Path Tembus 5 Juta User — Indonesia Sekarang Pasar Sosmed yang Diperhitungkan
Seminggu lalu Path resmi umumkan 5 juta user global. Yang menarik bukan angka totalnya — tapi composisi-nya. Menurut data internal yang sempat di-share Dave Morin (CEO Path) di TechCrunch Disrupt, hampir 30% dari user mereka berasal dari Indonesia.
30 persen dari user global, dari satu negara. Itu jumlah yang membuat startup Silicon Valley terdiam.
Saya tulis tentang Path setahun lalu — tentang bagaimana di Indonesia Path adopt-nya jauh lebih cepat dari US. Sekarang, dengan data 5 juta user, ada yang lebih besar yang sedang terjadi: Indonesia mulai diakui sebagai pasar social media yang harus dipertimbangkan secara serius.
Apa implikasinya? Saya pikir ada beberapa.
Pertama, perusahaan Silicon Valley sekarang harus punya "Indonesia strategy" yang real. Bukan sekedar add bahasa Indonesia ke menu pilihan. Tapi tim yang on-the-ground (atau setidaknya frequent visit), partnership dengan operator lokal, pemahaman tentang kapan ramadan, kapan Pilkada, kapan harga BBM naik. Hal-hal yang bisa membuat traffic spike atau drop.
Path sudah mulai. Mereka hire orang di Singapore untuk handle Asia. Mereka kerjasama dengan Telkomsel untuk paket data Path-only. Mereka muncul di acara-acara di Jakarta. Itu bukan akting — itu strategi.
Kedua, investor lokal akan mulai dapat respect dari peers global. Sebelumnya, Indonesia VC sering dianggap "secondary market" — datang setelah deal sudah closed di Singapore atau Silicon Valley. Sekarang, kalau ada startup Indonesia yang dilirik investor lokal pertama, itu bisa jadi sinyal pengaruh.
Ketiga, dan ini paling personal: developer Indonesia akan mulai punya ambisi yang lebih global. Beberapa tahun terakhir, mimpi developer Indonesia adalah kerja di Garena (Singapore) atau Google (Mountain View). Sekarang, dengan Path dan beberapa startup lokal yang growing (Tokopedia, Bukalapak, Berrybenka), mimpi lain mulai muncul: bangun produk di Indonesia, yang relevan untuk 240 juta orang Indonesia, yang dapat valuasi internasional.
Saya tidak bilang ini jalan yang mudah. Ada banyak constraint — talent pool yang masih kecil, infrastruktur internet yang masih lambat di luar kota besar, ekosistem investor yang masih thin. Tapi pintu sudah terbuka.
Yang saya tidak yakin: apakah Indonesia akan bisa sustain momentum ini. Path tembus 5 juta sebagian besar karena novelty + good timing. Mempertahankan engagement di 5 juta user butuh roadmap product yang konsisten. Saya rasa banyak user Indonesia akan churn ke yang berikutnya — apakah itu Instagram (yang baru dibeli Facebook), Snapchat (yang lagi naik di US untuk teenager), atau sesuatu yang belum kelihatan.
Pelajaran-nya buat saya, sebagai engineer di Telkom Group yang sehari-hari bangun produk untuk pasar Indonesia: kita sekarang punya bargaining power yang lebih besar. Vendor sosmed global akan dengar suara kita lebih nyaring. Itu kesempatan — kalau kita pakai dengan bijaksana.
Sementara itu, friend slot saya di Path sudah maksimal. Saya selektif siapa yang saya add. Itu privilege yang dibawa Path: di tengah dunia digital yang ramai, ada satu tempat yang sengaja kita buat kecil.

Komentar