0%
3 min left

iPhone 5: Apple Mengubah Form Factor — Pelajaran tentang Konsistensi

iPhone 5: Apple Mengubah Form Factor — Pelajaran tentang Konsistensi
← Kembali ke Blog

Minggu lalu Apple launch iPhone 5. Untuk pertama kalinya sejak iPhone original, mereka ubah dimensi layar — dari 3.5 inci jadi 4 inci. Bukan revolusi besar; cuma extra row icon di home screen. Tapi untuk Apple yang terkenal kompulsif dengan konsistensi, ini perubahan besar.

Saya tonton keynote-nya lewat live stream tengah malam waktu Jakarta. Tim Cook on stage. Phil Schiller jelas-jelas Phil. Tidak ada Steve Jobs — sudah hampir setahun sejak meninggal. Tapi format keynote-nya sama: simple slide, dramatic reveal, "one more thing" buat lebih kecil.

Yang menarik buat saya: kenapa Apple akhirnya ubah form factor sekarang, padahal selama 5 generasi iPhone (3G, 3GS, 4, 4S, 5) tetap di 3.5 inci?

Jawaban resmi: thumb reach. Apple bilang 4 inci masih bisa di-reach pakai thumb tanpa shifting grip. 4.5 inci atau lebih, mulai uncomfortable. Mereka tetap pada filosofi "phone harus operable one-hand".

Tapi yang sebenarnya, saya pikir: tekanan kompetitif. Samsung Galaxy S III rilis Mei lalu dengan layar 4.8 inci. Android phone mulai trend ke layar besar. Pasar Indonesia yang dulu fokus iPhone, sekarang banyak yang pindah ke Galaxy karena layar lebih besar (asumsi mereka: layar besar = harga premium = lebih berguna). Apple harus respond.

Tapi mereka respond dengan minimal change. 4 inci, bukan 4.5. Bukan 4.8. Bukan 5.

Itu yang membuat saya kagum.

Konsistensi adalah nilai yang sering underrated dalam product. Konsistensi membuat user tahu apa yang mereka akan dapat. Konsistensi membuat developer tahu apa yang harus build. Konsistensi membuat brand jadi kuat.

Tapi konsistensi juga ada cost: kadang produk kita tertinggal dari market trend. Pertanyaan-nya: kapan kita ubah, dan seberapa banyak kita ubah?

Apple iPhone 5 kasih jawaban yang elegan. Mereka ubah, tapi seminimal mungkin. Mereka mengakui tekanan market, tapi tidak menyerah pada principle "thumb-reach". Mereka kompromi yang principled — bukan reaktif.

Saya rasa, ini pelajaran yang bisa dipakai di semua produk. Di Metranet, kami sering hadapi pertanyaan: "kompetitor X sudah punya fitur Y, kita harus follow gak?". Reaksi default: follow. Tapi Apple iPhone 5 ingatin saya: ada cara yang lebih baik. Pertama tanya: kenapa kompetitor punya fitur itu? Berapa banyak user kita yang benar-benar butuh? Apakah ada cara melayani kebutuhan itu yang lebih konsisten dengan principle produk kita?

Kalau jawabannya "tidak ada cara konsisten" — then follow. Tapi kalau ada — kompromi yang principled lebih bagus.

Saya akan beli iPhone 5 (akhirnya saya upgrade dari 3G yang sudah tidak supported iOS 6). Tapi yang akan saya ingat lebih lama dari handphone itu: cara Apple navigate pressure pasar dengan tetap setia pada nilai mereka.

Komentar

Memuat komentar…