang Dicintai
Empat hari yang lalu, 5 Oktober, Steve Jobs meninggal. Saya tahu lewat Twitter, jam 11 malam, setelah saya selesai kerja dan baru buka HP di tempat tidur. Saya re-read tweet pertama beberapa kali. Saya cek apple.com — homepage mereka sudah ganti jadi foto Steve Jobs hitam putih dengan tanggal kelahiran-meninggal. Itu konfirmasi pertama yang bukan dari Twitter.
Saya tidak tidur sampai jam 3 pagi. Bukan karena saya kenal Steve Jobs personal — tentu tidak. Tapi karena dia adalah salah satu sedikit figur yang ngebentuk cara saya melihat industri ini. Saya pakai iPhone 3G yang pertama kali masuk Indonesia karena dia. Saya beli iPad pertama (akhirnya, bulan Maret kemarin) karena dia. Cara saya pikirin "experience" di web design, banyak dipengaruhi keynote-nya tentang detail.
Hari ini, 4 hari setelah, saya akan tulis bukan obituari — banyak yang sudah nulis itu, lebih bagus dari yang saya bisa. Saya akan tulis tentang satu pelajaran yang Steve Jobs ajarkan, yang menurut saya relevan untuk semua orang yang membangun sesuatu untuk dipakai orang lain.
Pelajarannya: produk yang dicintai berbeda dari produk yang berguna.
Banyak produk teknologi berguna. Microsoft Office berguna. Yahoo Mail berguna. Symbian phones berguna. Mereka melakukan apa yang mereka janjikan. Tapi tidak ada yang menangis ketika Office tidak ada update setahun. Tidak ada yang antre 6 jam untuk Yahoo Mail upgrade. Tidak ada yang nostalgia Symbian phone-nya.
Apple beda. Ketika iPhone 4S launch minggu lalu (juga di acara yang sama dengan death announcement), antrian di Apple Store di Singapore mengular sampai luar mall. Bukan karena 4S secara fitur jauh lebih superior dari iPhone 4. Tapi karena orang merasa connected dengan produk Apple. Mereka cinta.
Bagaimana Apple bisa bikin produk yang dicintai? Saya pikir, dari berbagai keynote dan interview Steve Jobs yang saya tonton bertahun-tahun, ada tiga hal:
Pertama, obsessive attention to detail. Tidak ada satu detail-pun di produk Apple yang muncul tanpa dipikirin. Border radius di tombol. Bunyi notifikasi. Cara box-nya dibuka. Semua dipertimbangkan. Banyak detail itu tidak akan disadari user secara sadar — tapi accumulated, mereka membuat experience terasa "premium".
Kedua, willingness to say no. Steve Jobs terkenal kejam dalam memotong fitur. iPhone pertama tidak punya copy-paste, tidak punya video record, tidak punya 3G. Banyak yang complain. Tapi dengan menolak fitur yang belum siap, Apple bisa fokus pada apa yang mereka tetapkan dan eksekusi dengan sempurna. Indonesia mass market pasti pernah dengar peribahasa "jangan ngejar banyak tujuan sekaligus". Steve Jobs hidup peribahasa itu.
Ketiga, dan paling sulit dijalankan: kepedulian terhadap user yang lebih dalam dari user sendiri. Steve Jobs sering bilang "people don't know what they want until you show it to them". Itu bisa terdengar arrogant — tapi sebenarnya itu pernyataan tentang empati yang dalam. Kamu harus tahu user lebih baik dari mereka tahu diri sendiri, lalu beri mereka sesuatu yang mereka tidak tahu mereka butuhkan.
Saya rasa, sebagai developer 24 tahun di Telkom Group Indonesia, saya tidak akan pernah membangun sesuatu sebesar iPhone. Tapi ide tentang "produk yang dicintai vs produk yang berguna" — itu akan menemani saya seumur hidup. Setiap kali saya design tombol, setiap kali saya pilih font, setiap kali saya bilang ya atau tidak ke feature request — saya akan ingat ini.
Terima kasih Steve.

Komentar