0%
3 min left

Koprol Diakuisisi Yahoo: Apa Artinya untuk Tech Ecosystem Indonesia

Koprol Diakuisisi Yahoo: Apa Artinya untuk Tech Ecosystem Indonesia
← Kembali ke Blog

Tanggal 25 Mei kemarin Yahoo akuisisi Koprol. Headline yang kelihatan kecil di media nasional, tapi yang saya rasa monumental untuk ekosistem teknologi Indonesia.

Buat yang tidak ikut, Koprol adalah social networking startup Indonesia yang fokus pada lokasi. Bayangkan Foursquare versi Indonesia, tapi datang setahun lebih awal. Kita "koprolan" di tempat — Pacific Place, Sarinah, Gedung Telkom, kafe di Cihampelas — lalu lihat teman-teman yang sedang di tempat yang sama atau dekat-dekat. Konsep yang sederhana, eksekusi yang lokal.

Yang dibikin Yahoo akuisisi: undisclosed amount, tapi rumor di kalangan startup Jakarta bilang sekitar US$5-10 juta. Untuk founder Koprol — Satya, Daniel, dan tim — ini exit yang signifikan. Untuk komunitas startup Indonesia, ini bukti pertama bahwa startup teknologi lokal bisa mencapai valuation internasional.

Saya rasa ini momen penting karena beberapa alasan.

Pertama, Yahoo memilih akuisisi, bukan replikasi. Mereka punya engineer di Silicon Valley yang bisa bikin clone Foursquare untuk Indonesia dalam 3 bulan. Tapi mereka tidak. Mereka beli — yang artinya mereka melihat nilai bukan cuma di tech-nya, tapi di tim, komunitas, dan local insight. Itu validasi bahwa understanding lokal Indonesia bernilai untuk pemain global.

Kedua, ini akan mendorong VC asing untuk lebih serius lihat Indonesia. Sebelumnya, pasar tech startup di Asia Tenggara dianggap "Singapore-saja" atau "Bangkok-mungkin". Indonesia dengan populasi 240 juta tapi infrastruktur internet yang masih tumbuh, dianggap terlalu awal. Akuisisi Yahoo ini sinyal: ada exit di Indonesia, jangan tunggu kelamaan.

Ketiga, dan yang paling personal, ini menginspirasi generasi developer Indonesia seperti saya. Selama ini cita-cita kebanyakan kita: kerja di Telkom, atau di outsourcing company yang serve klien Singapore/Australia. Bikin startup sendiri terasa terlalu jauh, terlalu beresiko, terlalu kurang sumber daya. Koprol membuktikan: tim kecil di Jakarta bisa membangun produk yang dilirik Yahoo. Ini akan mengubah aspirasi banyak orang.

Tapi ada juga catatan kritis yang saya pikirin.

Apakah Yahoo akan tahu apa yang harus dilakukan dengan Koprol? Sejarah Yahoo akuisisi tidak terlalu cemerlang. Flickr — yang mereka beli 2005 — sekarang mulai kehilangan momentum karena Yahoo tidak invest cukup. Delicious yang dulu dominan, sekarang sudah tidak relevan. Yahoo punya track record menyerap startup, tidak men-scale-nya.

Saya khawatir Koprol akan ke sana. Tim founders mungkin akan stay 1-2 tahun untuk earn-out, lalu pergi. Produk akan dimasukkan ke Yahoo! Local Indonesia atau apapun, dan kehilangan vibe-nya yang grassroots. Komunitas Koprol yang sekarang aktif, akan tergerus karena Yahoo akan coba "improve" sesuai standar global yang tidak match dengan Indonesia.

Mudah-mudahan saya salah. Mudah-mudahan Yahoo belajar dari pengalaman Flickr dan lebih hands-off kali ini.

Sementara itu, untuk komunitas startup Indonesia: gas. Pintu yang Koprol buka tidak akan terbuka selamanya. Sekarang waktunya bangun.

Komentar

Memuat komentar…